Sebentar lagi bulan puasa berakhir. Pada hari terakhir bekerja sebelum libur lebaran, kantor udah keburu sepi. Boks-boks dengan sisi atas kaca itu sudah “ditinggal” penghuninya. Tidak terdengar lagi bunyi tik-tak keyboard, deru printer, percakapan di telepon, alih-alih celoteh para visitor dari luar yang biasanya nangkring di sofa.

the glass boxes have been empty

the glass boxes have been empty

Padahal hari terakhir itu dibuatkan semacam daftar hadir khusus bagi para karyawan/karyawati yang datang. Presensi khusus biasanya disertai bonus. Dan rumornya, uang lembur juga akan cair pada sore hari. Tidak lain tujuannya untuk memotivasi pegawai. Tapi sepertinya tidak banyak yang tertarik. Toh nanti setelah balik ke kantor pasti dapat juga. Dan saya mafhum kalau daftar presensi penuh, tapi orangnya nggak ada hehe.

Semuanya kena demam mudik. Baik yang pulang ke ujung pulau Sumatra atau yang “sekedar” menggelinding ke kota Bandung, semuanya sudah berkemas. Konsentrasi sudah susah diajak kompromi dengan deadline pekerjaan atau jadwal-jadwal rapat. Semua appointment dan rencana kerja di tunda: “nanti saja, ya, setelah lebaran!”

Saya salut dengan teman-teman yang rela menempuh jalur darat dan laut sebagai jalur mudik. Selain memerlukan kondisi fisik yang prima, naik bus melewati jalan lintas sumatra berdurasi tiga puluh jam! Belum lagi risiko-risiko bahaya yang harus dihadapi sepanjang perjalanan. Tapi tak apalah, demi bersua orang tua, para saudara dan teman-teman lama.

Selamat lebaran kawan-kawan, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita kembali suci. Taqoballalahu mina wa minkum!