Jika saya jadi Amitabh Bachchan, saya juga pasti tercengang-cengang dan loncat dari kursi ketika menonton Slumdog Millionaire (2008). Saya, eh, Amitabh punya alasan yang kuat untuk itu. Selama ini dalam film-film Bollywood ia begitu heroik dan selalu berperan sebagai jagoan, orang kaya yang tinggal di rumah mewah, dan menampilkan kehebatan-kehebatan negerinya, serta terkenal seantero dunia.

Jamal sedang menunggu kedatangan Amitabh Bachchan idolanya

Jamal sedang menunggu kedatangan Amitabh Bachchan idolanya

Namun, tiba-tiba pria asal Inggris itu (baca: Danny Boyle) membuat manuver tajam yang sama sekali tidak diduga banyak orang. Ia dengan vulgar menggambarkan kehidupan masyarakat paling bawah dalam masyarakat India; potret anak-anak jalanan ala Charles Dickens, yang hidup dalam lingkungan yang kumuh, penuh kekerasan dan minus pendidikan yang layak. Saya, jika jadi Amitabh, juga pasti emosi melihat anak-anak India, yang mengidolakan saya, dijadikan ‘binatang’ dan ‘diburu’, dan dicaci maki karena nasib mereka. Dalam blog-nya, Amitabh mengatakan:

“If [Slumdog Millionaire] projects India as [a] Third World dirty underbelly developing nation and causes pain and disgust among nationalists and patriots, let it be known that a murky underbelly exists and thrives even in the most developed nations.”

Sepanjang film kita disuguhi tur gratis kehidupan jelata orang India. Dan barangkali, yang paling membuat Amitabh geram, hal tersebut disaksikan jutaan orang di seluruh dunia. Itulah yang dibuat oleh Boyle dalam film yang membawa pulang delapan piala Oscar, yang di antaranya untuk Best Motion Picture ini.

The Power of Coincidence
Slumdog Millionaire diangkat dari novel best-selling India berjudul Q & A karya Vikash Swarup. Diadaptasi ke dalam skrip oleh Simon Beaufoy, film ini bercerita tentang seorang pelayan yang mendapat kesempatan untuk ikut kuis Who Wants to Be a Millionaire yang pernah begitu booming pada periode 2003–  2006.

Semua orang suka kuis Who Wants to Be a Millionaire. Boyle sendiri mengakui bahwa salah satu dasar pembuatan film ini adalah karena ia menggemari kuis tersebut. Nasib film ini sepenuhnya terletak di bahu Jamal Malik (Dev Patel) yang sedang duduk di kursi panas berhadapan dengan Prem Kumar (Anil Kapoor), sang pembawa acara kuis. Selangkah lagi Jamal akan memecahkan rekor dengan memenangkan 20 juta Rupee. Namun sang pembawa acara dan polisi tidak percaya: bagaimana pula seorang yatim piatu, yang tidak bersekolah dan tinggal di daerah kumuh itu bisa menjawab seluruh pertanyaan dengan benar? Skeptisisme yang wajar dan masuk akal. Lalu, Boyle membawa kita ke tiap suspense, flash back, klimaks, dan detil kejadian yang memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan kuis. Plot yang unik.

Tapi apakah semua itu bukan merupakan kebetulan belaka? Kebetulan saja setiap pertanyaan yang diajukan dalam kuis adalah representasi hidupnya. Kebetulan saja, misalnya, ketika Jamal diberitahu temannya bahwa foto dalam lembaran US$100 adalah Benjamin Franklin. Namun, “cinta akan menemukan jalannya” dan Boyle mengeksplorasi tema itu dalam setiap bingkai kilas balik kehidupan Jamal. Jika tidak percaya pada probabilitas dan peluang, silakan saja menganggap Slumdog Millionaire film yang mengada-ada.

Tapi seperti yang kita ketahui, tujuan Jamal bukanlah uang, tetapi cinta (huhuhu mulia sekali dia). Jamal benar-benar merepresentasikan lirik lagu “Who Wants to Be a Millionaire?” (1956) yang dulu pernah dinyanyikan oleh Cole Porter: Who wants to be a millionaire? I dont, and I dont, cause all I want is you... Dalam setiap detil kejadian dalam hidupnya, Jamal berusaha mencari Latika (Freida Pinto), teman masa kecilnya yang sangat ia rindukan. Walaupun pada akhirnya ia tahu bahwa Latika telah dijadikan gundik seorang kepala preman, ia tetap mencintai Latika. Dialah jawaban semua pertanyaan yang diajukan kepada Jamal. Jamal hanya ingin ‘memenangkan’ Latika.

Anomali Tahun 2008
Menurut saya, Boyle sangat berani membuat film seperti Slumdog Millionaire. Padahal ia nantinya hanya akan punya dua hasil: gagal total atau sukses besar. Dan kita semua tahu bahwa pada akhirnya Boyle memperoleh yang kedua. Delapan piala Oscar bukanlah prestasi sembarangan (saya benci menjadikan Oscar sebagai parameter, tapi mau bagaimana lagi?).

Namun, Amitabh yakin bahwa Slumdog Millionaire terkenal hanya karena dibuat, disutradarai dan ditonton dari perspektif Barat. Amitabh merasa nasionalismenya ditelanjangi (memang dalam beberapa adegan Boyle menunjukkan superioritas Barat, seperti ketika dua orang turis Amerika ‘mengajari’ orang hitam India agar memperlakukan anak-anak dengan pantas. Boyle ‘gagal’ menghindari stereotip negatif yang mungkin muncul dari adegan tersebut). Salah seorang teman saya bergurau dengan mengatakan, “Coba kalau pembawa acara kuis itu diperankan oleh bung Amitabh Bachchan, pasti reaksinya akan lain.” Terlepas dari praduga teman saya, Amitabh punya poin sendiri yang dapat ia perdebatkan.

Namun bagi saya film ini tetaplah sebuah anomali pada tahun 2008; berbudjet rendah namun sangat menghibur, dibangun dengan tema sederhana bahwa “uang tak dapat membeli cinta” namun sangat dalam. Film ini juga diperkuat oleh tiga karakter (Jamal, Salim dan Latika) yang diperankan oleh sembilan orang dalam tiga fase. Semuanya begitu personal dan individualistik, sehingga kita tidak pernah salah mengetahui mana Jamal kecil, Salim remaja, atau Latika dewasa. Selain itu, Anil Kapoor yang memang merupakan superstar di India, juga memberikan karakter yang kuat kepada tokoh Prem, si Pembawa Acara kuis yang pongah itu. Sedangkan latar yang diambil begitu jujur dan nyata menggambarkan sisi lain kota Mumbai. Ditambah aransemen yang menggetarkan dari A.R. Rahman, Slumdog Millionaire rules!

PS: Oh ya, jangan khawatir untuk mengajak anak-anak berumur 10 tahun untuk menonton film ini. Walaupun ada sedikit adegan kekerasan, namun tidak begitu ditonjolkan. Sepertiga film ini diperankan oleh Jamal kecil, yang penuh perjuangan untuk bertahan hidup. Hal ini bisa jadi pelajaran bagus untuk anak-anak, bahwa di luar sana banyak anak sebaya yang bernasib sama sekali berbeda dengan mereka.

Advertisements