Tak terhitung banyaknya novel yang telah dijadikan film, baik itu karya klasik atau kontemporer. Dari Gone With the Wind sampai Twilight, para penulis skrip tampaknya berlomba-lomba memfilmkan novel. Drama juga favorit untuk diangkat ke layar lebar; seluruh drama Shakespeare sudah diadaptasi ke film dan bahkan beberapa di antaranya memiliki beberapa versi pada tahun yang berbeda. Pihak Academy pun memberikan dua kategori penilaian yaitu Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay.

The curious case of Brad Pitt.

The curious case of Brad Pitt.

Cerpen ke Film
Lalu bagaimana dengan adaptasi cerita pendek? Jika dibandingkan dengan novel dan drama, cerpen barangkali kalah favorit untuk diangkat ke layar lebar. Selain ceritanya yang jauh lebih singkat, cerpen juga minim tema, dialog, deskripsi, dan tentu saja, karakterisasi. Akibatnya, interpretasi yang ‘lebih’ dibutuhkan ketika mengadaptasi sebuah cerpen menjadi film yang sukses.

Kita tetap bisa menyaksikan film-film blockbuster seperti Minority Report (2004) arahan Steven Spielberg yang diangkat dari cerpen Phillip Dick; Brokeback Mountain (2006) yang diangkat dari cerpen Annie Proulx; Lust, Caution (2007) yang diadaptasi dari cerpen Eileen Chang. Dua film terakhir berhasil disutradarai dengan baik oleh Ang Lee. Lalu ada juga Million Dollar Baby (2004) yang disutradarai oleh Clint Eastwood dari karya F.X. O’Toole, dan berhasil memenangi banyak penghargaan. Tapi bagaimana caranya film-film yang berdurasi rata-rata dua jam tersebut sukses hanya dengan mengadaptasi sebuah cerpen, yang sebenarnya dapat dibaca dalam sekali duduk?

Film adaptasi cerpen adalah salah satu rahasia besar Hollywood. Film yang diangkat dari cerpen hanya membutuhkan pondasi utama yaitu seluruh cerita itu sendiri. Ia tidak akan disibukkan dengan kegiatan memangkas-mangkas jalan cerita, namun membangunnya dari cerita yang sudah ada.

Tetapi ada juga penulis skenario dan sutradara yang langsung memelintir plot, karakterisasi, dan tone cerpen tersebut sehingga menghasilkan cerita yang sama sekali berbeda. Ada yang berhasil, ada juga yang gagal. Misalnya, film yang sekarang sedang ramai dibicarakan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Film yang diangkat dari cerpen karya F. Scott Fitzgerald ini ditulis oleh Eric Roth dan disutradarai oleh David Fincher dan berhasil menyabet 13 Nominasi Oscar tahun ini, termasuk kategori Best Pictures, Best Director dan Best Leading Actor (Brad Pitt).

Tidak Menggigit
The Curious Case of Benjamin Button (CCBB) versi film sangat berbeda dengan versi cerpen Fitzgerald. Roth, yang juga menulis skrip film fenomenal Forrest Gump (1994), hanya mengadaptasi nama Benjamin Button dan ide cerita tentang hidup yang terbalik—Benjamin lahir dengan fisik seseorang berumur 87 tahun dan seiring bertambah usianya, kondisi fisiknya malah semakin muda (reverse aging). Selebihnya, merupakan imajinasi Roth sendiri.

Namun, kolaborasinya dengan Fincher menurut saya hanya menghasilkan cerita datar selama nyaris tiga jam. Tidak ada eksplorasi karakter; ia juga tidak menyebutkan bagaimana Benjamin bisa lahir seperti itu, atau setidaknya menampilkan konflik masa kecil Benjamin dengan teman-teman sepermainannya, sehingga terasa sensasi keanehannya itu sekaligus memperkuat karakternya ketika tumbuh dewasa. Selain itu, latar cerita juga tidak dieksplorasi dengan dalam. Dan yang kurang masuk akal, perubahan fisik Benjamin tidak pernah diekspos media dan orang-orang terdekatnya.

Baiklah, ide tentang badai katrina dan gaya penceritaan flash back ala Titanic-nya cukup inovatif, tapi tidak ada keterangan apa-apa mengenai kejadian-kejadian ketika Benjamin hidup selain ditulis di dalam diari. Bagaimana kondisi tahun 50an dan 60an ketika Benjamin mengalami transisi hidup yang cukup penting tidak dijelaskan. Mereka hanya menonton Twist and Shout-nya The Beatles, dan saya berkata dalam hati, “Oh, itu tahun 1967..”

Mungkin ada sedikit kisah sentimentil ketika Benjamin menjalin hubungan dengan Daisy. Namun, Fincher sedikit gagal menampilkan konflik kedua karakter itu. Kimia di antara keduanya juga kurang meyakinkan (saya). Ketika anaknya lahir, Benjamin memutuskan untuk pergi karena tubuhnya yang semakin muda sehingga tidak mungkin menjadi ayah. Keputusan Benjamin inilah yang membuat CCBB jadi terasa datar sekali. Padahal jika ia tetap tinggal dan menjadi ayah, akan banyak sekali konflik yang bisa digarap (sebagai perbandingan, di dalam versi cerpen, Benjamin sampai tua diurus oleh anaknya). Akibatnya, kita hanya disuguhi kehebatan tata rias wajah dengan efek CGI dan close-up muka Brad Pitt sepanjang film. Benjamin sangat membosankan dan nyaris tidak “memberikan” apa apa kepada penonton; ia hanya berjalan mengarungi waktu dan seolah melambaikan tangan kepada kita sambil berkata, “Hey, I’m 60 now, but look much younger!

Situs RottenTomatoes mungkin sempat memberikan positive respons sebanyak 72%, tapi rata-rata pujiannya bukan karena kemampuan akting yang luar biasa. Menurut saya, tampilan visual effect bukanlah segalanya. CCBB gagal menampilkan kepada penonton, bagaimana reverse aging tersebut memberikan pengaruh yang dalam kepada si tokoh utama. Saya juga bukan anti-Brad Pitt. Banyak perannya yang menurut saya worth-Oscar di masa lalu, tapi tidak dilirik oleh Academy. Namun ironisnya, ketika ia tidak memberikan kemampuan akting yang mumpuni dalam CCBB, ia mendapat nominasi sebagai The Best Actor in Leading Role. Tidak nampak keistimewaan seorang Brad Pitt di sana. Kalau begini, tokoh Benjamin sepertinya bisa dimainkan aktor mana pun.

Mengadaptasi cerpen ke dalam film bukanlah pekerjaan gampang. Memang proses pengambilan tema, karakter, atau plot-nya sama seperti di dalam novel, tetapi tetap dibutuhkan kreatifitas dan orisinalitas dari sang penulis skenario dan sutradara untuk membangunnya ke dalam film berdurasi empat kali lipat lebih lama dari membaca versi cerpennya.