Dimulai dengan sebuah pertanyaan: Apakah film Harry Potter and The Half Blood Prince (HP 6) ini masih layak ditunggu sejak Warner Bros menundanya tujuh bulan lalu? Yang pasti novelnya sudah lama saya simpan di lemari karena HP 6 sudah terbit empat tahun yang lalu. Saya sudah nyaris tiga kali membaca buku setebal 607 halaman tersebut,  namun – seperti fans lainnya – sempat kecewa karena versi filmnya ternyata ditunda. Para penggemar Harry Potter juga sudah merasakan ‘serangan’ Stephenie Meyer lewat empat saga Twilight-nya yang tiba-tiba laku keras, bahkan versi film pertama literatur vampir tersebut sudah difilmkan – dan sukses besar.

ron weasley berevolusi di harry potter 6

ron weasley berevolusi di harry potter 6

Tapi franchise Harry Potter, mengutip majalah Cinemags sepertinya sudah terkena mantra ‘anti-kritik.’ Apa pun yang mungkin dikatakan oleh para kritikus film, serial Harry Potter tetap saja laku. Terbukti, orang berbondong-bondong menonton film keenam ini sejak gedung bioskop dibuka sampai tengah malam. Dalam lima hari pertama sejak peluncuran pertamanya 15 Juli 2009, HP 6 sudah meraih US $391 juta! Sayangnya, HP 6 terkesan dibuat hanya untuk ‘menopang’ seri ketujuh yang merupakan kisah pamungkas, sehingga nilainya menjadi kurang sebagai sebuah film yang utuh.

Pubertas
Seakan sengaja dikontraskan dengan keadaan dunia sihir yang sedang dalam bahaya, seri keenam ini menampilkan sesuatu yang berbeda: para siswa tahun keenam Hogwarts memasuki masa pubertas; sesuatu yang tak bisa ditangkal oleh mantra sihir apapun. Berkat kreativitas penulis naskah Steve Kloves, pakem tradisional ditinggalkan. Film tidak lagi dimulai di rumah keluarga Dursley, namun di sebuah coffee shop subway, di mana Harry Potter terlihat sedang menggoda si pelayan (atau sebaliknya).

Sahabat-sahabat Harry, Ron Weasley dan Hermione Granger juga tidak luput dari fenomena tersebut. Ron akhirnya berhasil mengakhiri ‘ketidakpopulerannya’ dan melepaskan diri dari bayang-bayang Harry ketika Lavender Brown ‘bergayut’ di tangannya. Selain itu, ia juga dipercaya untuk menjadi kiper tim Quidditch asrama Gryffindor. Si ‘kutu buku’ Hermione sekarang menjadi impulsif dan emosional karena cemburu melihat kedekatan Ron dengan Lavender. Kisah cinta monyet anak-anak Hogwarts tersebut menjadi semakin rumit ketika melibatkan Cormac McLaggen, Romilda Vane, Ginny Weasley dan Dean Thomas.

Namun tanpa mereka sadari, Hogwarts perlahan-lahan menjadi tempat yang ‘gelap’ dan menakutkan. Antek-antek Voldemort, para Pelahap Maut (Death Eaters) terus berusaha menembus mantra pertahanan sekolah sihir tersebut. Hal ini disadari oleh Dumbledore, sehingga ia melatih Harry secara khusus, walaupun ia belum siap. Sebagai langkah awal, kepala sekolah sihir itu memperkenalkan Harry kepada salah seorang temannya bernama Horace Slughorn, yang memiliki ingatan yang berguna untuk menyingkap masa lalu Voldemort, sehingga kelemahannya dapat diketahui. Di samping itu, Harry juga ‘dibekali’ dengan buku teks ramuan aneh dengan nama pemilik ‘The Half-Blood Prince’, yang berisi catatan-catatan rahasia sehingga ia menjadi murid paling pintar di kelas Potions.

Kisah Harry Potter, sebagai sebuah bildungsroman, memasuki tahap di mana proses pengembangan karakter utama berlangsung lama dan melelahkan, ketika kebutuhannya sering bertolak belakang dengan keinginannya. Ia ‘direkayasa’ oleh lingkungannya, sehingga tidak jarang gagal untuk berdiri sendiri. Sampai tahun keenam, Harry masih asal-asalan menggunakan mantra sihir, apalagi mengukur kekuatan lawan yang akan dihadapinya. Dalam teori Joseph Campbell, The Hero’s Journey (1985), sosok arketip utama, Hero (tidak bisa diterjemahkan sebagai Pahlawan), memang dibantu oleh seorang mentor atau guru. Ia memberikan ilmu, nasihat, latihan, bahkan senjata kepada Hero untuk menjalankan misinya. Namun, pada titik kulminasi waktu tertentu Hero harus berjuang sendirian tanpa kawalan sang mentor yang disebut The Wise Old Man tersebut. Dumbledore memang harus ‘dieksekusi’ pada HP 6 untuk memenuhi pola Hero’s Journey sebagai jalan menuju The Ordeal, tempat di mana ia harus menghadapi risiko sekaligus menyaksikan kematian sebelum meraih kemenangan. Hal ini juga menjadi semacam ‘a swift kick in the pants bagi Harry dalam mengatasi ketergantungannya kepada orang lain sehingga petualangan dapat dilanjutkan. Kedekatan, interaksi, dan emosi antara Harry dengan mentornya itu ditampilkan dengan sempurna dalam film ini.

Draco Malfoy, yang merupakan tokoh antitesis Harry selama ini terpilih menjadi eksekutor pertama Dumbledore. Sementara semuanya sibuk mengendalikan hormon mereka, Draco mulai memisahkan diri dari geng Slytherin. Ia mulai frustrasi dengan beban yang diberikan Voldemort kepadanya untuk melakukan sebuah misi yang sangat berat tersebut. Namun fakta bahwa Snape, pada saat-saat terakhir, mengambilalih peran Draco semata-mata merupakan kemahiran pengarang dalam mempermainkan perasaan penonton. Film diputus di sini sehingga menciptakan misteri besar untuk cerita selanjutnya.

David Yates sengaja menghapus pertempuran antara para  Pelahap Maut dengan penghuni Hogwarts dan upacara pemakaman Dumbledore dalam HP 6. Akibatnya film ini terasa kurang utuh sebagai sebuah cerita yang memiliki penyelesaian (ending) setelah klimaks. Tetapi kita semua tahu bahwa tujuannya hanya satu: agar film berikutnya menjadi lebih misterius dan ditunggu-tunggu. Bagaimana sebenarnya posisi Snape yang mengaku sebagai The Half-Blood Prince itu? Bisakah Harry bertahan tanpa Dumbledore? Atau apakah Hogwarts akan ditutup? Dalam sistem penceritaan, meminjam istilah Roland Barthes, HP 6 meninggalkan semacam kode hermeneutic bagi penonton dalam mengantisipasi Harry Potter and The Deathly Hallows episode I dan II.

HP 6 bukan untuk ‘Newcomer’
Sebagai sebuah drama, HP 6 adalah cerita yang stagnan dan mungkin agak membosankan. Ia penuh dengan adegan dan tempat yang spesifik, serta karakter minor yang tidak begitu jelas perannya. Banyak dialog yang terasa begitu textbook, kaku dan tidak alami, sehingga membuat kita bertanya-tanya: Apa saja yang dilakukan anak-anak ini selama hampir satu dekade? Selain itu, terdapat kesan ‘berpanjang-panjang’ dalam menampilkan kisah cinta anak-anak Hogwarts, sehingga bahaya besar yang sedang mengancam menjadi ‘terpinggirkan’ dan klimaks terus tertunda.

Kali ini tidak ada lagi penjelasan-penjelasan detil mengenai suatu kejadian, karakter atau objek-objek yang ditampilkan. Penonton ‘harus’ sudah tahu plot cerita, latar, implikasi-implikasi dialog, dan lain sebagainya. Ternyata saya salah ketika menganggap bahwa HP 6 dapat menjaring penggemar baru tanpa perlu membaca buku. Salah seorang teman saya – non-fans – keluar dari gedung bioskop tanpa mengerti sedikitpun tentang film yang baru saja ditontonnya. Maaf teman, film ini ‘hanya’ diperuntukkan bagi para penggemar Harry Potter.

Lumos!