Alessandro Baricco tiba-tiba dapat ide yang menurutnya brilian. Dia punya cara baru membaca epik The Iliad karya Homer. The Iliad  memang terlalu sulit dibaca oleh orang awam karena ditulis dengan bahasa njelimet. Struktur dan durasinya mungkin merupakan alasan utama orang tidak suka membaca klasik lagi. Baricco lalu punya solusi bagi pembaca modern. Ia memotong bagian-bagian tertentu dalam The Iliad deskripsi panjang nan melelahkan, menjadi cerita yang relatif gampang dikonsumsi.

The other Iliad?

Tidak sampai di sana. Ia pun melakukan sesuatu yang tergolong berani untuk editan karya penulis besar sekaliber Homer. Baricco menceritakan kisah perang Troya dari perspektif banyak karakter, baik utama maupun minor. Perang tersebut berakhir setelah sepuluh tahun ketika Odysseus menemukan cara untuk menyusup ke dalam gerbang Troya dengan memanfaatkan kepercayaan bangsa tersebut terhadap Apollo. An Iliad karya Baricco memang hanya fiksi. Dan setiap pengarang bisa melakukan apa saja terhadapnya. Namun, ‘mengacak-ngacak’ karya Homer tidak saja bisa disebut berani, tetapi butuh kelihaian, terutama dalam penulisan karakterisasi.

Dalam buku ini kita akan menemukan banyak sekali karakter, karena mereka semua bercerita (dibandingkan dengan The Iliad, yang mungkin hanya terfokus pada beberapa karakter utama). Kita akan menyaksikan kegelisahaan Andromache ketika Hector hendak bertarung mempertahankan harga diri Troya; kesedihan Hecuba, ibu Hector, ketika ia menginginkan keluarganya kembali utuh seperti sediakala; ketakutan Paris ketika hendak memutuskan untuk bertarung atau tetap bercinta dengan Helen; perasaan Patroclus ketika dilarang ikut berperang oleh Achilles, rasa ‘nasionalisme’ Diomedes untuk menghancurkan Troy, dan sudut pandang karakter-karakter kecil lainnya yang mungkin tidak seeksplisit dalam karya ‘asli’.

An Iliad mungkin bisa menjadi cara baru membaca klasik. Ada kesenangan tersendiri ketika mengetahui bagaimana jalan cerita dari berbagai sudut pandang. Dan pengaruh hebat yan
g mungkin akan diciptakan Baricco adalah bahwa para pembaca digiring untuk mencintai klasik, mulai mencari-cari karya-karya masterpiece tersebut di toko buku, dari pengarang macam Sophocles, Dante, atau Shakespeare. Alih-alih menganggap bahwa The Iliad sudah kuno dan ketinggalan zaman, pembaca (dalam hal ini saya) akan dibuat penasaran untuk membaca karya terbesar dalam literatur tersebut.