Tidak bisa disangkal lagi bahwa televisi merupakan media yang paling banyak diakses oleh masyarakat, jauh di atas media-media lain seperti koran, radio, apalagi buku. Radio yang jauh lebih tua dan pernah berjaya pada zamannya telah tergeser menjadi media tradisional yang bersifat personal dan spesifik. Televisi hadir di tengah-tengah masyarakat dengan menu utuh: Selain menyajikan suara (audio), ia juga menawarkan gambar bergerak (motion picture) yang tidak dipunyai radio dan media lainnya untuk memenuhi kepuasan pandangan.

Silat Lidah Anteve

Perempuan dalam televisi, terus terang, memberikan kepuasan ganda. Perempuan tampaknya terlanjur dianggap lebih menarik pandangan mata daripada laki-laki. Namun, dalam anggapan itu, sebenarnya perempuan diposisikan sebagai yang lebih menarik dan lebih pantas untuk ‘dijajakan’ ketimbang dilihat sebagai substansi manusia dan kemanusiaannya. Program televisi, khususnya swasta, yang memang sepenuhnya hidup dari iklan, mau tak mau menjadi ‘pedagang’ yang menjajakan imej-imej perempuan untuk dikonsumsi massa.

Coba tengok acara Silat Lidah di Anteve, yang tayang jam 10 malam setiap hari kerja. Program kategori bincang-bincang ini menampilkan enam orang panelis perempuan dan satu moderator sekaligus host laki-laki. Dalam setiap acara, Silat Lidah menyuguhkan beberapa tema untuk dibahas oleh keenam panelis dan sang moderator. Lazimnya, acara yang dengan atmosfer seperti ini akan menyuguhkan diskusi serius dengan wawasan luas dan argumen yang bermutu. Namun yang terjadi adalah perang mulut, debat kusir, dan berakhir dengan kesimpulan yang ngawur. Silat Lidah ternyata dirancang sebagai program lawakan; makna yang diberikan sangat jauh dari ‘silat lidah,’ yang berarti debat dengan logika sebagai dasar argumentasi, sementara tayangan tersebut mandeg dengan kreativitas dan pikiran kritis.

Minus intelektualitas
Program ini biasa diisi oleh perempuan-perempuan cantik yang cukup dikenal dalam dunia hiburan seperti Julia Perez, Ria Irawan, Melisa Karim, atau Kiki Amalia, dan rata-rata memang mendominasi dunia selebritis. Namun, sungguh menggelikan (dan miris) melihat Ratna Sarumpaet, Sandrina Malakiano, atau Lula Kamal, yang biasanya dekat dengan dunia akademis dan intelektualitas, juga diposisikan sebagai perempuan-perempuan suka ngerumpi dan, seperti yang diakui presenternya, jelas berotak koson.

Sang pembawa acara, Irwan Ardian, seolah-olah berdiri sebagai simbol patriarki yang membawahi dan ‘menguasai’ keenam panelis. Akan tetapi, ia tidak pernah bisa menjadi penjembatan argumen yang baik dan bahkan cenderung seksis dan tendensius. Ia seringkali menyebut para panelis perempuan sebagai dayang-dayang. Belum lagi substansi programnya dapat dicerna, Silat Lidah telah menimbulkan kontradiksi. ‘Panelis’ tentu saja berhubungan erat dengan intelektualitas, akademik, dan orang-orang yang punya pemikiran berdasarkan logika. Sedangkan ‘dayang’ lebih merujuk kepada pembantu, kebodohan, kepasifan, dan perempuan-perempuan yang bergayut di tangan sang raja.

Kontradiksi ini mengarah jelas kepada objektifikasi tubuh perempuan dan subordinasi peran. Jupe, misalnya, yang dalam acara ini dijuluki Si Dada Besar (namun senang dan cuek saja), mutlak menggambarkan hal tersebut. Dalam salah satu komentar SMS yang ditampilkan, seorang pemirsa laki-laki berpesan, “Jupe, mana bibir seksinya?” (31/1). Tidak ada satupun komentar yang memuji daya analisis para panelis dalam menguraikan masalah yang ditampilkan.

Produser acara bisa saja mengklaim bahwa acara ini bertujuan untuk hiburan semata. Ia menjaga rating agar tetap tinggi, memenuhi selera pasar, sehingga iklan masuk silih berganti. Tidak salah ketika Tania Modleski (1986) dalam Studies in Entertainment mengatakan bahwa karena industri budaya populer, seperti program televisi, yang diproduseri oleh kaum laki-laki dan ditujukan ‘seolah-olah’ untuk laki-laki, maka perempuan direduksi menjadi objek demi pemuasan proses tersebut. Silat Lidah sepertinya hanya dirancang bagi penonton laki-laki. Ia memberikan kepuasan berperspektif patriarkal bahwa perempuan memang lebih bodoh daripada laki-laki. Perempuan dalam lingkaran patriarki disajikan secara akurat oleh keenam panelis dalam Silat Lidah: banyak omong namun tidak ‘berisi.’

Program Silat Lidah sepertinya memang dirancang untuk membuat para panelisnya berbicara tanpa berpikir, sehingga menciptakan spontanitas yang dengan gamblang memperlihatkan stereotip bahwa jika para perempuan bicara, mereka tidak pernah berpikir! Perkataan mereka tidak perlu cerdas, sehingga melulu menghasilkan jalan keluar yang tidak relevan untuk persoalan yang diketengahkan. Secara tersirat, perempuan dalam dunia yang didominasi laki-laki idealnya adalah mereka yang tidak usah memberikan pendapat dan saran; duduk diam saja dan nrimo segala perkataan laki-laki. Para panelis hanya perlu mematuhi rambu-rambu yang telah dijelaskan oleh sang pembawa acara.

Eksploitasi atau eksplorasi?
Perempuan dalam televisi sekiranya telah menjadi korban dalam kapitalisme global yang sangat kuat ideologi patriarkinya. Apakah perempuan termasuk ke dalam komoditi yang lantas dieksploitasi atau dieksplorasi? Namun persoalannya, seperti yang terlihat dalam kenyataan, dalam acara Silat Lidah, banyak perempuan yang justru sepertinya ‘memanfaatkan’ kesempatan itu untuk memenuhi berbagai tujuan, termasuk untuk survive dalam industri hiburan. Dengan sendirinya, televisi menjadi media pertarungan antara idealisme dan kebutuhan.

Saling ‘memanfaatkan’ antara kapitalisme dan patriarki dengan perempuan seolah tampak sebagai teori yang lebih sesuai untuk membahas gejala ini. Ratna Sarumpaet, Sandrina Malakiano, Fira Basuki atau Lula Kamal barangkali memanfaatkan guyuran popularitas dan materi, walaupun harus mengorbankan imej intelek dan akademis. Namun, satu hal yang mungkin mereka lupakan adalah bahwa produk budaya populer seperti televisi telah lama bertransformasi menjadi media yang mengkreasi kesadaran manusia melalui imej yang dibangunnya.

Televisi, mengutip Jean Baudrillard (1988) dalam Simulacra and Simulation telah mengubah fungsi media sebagai penyalur menjadi “diri media itu sendiri,” menjadi “saluran” itu sendiri. Pesan-pesan yang ditampilkan merupakan efek langsung dari ‘dirinya,’ sehingga menciptakan dunia pemirsa menjadi warga dari global village di manapun tempat dan kapanpun waktunya. Acara Silat Lidah mematri ingatan penonton, baik laki-laki dan perempuan, terhadap para panelis sebagai perempuan-perempuan yang hanya pandai ber-silat lidah, yang tidak intelek, dan yang jauh dari dunia akademik. Hal ini lantas berkembang menjadi realitas semu (hyper-reality) yang kemudian mendeterminasi kesadaran penonton. Panelis-panelis dalam Silat Lidah akhirnya menipiskan pemahaman masyarakat tentang kesadaran jender dan malah semakin mengukuhkan stereotip negatif pada perempuan.

Ternyata, toh, yang lebih diuntungkan tetap saja kapitalisme dan patriarki. Saya terpaksa setuju dengan para analis jender yang mengatakan bahwa layar kaca adalah media strategis dalam subordinasi kaum perempuan. Implikasi yang ditimbulkan adalah, pertama, perempuan dan tubuhnya senantiasa diharapkan berpenampilan cantik karena ia merupakan fokus tatapan mata yang semata-mata memanjakan estetika visual dari sudut pandang laki-laki. Tidak mengherankan jika yang dipanggil untuk jadi panelis dalam Silat Lidah adalah mereka-mereka yang terbiasa berpenampilan seksi seperti Julia Perez, Aline Tumbuan, Kiki Amalia, Melisa Karim, Dominique atau Lola Amaria. Para penonton seolah-seolah tidak punya telinga karena sibuk mengamati paha dan belahan dada.

 Kedua, bias jender akan selalu merasa nyaman dalam pelukan budaya populer dengan televisi sebagai senjata utamanya. Preseden-presenden buruk dan pelecehan terhadap perempuan akan selalu mendapatkan tempatnya dalam dunia hiburan, yang sayangnya ‘dikukuhkan’ sendiri oleh tokoh-tokoh perempuan yang dikenal intelek. Apapun keuntungan yang mungkin mereka peroleh, perempuan tetap saja berada dalam plot yang telah dirancang oleh sistem besar yang dominan, dalam hal ini kapitalisme. Para panelis Silat Lidah mungkin tidak mau disebut sebagai korban dalam industri ini, namun tidak dapat dipungkiri bahwa acara seperti ini mengandung tendensi yang mengeksploitasi perempuan.

Sudah sedemikian parahkan perempuan dalam televisi? Secara umum kesadaran jender di kalangan pemrakarsa program televisi memang kurang, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Akan tetapi, sebenarnya yang menjadi tujuan utama adalah publik itu sendiri. Tayangan layar kaca hanya akan mengikuti pandangan mainstream di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, pandangan dan sikap warga sebagai pemirsa yang ‘sensitif-jender’ sangat diperlukan sehingga bias-bias yang senantiasa bersarang di dalam ‘kotak ajaib’ bernama televisi itu bisa direduksi atau bahkan dihilangkan sama sekali.

 

*Artikel ini telah dimuat di Harian Padang Ekspres, Minggu 9 Maret 2008.