James Cameron. Dialah penyebab semua chaos ini. Lima belas tahun yang lalu, sutradara film Titanic itu mengeluh karena imajinasi “liarnya” belum bisa dituangkan ke dalam layar lebar disebabkan keterbatasan teknologi sinematografi. Namun seiring berkembangnya digitalisasi, 3D, CGI apa pun menjadi mungkin. Film terbarunya, Avatar (2009), adalah sebuah terobosan, sesuatu yang tidak mungkin ditonton tanpa teriakan “wow!” atau “edan!”. Saya pikir, mungkin inilah yang dirasakan oleh orang-orang pada tahun 1933 pada saat menonton film King Kong untuk pertama kalinya.

Kali ini, penonton dibawa ke planet Pandora pada gugusan galaksi baru yang akhirnya ditemukan oleh manusia pada tahun 2154. Jake Sully (Sam Worthington), seorang mantan marinir yang lumpuh, ditugasi untuk menjajaki kemungkinan bernegosiasi dengan kaum Na’vi, makhluk pribumi, agar mereka segera meninggalkan pohon besar yang selama ini menjadi “sarang” mereka. Pohon keramat itu ternyata menyimpan sumber mineral langka unobtanium, yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis energi di planet Bumi.

Namun, karena udara di planet Pandora tidak cocok bagi manusia, para ilmuwan mengembangkan program Avatar, yaitu membuat replika makhluk Na’vi. Dengan rekayasa DNA dihasilkan kloning makhluk setinggi tiga meter, berekor, dan berwarna biru pucat itu. Dengan menggunakan kekuatan pikiran, makhluk kloning itu dipakai untuk berinteraksi dengan kaum Na’vi asli. Jake pun mulai mengeksplorasi kehidupan yang eksotis di planet tersebut.

Tetapi, perlahan-lahan Jake mulai menaruh respek terhadap cara hidup kaum Na’vi. Ia juga jatuh hati kepada Neytiri (Zoe Saldana), anak sang kepala suku. Seperti yang diduga, Jake akhirnya menjadi bagian dari mereka untuk menentang invasi makhluk bumi, eh, manusia di Pandora. Tanpa mengurangi sedikitpun level kecanggihan visualisasinya, penonton mulai terseret ke dalam emosi karakter-karakter yang diciptakan Cameron.

Avatar menawarkan pengalaman baru dalam menonton film. Tidak ada adaptasi atau daur ulang di dalam film ini. Semuanya murni inovasi dan imajinasi. Film ini merombak teori bahwa filmblockbuster hanya berasal dari adopsi novel best-seller (Harry Potter, Twilight), komik (Batman, Spiderman), mainan (Transformers) dan lain sebagainya. Mungkin kita telah berulangkali menonton film dengan plot yang serupa, tapi dengan kehebatan teknik visualisasi dan kreativitas Cameron, semuanya tampak berbeda dalam Avatar.

Semangat anti-imperialisme mewarnai film ini, dengan menampilkan konflik klasik antara para penggiat lingkungan dengan pemerintah yang cenderung korup. Avatar merefleksi kerakusan sebagai sifat dasar manusia, yang suka merusak alam tanpa memedulikan kelangsungan ekosistem yang ada di dalamnya. Dari segi cerita, Avatar mungkin belum sedalam dan sekolosal Trilogi The Lord of the Rings, namun ia tetap layak dinobatkan sebagai film tahun ini.

Film ini akan semakin istimewa jika disaksikan di bioskop dengan kacamata khusus. Rasanya belum ada film yang “benar-benar diciptakan” untuk ditonton secara 3D sebaik Avatar. Durasi yang nyaris tiga jam tidak akan terasa, karena setiap menit dari film ini adalah petualangan dan penemuan baru. Cameron benar-benar edan!