Serial Harry Potter resmi berakhir. Di Indonesia hal itu ditandai dengan diterbitkannya edisi terjemahan ke dalam bahasa kita 13 Januari lalu (versi aslinya memang sudah duluan terbit bulan Juli tahun 2007). Namun, yang menarik untuk dicermati adalah fakta bahwa minat pembaca begitu besar terhadap Harry Potter. Peluncuran versi Indonesia yang dilakukan di Gramedia, Matraman, Jakarta disertai oleh konvoi komunitas-komunitas penggemar Harry Potter yang rela antri jam 12.00 malam demi mendapatkan buku tersebut!

Rupert, Emma, and Daniel

Tidak berlebihan jika kemudian kita menyebut Harry Potter sebagai sebuah masterpiece, atau karya besar. Sejak kemunculannya yang pertama, buku ini telah banyak memenangkan penghargaan, di antaranya Whitaker Platinum Books Award, Nestle Smarties Book Prize, Children’s Book of the Year Award, atau Scottish Arts Council Book Award. Saat ini, Harry Potter bisa disebut sebagai ikon budaya populer dalam sastra anak. Ia menjadi simbol bacaan anak-anak di seluruh dunia dan menginspirasi terbitnya buku-buku lain.

J.K. Rowling, barangkali, dapat disejajarkan dengan Charles Dickens, pengarang novel asal Inggris pada abad ke-19. Ia dikenal sebagai penulis yang produktif nan terkenal pada masanya. Rowling dan Dickens sama-sama lihai menciptakan karakter-karakter unik, baik sifat, rupa, dan nama mereka. Karya mereka juga mampu menjaring segala usia. Perbedaan mungkin terletak pada setting cerita yang digunakan kedua pengarang. Dickens lebih fokus kepada masalah-masalah sosial ekonomi masyarakat London pada awal abad ke-19, sedangkan Rowling memilih bercerita tentang dunia fantasi berlatar Inggris.

Mungkin karena itulah Rowling lebih bebas mengeksplorasi ide, menjelajahi dunia khayalan yang tanpa batas sehingga bisa menulis cerita Harry Potter sebanyak tujuh seri. Hasilnya, jika kita bicara penjualan buku dan animo masyarakat, Dickens ‘tidak ada apa-apanya’ dibanding Rowling. Namun, yang pasti, karya-karya Dickens telah menjadi klasik, kanon sastra, yang tetap dibaca sampai sekarang. Apakah Harry Potter akan mengikutinya? Tampaknya ia sedang berjalan menuju ke sana.

Sebuah anomali
Harry Potter telah menjadi bacaan wajib anak-anak di Inggris dan Amerika. Ia telah mementahkan pendapat banyak kalangan dan ahli pendidikan yang mengatakan bahwa buku bacaan anak-anak mesti tipis dan bergambar. Rowling begitu pandai membius dan menggiring fantasi pembacanya, sehingga anak-anak tidak memerlukan gambar sebagai ilustrasi cerita. Harry Potter and the Order of Phoenix, misalnya, memiliki 896 halaman dan mereka rela antri panjang mendapatkannya seperti membeli sembako. Harganya juga tergolong selangit untuk buku anak-anak; rata-rata serial tersebut berbanderol Rp200.000 /eksemplar.

Di tengah riset-riset yang menunjukkan bahwa minat dan budaya baca masyarakat kita masih rendah, penggemar Harry Potter seperti ‘membungkamnya’ dengan minat baca yang luar bisa terhadap buku tersebut. Pembacaan dan apresiasi terhadap sastra di tanah air memang tengah mandeg dan minim, namun hal tersebut tidak berlaku bagi Harry Potter. Ia bahkan menembus segala usia; anak-anak, remaja, sampai orang tua pun ikut membacanya. Komunitas-komunitas penggemar Harry Potter bertebaran di mana-mana. Begitu banyak diskusi-diskusi online di Internet, sehingga banyak orang berinisiatif membuat website sendiri yang bertemakan Harry Potter. Tidak sedikit pula anak yang memimpikan dirinya ‘menjadi’ Harry, Ron, atau Hermione. Harry Potter adalah sebuah anomali.

Dekade lalu, anak-anak dan remaja mungkin suka membaca kisah petualangan Lima Sekawan karya Enid Blyton, Trio Detektif-nya Sir Arthur Conan Doyle, atau bahkan serial hantu Goosebumps-nya R.L. Stine, yang lumayan laris di toko-toko buku. Semuanya memunyai kesamaan, yaitu bercerita tentang petualangan. Harry Potter juga hadir dalam genre serupa, sehingga ia relatif mudah menjaring penggemar. Membaca buku cerita dan petualangan membangkitkan rasa ingin tahu dan penasaran akan isi buku tersebut. Inilah yang dimanfaatkan oleh Rowling sehingga anak-anak bisa menahan kantuk demi menyelesaikan bab Harry Potter-nya yang nanggung. Tingkat ingin tahu terhadap bacaan merupakan salah satu pemicu tingginya minat baca.

Harry Potter pun menyingkirkan anggapan bahwa anak-anak dan remaja Indonesia tidak suka membaca. Anak-anak sekarang ternyata sudah pintar dan tahu mana buku bagus, menarik, dan tidak ‘menggurui’ untuk mereka baca. Bukannya merendahkan kualitas buku dan cerita lokal, namun serial Harry Potter yang rata-rata 900 halaman, tanpa gambar, dan berharga ‘selangit’ dapat dibaca dan dinikmati oleh sebagian besar pelajar di negeri ini. Jelas serial tersebut bisa merangsang minat. Memang karya yang bagus baru bisa diketahui setelah dibaca, tetapi setelah lewat enam seri, ternyata buku Harry Potter masih ditunggu. Harry Potter and the Deathly Hallows, seri terakhir misalnya, ludes sebanyak 15 juta eksemplar dalam 24 jam pertama!

Pasca Harry Potter
Namun, yang jadi persoalan adalah ketika Harry Potter sudah ‘tidak ada lagi,’ apakah angka-angka yang menunjukkan rendahnya budaya baca kita kembali mencuat? Menurut laporan Bank Dunia dan riset IEA (International Association for the Evolution of Education Achievement) di Asia Timur, Indonesia berada di urutan terbuncit menyangkut masalah minat baca anak-anak, dengan skor 51.7, di bawah Philipina (52.6), Thailand (65.1), Singapura (74.0), dan Hongkong (75.5). Laporan UNESCO mengatakan bahwa satu koran di Indonesia masih dibaca oleh 42 orang, padahal rasio idealnya adalah 1:10. Sejak reformasi 1998, jumlah tiras koran, majalah serta tabloid hanya mencapai 16-17 juta eksemplar. Sampai tahun 2007 saja, angka buta huruf di Indonesia masih mencapai 7.5%. Kita memang belum bisa menutupi rendahnya budaya membaca masyarakat kita.

Apakah anak-anak dan remaja Indonesia hanya mau membaca Harry Potter? Mengerikan kalau begitu. Serial Harry Potter telah berakhir, lantas apakah minat baca kita juga ikut berakhir? Anak-anak di seluruh dunia tentu mengharapkan Rowling menulis cerita-cerita fenomenal lagi. Namun, bagaimana kalau ia menyatakan ‘gantung pena’ dan memilih menikmati kekayaannya dalam waktu yang tidak ditentukan? Kita tidak bisa hanya menggantungkan minat baca kepada seorang Rowling.

Sapardi Djoko Damono, dalam suatu kesempatan, mengatakan bahwa literatur Indonesia untuk anak-anak terkesan memblokir kreativitas mereka. Anak-anak diberi teori dan bukan penghayatan. Mereka menjadi kurang kreatif, karena penanaman “diam, duduk manis dan tidak boleh nakal.” Imajinasi mereka dikekang dan setiap cerita dijejali dengan beban nasehat yang berat, sehingga mematikan minat membacanya.

Harry Potter hendaknya bisa menjadi tantangan bagi penulis cerita Indonesia untuk menulis kisah yang baik (tidak perlu fenomenal dan menjadi best-seller dunia), namun bisa menumbuhkan rasa penasaran dan merangsang minat, sehingga membaca bisa menjadi budaya. Setelah Harry Potter, lalu apa? Ya, terus membaca!

*Artikel ini telah dimuat di Harian Padang Ekspres, Minggu 27 Januari 2008