Diadaptasi dari novel yang begitu populer dan diarahkan oleh sutradara hebat, film Sang Pemimpi sebenarnya memiliki amunisi lengkap untuk menyerbu pasar. Ekspektasi penonton pasti tinggi sekali, karena prekuelnya, Laskar Pelangi sukses besar: ditonton oleh hampir lima juta orang dan meraih berbagai penghargaan, salah satunya sebagai film terbaik dalam Asia-Pacific Film Festival baru-baru ini.

'Lolongan Arai akhirnya berhasil meluluhkan hati Zakiah Nurmala

Tetapi dari segi narasi, terlepas apakah penilaian ini subjektif atau bukan, saya menganggap Sang Pemimpi lebih baik dari ketiga novel lainnya dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Dengan tokoh-tokoh yang tidak terlalu ’ramai‘ seperti pasar, ceritanya juga mengalami ‘kemajuan’ drastis karena lebih dalam dan filosofis,  nyaris tanpa sub-plot yang tidak penting dan deskripsi yang berpanjang-panjang . Namun, mengadaptasinya menjadi naskah film tentu lain persoalan. Seperti yang diketahui, Andrea Hirata selalu membuat cerita yang terpecah-pecah yang disebutnya sebagai ‘mozaik’ dan kadang tidak paralel. Dengan durasi yang lebih dari dua jam, Riri Riza terlihat hati-hati sekali agar tidak menghilangkan detil cerita sekaligus membuat sebuah alur cerita yang ‘lurus’ agar film menjadi fokus. Satu-persatu mozaik itu dirangkai, dihidupkan oleh gambar-gambar dengan kontrol aperture yang indah dan beberapa di antaranya terlihat ’sangat‘ Belitong.

Tahun 1985. Ikal (Vikri Septiawan) yang telah beranjak remaja pergi meninggalkan teman-teman Laskar Pelangi-nya sewaktu di sekolah dasar. Ia menetap di desa Manggar bersama Arai (Rendy Ahmad) sepupunya yang hidup sebatang kara setelah ditinggal mati ibu bapaknya. Selain itu, ada Jimbron, si gagap yang juga ditinggal mati orang tuanya. Diceritakan suka duka hidup mereka yang jauh dari keluarga; menyewa sebuah gubuk untuk bertiga dan mau bekerja apa saja untuk membiayai sekolah dan menabung demi mimpi kuliah di Eropa.

Seperti halnya film-film dengan tema remaja lainnya, Sang Pemimpi juga menawarkan masalah-masalah anak muda dengan pakem yang kurang lebih sama: pencarian jati diri dan seksualitas, persahabatan, dan ketertarikan dengan lawan jenis. Namun tentu saja film ini tidak menceritakan percintaan remaja urban yang banal dan semau gue. Kesungguhan cinta Arai kepada Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda) seperti Zainuddin kepada Hayati, tokoh-tokoh ciptaan Hamka dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Cinta tulus yang hadir ketika sang lelaki berdendang di depan rumah sang kekasih hanya untuk melihat wajahnya di jendela. Romantisme mereka mencapai puncaknya ketika saling melambaikan tangan saat perpisahan: “Tunggulah abang pulaaaang…” Klasik!

Namun, mereka bukanlah karakter-karakter individualistik, yang memiliki kontrol mutlak terhadap masa depan mereka. Ikal dan Arai memang terobsesi dengan Universitas Sorbonne Paris, tetapi pilihan hidup apa yang dimiliki oleh anak-anak kuli timah? Sebenarnya mereka sangat sadar bahwa sekolah menengah atas itu hanyalah ‘tipu muslihat’ selama tiga tahun sebelum nasib menyeret mereka untuk bergabung dengan bapak-bapak mereka menyekop xenotym di pertambangan. Mereka hanya bisa bermimpi dan memupuk optimisme dalam-dalam. “Kalau tidak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati,” begitu pesan Arai kepada Ikal.

Ada saat-saat ketika mereka terperosok dalam sikap ‘realistis’ yang pelan-pelan menggerogoti mimpi-mimpi itu. Ikal mulai malas masuk sekolah, tabungannya terpaksa dikuras untuk membantu perekonomian keluarga dan sering cekcok dengan kedua sahabatnya. “Kau saja yang pergi ke Paris!” teriaknya pada Arai, yang tidak henti memberinya semangat. Ikal melampiaskannya dengan bekerja pada seorang pemilik kapal yang justru menggangap sekolah bukanlah jalan mencapai keberhasilan.

Beruntung mereka dikelilingi oleh tokoh-tokoh pendukung yang baik. Sang ayah (Mathias Muchus) seperti biasa, dengan karakternya yang sangat kuat, mampu membuatmu menangis sekaligus tertawa hanya dengan dua tiga patah kata dan permainan mimik muka. Ia mengingatkan kita akan figur yang dapat menjadi panutan. Melihat ayahnya yang mengayuh sepeda sejak subuh dari rumah, Ikal tidak punya pilihan selain memperbaiki nilai rapornya yang sempat anjlok. Selain itu ada Bang Zaitun (Jay Subiyakto) sang musisi eksentrik, Pak Balia (Nugie) sang guru motivator, dan Pak Mustar (Landung Simatupang) sang Kepala Sekolah killer namun berhati lembut, sebagai katalisator yang membuat Arai dan Ikal tetap bisa menjaga mimpi-mimpi mereka.

Tidak Banyak Dialog
Film dibuka dengan adegan yang tidak biasa. Mengenakan baju safari empat saku kesayangannya, ayah Ikal mengayuh sepeda menyusuri jalan menuju SMA Negeri Manggar untuk mengambil rapor anak-anaknya. Hening dan bersahaja. Ketika bertemu Ikal dan Arai pun, ia hanya mengangguk dan mengucapkan salam, setelah itu pergi. Setia kepada novelnya, hubungan ayah dan anak ‘tanpa kata-kata’ ini cukup sukses dipertahankan Riri Riza sepanjang cerita.

Namun keheningan tersebut, dalam perspektif yang berbeda, sekaligus menjadi kekurangan film ini, yaitu minimnya dialog antar tokoh. Lukman Sardi yang memerankan Ikal dewasa cenderung bermonolog karena berperan sebagai narator cerita. Nugie dan Landu Simatupang sebenarnya memerankan sosok guru dengan pas, tetapi mereka juga seperti ‘berbicara sendiri’ menghadapi murid-murid yang pasif dan tidak banyak omong. Konflik-konflik yang terjadi antara Ikal, Arai dan Jimbron pun terasa kurang gregetnya, karena tidak ada dialog-dialog yang dapat menunjukkan kemampuan akting yang mumpuni. Zakiah Nurmala bahkan tidak bicara sepatah kata pun. Di sisi ini, Sang Pemimpi tidak dapat memenuhi ekspektasi kelompok penonton yang mengharapkan para pemain saling lempar argumen panjang dengan dialog-dialog cerdas.

Saya rasa, mungkin inilah risiko yang harus diambil oleh sutradara dalam mengadaptasi novel yang ‘menuntut’ begitu banyak adegan filmis  yang, jika dihilangkan, dapat merusak tatanan mood yang telah dibangun para penonton yang sejak awal membaca novel Sang Pemimpi. Karena dalam film kita berbicara tentang durasi,  konsekuensinya tentu saja tidak banyak dialog yang bisa ditampilkan. Instalasi berikutnya, Edensor, diharapkan dapat menebus kekurangan ini.

Walaupun begitu, secara keseluruhan Sang Pemimpi menjadi film penutup tahun yang bagus. Film ini menurut saya berhasil mengesampingkan film-film ‘tidak jelas’ yang sepanjang 2009 merecoki gerai-gerai bioskop. Saya menyebutnya sebagai distraksi kreatif terhadap perhatian masyarakat kita yang mulai lupa bahwa film Indonesia juga bisa bicara.

***