Sosok detektif yang elegan, dingin dan serius adalah ciri-ciri Sherlock Holmes yang telah berada di relung bawah sadar semua orang. Namun, setelah 75 aktor memerankan Holmes dalam lebih dari 200 film, bisnis layar lebar butuh sesuatu yang segar dan baru. Oke, lalu bagaimana dengan detektif petarung yang bertelanjang dada? Sutradara muda Inggris, Guy Ritchie memoles tokoh detektif terbesar sepanjang masa itu dengan gaya yang cuek, urakan, bahkan jorok; jauh berbeda dari Holmes versi Basil Rathbone yang klimis. Holmes versi Ritchie adalah detektif rock n’ roll, ceplas-ceplos, namun tetap cerdas dengan kemampuan deduksi dan membaca jejak tiada tara. Sungguh, saya sanget respek dengan kreatifitas macam ini.

Gambaran seperti ini rupanya justru paling mendekati sosok Holmes rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Detektif pecandu kokain tersebut dalam kesehariannya sangat menggemari beladiri. Dalam novel The Sign of the Four, sang pengarang juga sempat menyebutkan bahwa Holmes adalah seorang petarung, yang andal baik dengan tangan kosong, senjata tajam maupun pistol. Namun Sir Arthur tidak sempat mendalaminya. Nah, hal inilah yang dieksplorasi habis-habisan dalam Sherlock Homes (2009). Singkatnya, Holmes “baru” ini adalah detektif yang menggunakan otak dan otot. Ritchie memadukan keduanya dengan kemampuan Holmes untuk mengkalkulasi akibat dari setiap gerakannya dengan teknik slow motion, sehingga memberikan kesempatan pada penonton untuk mengagumi daya analisis sekaligus kekuatan tinju Holmes! Jika Sir Arthur masih hidup, beliau akan menjabat tangan Ritchie..

Syahdan, Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) dan rekannya Dr. John Watson (Jude Law) dibayar untuk memburu kriminal berbahaya bernama Lord Blackwood (Mark Strong) yang meneror masyarakat London dengan ilmu hitam. Bekerjasama dengan kepolisian Scotland Yard, mereka berhasil menangkap Blackwood untuk digantung. Namun, Blackwood berhasil “bangkit” dari kubur dan membunuhi korbannya satu-persatu. Kali ini Holmes harus menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghentikan Blackwood.

Aksi duel dan kejar-kejaran plus ledakan mewarnai kisah penyelidikan Holmes yang tidak lazim ini di kota London era Victoria akhir abad ke-19 yang kumuh, dark, dan penuh dengan pembangunan infrastuktur— menandai revolusi industri di negara tersebut. Mereka menjelajahi saluran air bawah tanah, penggilingan daging, sampai ke puncak Tower Bridge yang sedang dibangun. Holmes dan Watson pun masih keluar masuk flat nomor 221B Baker Street yang legendaris itu, ditemani seekor bulldog lucu yang sering menjadi korban eksperimen sang detektif. Diiringi dengan score dan musik yang dinamis, film ini membuat Anda susah berkedip. Dan sebagaimana lazimnya cerita-cerita detektif, Holmes membeberkan hipotesisnya dengan brilian di hadapan sang musuh pada adegan pamungkas. Saya salut dengan keempat penulis skenario Sherlock Holmes, tapi sayangnya semua hal di atas tidak akan banyak diingat orang.

Terlalu Dominan
Atraksi utama dari film calon franchise laris ini adalah Robert Downey Jr. Dengan aksen Inggris lumayan (berkat pengalaman memerankan komedian Charlie Chaplin), aktor cerdas ini mampu menyuguhkan karakter berbeda dari Sherlock Holmes konservatif. Holmes versi Downey Jr. adalah kombinasi kejeniusan McGyver dan kesintingan Jack Sparrow. Ia memerankan karakter post-modern yang jauh “melompati” zamannya. Ritchie tentu paham bahwa karakterisasi semacam ini hanya akan menyenangkan kelompok penonton tertentu saja.

Sosok Homes tentu tidak bisa lepas dari Watson, yang diperankan cukup baik oleh Jude Law (pers Inggris menjulukinya “hot Watson” karena memberikan dimensi baru bagi imej dokter tersebut). Persahabatan Holmes-Watson ditampilkan dengan atmosfer benci tapi rindu, mirip pasangan suami istri menopause yang selalu bertikai karena hal-hal sepele setiap hari. Watson selalu “cerewet” dan mengkritik setiap tindak-tanduk Holmes, sebaliknya Holmes pun berusaha mencegah Mary Morstan (Kelly Reilly) menjadi kekasih Watson agar ia tidak ditinggal sendirian. Dialog-dialog cerdas dan nakal berhamburan dari mulut mereka. Kita mungkin menangkap kesan homoerotika di dalamnya, namun kadarnya tidak berlebihan, sehingga tidak akan terlihat sebagai Brokeback Mountain jilid dua.

Namun, dua tokoh tersebut terlalu dominan sepanjang 130 menit cerita. Dengan plot yang super cepat, karakter antagonis seperti Blackwood, Coward (Hans Matheson), Irene Adler (Rachel McAdams), Insp. Lestrade (Eddie Marsan) dan lainnya terlihat seperti setumpuk koran bekas yang siap dibuang saja. Blackwood susah disamakan dengan Joker dalam film The Dark Knight, misalnya, yang begitu sulit dilupakan penonton. Seperti yang diduga, Irene Adler hanya tampil sebagai pelengkap penderita, sehingga gagal total meyakinkan saya kalau perempuan ini memang tandingan setara Holmes. Bagi Ritchie, dekonstruksi penokohan Holmes adalah segala-galanya.

Ya, ini adalah film tentang dua pria yang terpanjang di poster Sherlock Holmes tersebut, tidak lebih (dan semoga mereka mendapatkan piala untuk itu). Bisa dipahami, bahwa Ritchie memang dibayar oleh Warner Bros. untuk mempersiapkan sebuah franchise, sehingga sosok Holmes “baru” tersebut harus melekat dahulu di hati penonton (muda). Mengutip Leslie S. Klinger, editor buku The New Annotated of Sherlock Holmes, “It’s like new wine in old bottles.” Pekerjaannya tidak mudah karena ia sedang menjungkirbalikkan imej detektif ternama yang sudah terpatri di benak setiap orang.

Untuk itu, Sherlock Holmes membuka pintu untuk film kedua, karena masih ada lawan berat yang sedang menunggu sang detektif: Profesor Moriarty (konon akan diperankan oleh Brad Pitt). Kita tunggu sekuel “panas” itu, Mr. Ritchie!