Kalau sebelum ini Dewi ‘Dee’ Lestari mencoba menggabungkan cerita dengan musik, sains, ekonomi, bahkan filsafat, novel anyar Perahu Kertas seperti mematahkan semuanya. Novel ini ringan, chick, jauh dari kesan berat ala Supernova dan tampil apa adanya dengan tema cinta remaja. Kalau tidak siap dengan perubahan tersebut, mungkin bisa gigit jari!

perahu kertas

Dee sendiri mengaku bahwa hal yang menginspirasinya menulis kisah Kugy dan Keenan adalah ikon-ikon budaya populer pada masa remajanya, seperti komik Jepang Popcorn, film drama Reality Bites (1994) yang dibintangi Wynona Rider dan grup musik Amerika Indigo Girls. Perahu Kertas awalnya berupa cerita bersambung (cerbung) yang ditulis Dee di awal tahun 1996. Beberapa tahun kemudian, ceritanya dirilis di Internet dalam versi digital. Oleh karena itu, agaknya lebih tepat jika menyebut Perahu Kertas adalah cerita Dee yang telah “diperbaharui”.

Karakter-karakternya hidup dan terasa nyata (plausible). Belum lagi tempat-tempat “betulan” di Bandung, Jakarta dan Bali yang dijadikan latar cerita oleh Dee. Belum apa-apa, saya sudah membayangkan Nikita Willy dapat memerankan Kugy jika Perahu Kertas kelak diangkat ke layar lebar hahaha. Membaca Perahu Kertas membuat saya mengenang kembali masa-masa membaca serial Lupus-nya Hilman, yang lucu khas anak gaul akhir abad ke-20. Cerita-ceritanya biasanya berkisar tentang pencarian jati diri, jatuh cinta dan segala macam konflik dengan teman-teman dekat dan keluarga.

Kugy dan Keenan adalah sepasang remaja yang memiliki sifat berlawanan satu sama lain. Kugy adalah cewek ceria, pengkhayal, urakan, tapi mempunyai bakat menulis yang besar. Sedangkan Keenan adalah cowok cerdas, pendiam, namun memiliki bakat melukis yang hebat. Lalu mereka berbaur dalam satu lingkaran cerita. Seperti kebanyakan plot-plot standar cerita romantis ABG, mereka bertemu secara tidak sengaja, lalu mengalamai fase “malu-malu tapi mau”, menghadapi konflik-konflik keras dengan realitas dan bertransformasi menjadi seseorang yang berlawanan dengan sifat-sifat dasarnya—terlepas dari apakah mereka benar-benar mengenal arti cinta—sebelum kembali ke awal lagi.

Beberapa adegan pastinya terasa begitu klise dan tipikal, karena setiap literatur populer tidak mungkin menghindarinya. Misalnya adegan ketika Noni cemburu melihat kedekatan Kugy sahabatnya dengan Eko, pacarnya. Padahal pembaca tahu persis bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara Kugy dan Eko. Lalu konflik, yang menurut pembaca tidak penting dan “menggemaskan” harus terjadi di antara mereka, dengan kemasan ala sinetron. Menurut saya, Bali adalah latar paling klise dalam kisah cinta remaja Indonesia. Entah kenapa, di mana-mana selalu ada kisah cinta di pulau dewata.

Tapi kelebihan Dee daripada penulis-penulis kisah remaja lainnya mungkin terletak pada cara menuturkan cerita. Tidak ada kata yang mubazir dalam penceritaan Dee. Ia bisa menyihir narasinya dan memikat pembaca dengan cepat. Semua “kebetulan-kebetulan” disusun dengan alur yang rapi dengan suspense yang, mau tau mau, bikin tegang dan penasaran. Latar tempat dan waktu ditulis begitu detail sehingga pembaca merasa memiliki pengalaman yang sama dengan para tokoh di dalam cerita. Setelah makan es krim di Kemang, Keenan mau kemana ya?

Saya juga suka dengan desain bukunya: komikal dan sesuai dengan genre novelnya. Mungkin ingin terlihat lebih akrab di mata pembaca, Dee juga memuat komentar-komentar para fans-nya di Facebook pada halaman depan buku. Sudah lama rasanya saya tidak lagi bisa menghabiskan sebuah novel dalam satu hari. Di antara karya-karya Dee yang begitu filosofis dan cenderung berat, Perahu Kertas terasa seperti segelas air es yang segera meredakan dahaga. ‘Gelas’-nya tidak mungkin bisa diletakkan sebelum menghabiskan tetes terakhirnya. Momen peluncurannya juga pas dengan saat liburan sehingga bisa dibawa sebagai teman dalam perjalanan.