Stoick facing one of the wildest dragons

Bayangkan adegan ini: arena tertutup dengan atap jeruji besi, beberapa rak senjata berisi tameng dan kapak, serta penonton yang bersorak riuh. Sekilas, salah satu adegan paling seru dalam film animasi How to Train Your Dragon (2010) ini mirip dengan kontes gladiator. Tetapi acara tersebut adalah ajang bagi anak-anak bangsa Viking untuk diakui sebagai keturunan Nordic sejati: berlatih membunuh naga!

Naga mungkin merupakan makhluk fantasi paling cool dalam bayangan anak-anak. Ular raksasa bersayap, dengan cakar tajam, dan bisa menyemburkan api; hewan apa lagi yang lebih hebat dari itu? Dengan visualisasi dan warna-warna yang cermerlang, Chris Sanders dan Dean DeBlois menuangkannya ke dalam layar 3D tentang seorang anak yang dianggap remeh, namun memiliki visi yang merevolusi budaya bangsa Viking selama ratusan tahun. Saya sudah lama mencintai film-film garapan Pixar. Namun setelah menyaksikan Hiccup terbang a la Avatar bersama naganya, rasa itu harus dibagi dua kepada DreamWorks.

How to Train your Dragon diangkat dari novel anak-anak berjudul sama karangan Cressida Cowell (2003).  Dikisahkan pada zaman dahulu kala, bangsa Viking yang tinggal di kepulauan Berk harus menghadapi “serangan” rutin para naga yang berusaha mencuri cadangan makanan. Stoick the Vast sang kepala suku (suara diisi dengan gaya 300 oleh Gerard Butler), menjadi terobsesi dan mengajak pasukannya untuk mencari sarang berbagai macam spesies naga tersebut dan menghancurkannya.

Sialnya, successor Stoick yang tidak lain adalah putranya sendiri, Hiccup (dengan vokal yang mengesankan oleh Jay Baruchel), justru tidak bisa diharapkan menjadi petarung dalam membunuh naga. Jangankan mengayunkan pedang, bersembunyi saja dia tidak becus. Fisiknya lemah, dan malah lebih berbakat menjadi pandai besi, suatu hal yang selalu dijadikan bahan ledekan oleh teman-teman sebayanya. Walaupun ia putra semata wayang kepala suku, cap pecundang sudah melekat padanya.

Namun, situasi berubah ketika Hiccup menyelamatkan seekor Night Fury yang cedera. Naga hitam yang ia beri nama Toothless tersebut adalah spesies paling buas dan bahkan tidak tercantum keterangannya di dalam Buku Panduan Naga. Melalui persahabatannya dengan Toothless, Hiccup pun berhasil menemukan trik-trik untuk menjinakkan naga-naga yang paling liar sekalipun. Meski harus berseberangan dengan sang ayah, Hiccup dengan filosofi Emersonian-nya tetap ingin mengubah paradigma masyarakat Viking bahwa manusia harus ‘bersahabat’ dengan alam, bukan malah menghancurkannya. How to Train Your Dragon menjadi istimewa dengan skrip yang cukup berbobot, cerdas, sedikit sinisme, dan kearifan-kearifan dasar yang bagus untuk ditonton oleh anak-anak.

Efek tiga dimensi membuat aksi-aksi akrobatik para naga di udara yang seakan meloncat ke luar layar dan lanskap kepulauan Berk yang indah menjadi pengalaman yang seru, tidak terkecuali bagi penonton dewasa. Sebagai film kartun, How to Train Your Dragon menjanjikan cerita heroisme yang epik, haru-biru, dengan konsekuensi logis yang harus diterima oleh sang tokoh utama di akhir cerita. Film ini terlihat sangat ambisius. Dan, apakah Pixar akan tinggal diam? Saya tidak akan heran jika nanti ada animasi tandingan tentang makhluk fantasi lainnya. Phoenix, barangkali?