Karena terlalu sering menonton drama, saya hampir lupa bagaimana cara menikmati film Sci-Fi yang penuh adegan brutal dengan efek visual sepanjang cerita. Saya seringkali berganti-ganti posisi duduk, salah tingkah, bingung dan was-was kalau-kalau film ini ternyata buruk dan “Ya Tuhan, apakah saya akan membuang-buang waktu selama dua setengah jam di sini?” Untung saya nonton sendirian.

megan fox and the machines

Tapi bioskop itu selalu penuh sampai deretan bangku paling bawah dan tiketnya bahkan sudah habis empat jam sebelum tayang. Tandanya animo masyarakat begitu tinggi dan saya akhirnya mengantri demi menonton Transformers: Revenge of The Fallen (2009). Saya sudah memasang ekspektasi yang rendah walaupun ada nama Steven Spielberg dan Michael Bay di dalamnya, serta Megan Fox yang mungkin diekspos secara maksimal untuk keperluan visual semata.

Ada yang tidak tahu Transformers? Generasi 1980an mungkin sudah akrab dengan serial kartun berjudul The Transformers yang dulu pernah ditayangkan di televisi lokal. Mereka adalah kaum robot yang berasal dari planet Cybertron, yang kemudian terpecah menjadi dua kubu: Autobots yang dipimpin oleh Optimus Prime (protagonis) dan Decepticons yang dipimpin oleh Megatron (antagonis). Para robot tersebut bisa bertransformasi menjadi berbagai bentuk kendaraan, perkakas, dan binatang. Mereka hidup berdampingan dengan manusia dengan ukuran yang elastis, bisa mengecil dan membesar. Semuanya mendapatkan energi dari sebuah ‘kunci’ yang disebut dengan Matrix of Leadership (ah, bagi yang tidak tahu apa-apa tentang Transformers, tidak usah pusing, karena masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan).

Kembali pada prequel-nya Transformers, Megatron yang sekarat ternyata tidak mati. Ia kembali mengumpulkan energi dan menghimpun pasukan dari luar angkasa atas perintah The Fallen. Pada saat yang tepat, ia meluncur ke Bumi dan berhasil menamatkan riwayat sang Optimus Prime yang selama ini melindungi planet dari serangan Decepticons. Sedangkan Sam Witwicky (Shia LeBeouf) dan Mikaela Banes (Megan Fox) berada di tengah-tengah pertarungan kedua kubu tersebut dengan misi menghidupkan kembali Optimus Prime untuk pertarungan final melawan Megatron dan pasukannya.

Yang terjadi kemudian adalah suara dentingan besi, ledakan besar, tabrakan keras dan deru peluru non-stop yang mendominasi, bagaikan orgasme tanpa henti. Semuanya diciptakan dengan efek visual CGI yang ‘mengerikan’ dengan kamera beresolusi tinggi. Robot-robot dalam Transformers membuat Power Rangers, Ultraman, Cyborg, Robocop, atau Terminators seperti karikatur kasar coretan anak SD.

Walaupun penuh adegan kekerasan dan beberapa adegan hot, Transformers pada dasarnya adalah film anak-anak dengan rating PG-13. Namun, jangan mengharapkan dialog-dialog hebat atau akting memukau dalam film seperti ini. Itu sudah pasti. Situs RottenTomatoes hanya memberikan rating 21% dan menyebut Transformers: Revenge of the Fallen sebagai film yang “noisy, underplotted, and overlong special effects extravaganza that lacks a human touch.” Subplot-nya tidak pernah dikembangkan dan sangat mudah ditebak; mungkin dibuat untuk mengisi kekosongan beberapa menit ketika para robot sedang bersiap-siap untuk bertempur. Film ini seakan mengkhianati intelegensi.

Tetapi Michael Bay tentu saja tidak mau berjudi dengan menampilkan adegan-adegan sentimentil ‘tidak penting’ dalam film ini. Di tengah kemelut robot-robot penuh nafsu tersebut, adegan manusiawi apapun yang ditampilkan akan sia-sia saja. Toh, penonton tetap tertawa-tawa walaupun leluconnya garing dan slapstick khas komedi toilet. Lalu terharu menyaksikan ending yang klise-nya minta ampun. Pesan-pesan moralnya yang kadang dipaksakan dalam cerita tetap membuat orang-orang mengangguk-angguk takzim tanda setuju. Dan di bioskop itu saya melihat sekelompok anak-anak bertepuk tangan ketika Optimus Prime kembali hidup!

Sebagian orang mungkin perlu menyiapkan aspirin dan obat tetes mata untuk menonton film ini, lalu keluar dari gedung bioskop sambil memaki-maki. Tapi menurut saya, Transformers: Revenge of The Fallen dan film lain ber-genre sama memang murni ditonton untuk ditertawakan dan bukan untuk ditanggapi secara serius. Seperti halnya junk food, franchise Transformers memang populer, tapi bulan depan ia pasti akan terlupakan. Untuk sesaat, film ini mujarab untuk melepas lelah dan mengusir stres karena paling tidak selama dua setengah jam Anda tidak perlu memikirkan pekerjaan yang sedang menumpuk, debat politik Capres, virus Flu Babi, Manohara, atau kisah kawin cerai para artis yang setiap hari menjejali televisi.

Cheers!