Budaya, menurut Raymond Williams (1963) dalam bukunya Resources of Hope: Culture, Democracy, Socialism, berdasarkan sejarahnya, dapat dibagi menjadi dua: budaya ‘Tinggi’ dan budaya ‘Rendah’. Dikotomi tersebut kemudian dikenal dengan istilah highbrow dan lowbrow. Highbrow diasosiasikan dengan kaum borjuis ‘elit’ kaya dalam bentuk musik klasik, seni ‘serius,’ balet, teater dan sebagainya. Dan jika seseorang ingin dianggap berbudaya, maka ia harus berpartisipasi dalam bentuk-bentuk produk budaya tinggi tersebut.

radja

Sedangkan lowbrow atau yang sekarang kita kenal dengan budaya ‘populer’ diasosisikan dengan kaum menengah ke bawah dan masyarakat strata rendah dengan pernyataan yang lebih vulgar dan tidak intelektual, seperti even olah raga, televisi, musik pop, dan sebagainya. Budaya populer hadir sebagai alat pemberontakan kaum marginal terhadap represi budaya ‘Tinggi.’ Kata ‘populer’ sendiri muncul pada akhir tahun 50-an sampai awal 60-an. Menurut Dick Hebdige (1988), kata tersebut digunakan sebagai slogan oleh pergerakan massa untuk melawan komposisi ‘seni serius.’ Produk budaya pop, terutama musik, dapat menjaring seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, ABG (Anak Baru Gede), dan dewasa. Di Barat, misalnya, muncul The Beatles, Pop, Rolling Stone, atau Duran-Duran sebagai ikon budaya musik pop.

Di Indonesia, nama-nama band pop beken seperti Peterpan, Samsons, Ada Band, Ungu, Letto, Nidji, atau Radja sedang jadi buah bibir. Penyanyi solo karir juga ikut menyemarakkan toko-toko kaset seantero negeri dalam usaha memuaskan konsumen. Semuanya bernaung di bawah payung musik pop. Banyaknya variasi membuat persaingan dalam industri musik pop begitu ketat. Pendengar, secara otomatis, menjadi penentu sukses tidaknya musik pop. Lagu yang dekat di hati dan enak didengar akan bertahan. Menurut Theodor Adorno dalam esainya yang berjudul “On Popular Music” (1941), musik pop masuk dalam kategori instan karena cepat menanjak dan cepat pudar. Namun para pendengar bisa berganti selera sesuka hati karena tawaran begitu beragam.

Variasi tentu meninggalkan pola dan bentuk. Rata-rata, lagu-lagu pop di Indonesia bertema tentang hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan; naksir, cemburu, patah hati, dan hal-hal sejenisnya. Musik pop juga harus mengenal pasar dan peminatnya. Karena ‘cinta’ bersifat universal dan dialami semua orang, lagu-lagu pop dengan bebas mengeksplorasi hal abstrak tersebut melalui representasi jender dalam suatu hubungan cinta.

Jender dan Pemaknaan Perempuan
Konsep jender pertama kali muncul karena perbedaan fundamental antara dua jenis manusia, laki-laki dan perempuan. Jender, menurut Judith Butler (1990), merupakan sifat-sifat yang dibentuk dan dikonstruksi secara sosial dan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Laki-laki ‘diberikan’ sifat kuat, agresif, dan rasional, sedangkan perempuan dilabeli sifat lemah, pasif, dan irasional dan hal itu diterima sebagai kodrat atau ketentuan Tuhan.

Namun, perbedaan tersebut ternyata menimbulkan ketidakadilan jender: laki-laki diberikan kesempatan lebih luas untuk mengeksplorasi diri di ranah publik sehingga mempunyai akses lebih untuk kemajuan dirinya. Sedangkan perempuan terkungkung dalam ranah domestik, sehingga tertutup kemungkinan bagi dirinya untuk mengembangkan potensi diri.

Hal ini terjadi berlarut-larut, sehingga kaum laki-laki merasa dirinya lebih superior daripada perempuan. Simone de Beauvoir (1949) dalam buku legendarisnya The Second Sex menyatakan bahwa yang ‘dianggap’ manusia itu adalah laki-laki, sedangkan perempuan adalah pelengkap bagi laki-laki. Hal ini seolah mendapat legitimasi dari mitologi penciptaan Adam dan Hawa, di mana Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, sehingga Adam dan kaumnya bisa ‘mendefinisikan’ Hawa dan kaumnya berdasarkan ketentuan mereka sendiri.

Menurut Eko Subiantoro (2002) dalam Jurnal Perempuan, masyarakat patriakhi menghendaki perempuan untuk merelakan harga dirinya, kemampuan, maupun eksistensinya dalam bayang-bayang laki-laki karena hal itu dianggap sebagai kodrat yang harus diterima sebagai penebus dosa atas kelalaiannya sehingga Adam diturunkan ke bumi dan menanggung penderitaan manusia. Untuk itu menjadi menderita karena laki-laki adalah suatu kehormatan dan diyakini sebagai sebuah penebusan dosa. Maka, melakukan perlawanan terhadap laki-laki–yang telah memberi kesempatan untuk menebus dosa–dianggap sebagai sikap yang tidak bertanggung jawab dan tidak tahu berterima kasih!

Dengan subordinasi perempuan seperti yang digambarkan di atas, bias jender selanjutnya dapat ditemui di mana-mana. Mulai dari buku pelajaran anak Sekolah Dasar, misalnya, di mana diceritakan seorang Bapak sedang membaca koran di ruang depan, sementara Ibu sedang memasak di dapur. Ketika streotip jender seperti itu telah ditanamkan sejak dini, tidak heran jika masalah tersebut menjadi biasa, karena dianggap memang begitulah adanya.

Musik populer juga salah satu medium bias jender karena lirik-lirik yang ditulis umumnya menggambarkan ketidakadilan posisi laki-laki dan perempuan. Pada lirik lagu penyanyi laki-laki biasanya terdapat tokoh perempuan yang lemah dan mengharapkan perlindungan laki-laki; dalam hubungan percintaan, pihak laki-laki sering digambarkan sebagai ‘Sang Pangeran’ berkuda putih yang datang menyelamatkan ‘Sang Puteri.’ Ketika Sang Pangeran datang, Sang Puteri akan mendapat ‘arti’ dan memperoleh cintanya yang hilang kembali.

Musik pop telah menjadi industri dan mengalami persaingan yang sengit. Oleh karena itu, pasar merupakan faktor utama dalam penciptaan suatu karya musik, sebab musik yang laku dan terjual berjuta-juta kopi adalah yang disukai pasar. Jika tema lagu tentang ‘patah hati’ laris manis di pasaran, puluhan lagu sejenisnya akan bermunculan. Ketika lirik-lirik yang bias jender menjadi konsumsi utama masyarakat yang permisif dan tidak kritis, para pelakon musik pop tetap akan mengusung lagu-lagu sejenis. Variasi tema lagu yang bias jender selanjutnya memulai babak baru dalam musik pop di Indonesia.

Representasi jender ini pada akhirnya dapat dilihat sebagai cerminan budaya populer di Indonesia dalam menyingkapi persoalan yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Lirik-lirik lagu dari band dan penyanyi pop sering menyajikan dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan.

Radja dan Perempuan ‘Ideal’
Karya-karya musik populer selalu berkaitan dengan konsep jender dan seksualitas. Sejauh ini, perdebatan mengenai fakta penciptaan lirik lagu populer meninggalkan sebuah pertanyaan: Benarkah sebuah grup band adalah wadahnya kaum lelaki? Tulisan ini akan membahas Radja, sebuah grup band terkemuka di Indonesia (untuk saat ini, tapi entah dua atau tiga tahun lagi) karena lirik-liriknya yang secara vulgar mengandung isu-isu jender.

Kenapa Radja? Rasanya lebih banyak band lain yang lebih ‘pantas’ untuk dibicarakan, seperti Ungu atau Peterpan yang vokalisnya ganteng, Gigi atau Dewa 19 yang sudah lama mapan, atau Letto dan Nidji yang mengusung lirik-lirik bercita rasa Inggris. Namun, Radja selalu ramai dibicarakan, lagunya diputar di berbagai stasiun radio, konser di berbagai dearah, dan langganan sebagai musik wajib mikrolet dan bus kota. Walaupun vokalisnya sulit dikategorikan tampan, namun, lagu-lagu yang ditulisnya sering didendangkan karena mudah mengena dan berbaur dengan tipe masyarakat kita.

Lagu-lagu seperti Jujur, Tulus, atau Aku Ada Karena Kau Ada, sepertinya selalu hits dan sudah tidak asing di telinga. Dan yang lebih meyakinkan dan susah di tolak adalah fakta bahwa penjualan album mereka yang dianugerahi Multi Platinum Award, alias penjualan di atas dua juta kopi dalam enam bulan pertama. Prestasi yang sulit ditandingi untuk kategori band yang baru berumur enam tahun. Pertanyaannya adalah: Kenapa lagu Radja bisa laku keras?

Lagu-lagu Radja dapat berterima dengan baik pada masyarakat kita yang memang rata-rata masih dijerat oleh ideologi patriarki. Lirik-lirik Ian Kasela dkk memang rata-rata menceritakan kisah-kisah perempuan yang butuh perlindungan laki-laki, stereotip-stereotip khas patriarki yang melabeli lawan jenis mereka dengan istilah ‘bunga,’ ‘bulan,’ ‘kembang,’ ‘bintang,’ atau ‘gelapnya malam.’ Perempuan, bagi Radja, adalah ‘Cinderella’ yang butuh pertolongan dan keajaiban untuk mendapatkan cintanya yang hilang. Simak lirik Tetaplah Kau Jadi Milikku di bawah ini:

Bisakah engkau kuagungkan
Sesuci dan secantik sang Rembulan
Mampukah engkau menahan godaan
Dari seribu rayu manis yang datang

Jangan pernah merasa gelap
Di antara sinar-sinar yang terang.

Kalimat-kalimat di atas tentu diambil dari sudut pandang laki-laki (dan memang seluruh personal Radja adalah laki-laki), yang mendefinisikan perempuan sebagai produksi dari konstruksi sosial. Laki-laki adalah pemburu (hunter), sedangkan perempuan adalah mangsa (prey). Hal ini menciptakan stereotip bahwa laki-laki adalah pihak yang aktif, sedangkan perempuan pihak yang pasif.

Sifat pasif diibaratkan dengan Sang Rembulan dan sifat aktif disimbolkan pada frase Seribu rayu manis yang datang. Bulan (pasif=perempuan) hanya bisa menerima dan memantulkan sinar matahari, yang direpresentasikan oleh Sinar-sinar yang terang (aktif=laki-laki), karena tidak mempunyai cahaya sendiri. Helene Cixous (1975) dengan sinis menyatakan bahwa jika perempuan tidak pasif, maka ia tidak ‘eksis’ karena peran perempuan aktif tidak (belum) diterima oleh masyarakat patriarkal.

Lebih jauh lagi, de Beauvoir mengatakan bahwa seseorang tidak dilahirkan ‘sebagai’ perempuan, tetapi ‘menjadi’ perempuan. Perempuan telah lama dikonstruksi secara sosial dan bawah sadar untuk menjadi pasif. Kapasitas mereka dalam lingkungan sosial adalah untuk menghibur, menyenangkan, dan memuaskan (laki-laki). Pada diri perempuan, masih menurut martir feminisme Perancis itu, terdapat konflik batin antara kebebasan dirinya sebagai individu dengan objektfikasi dirinya di depan laki-laki.

Perempuan secara sosial diajarkan bahwa untuk menghibur, menyenangkan, dan memuaskan (bahkan untuk membebaskan dirinya), ia harus memposisikan dirinya sebagai objek. Lagu-lagu Radja, dalam koridor yang besar, membawa pola-pola seperti ini. Contoh lainnya dapat dilihat pada lagu Takkan Melupakanmu, Yakin, dan Benci Bilang Cinta.

Senyumlah melati
Sambutlah mentari
Raihlah cintamu hari ini (Takkan)

Seperti bintang kupuja dirimu
Seperti malam datang (Yakin)

Bila kau malam gelap aku bintangmu
Kuterangi dirimu dengan cintaku
Agar kau bisa mencintai cinta (BBC)

Lirik-lirik di atas menjelaskan konsep pasif pada perempuan. Ia diasosiasikan dengan bunga, melati. Bunga hanya berkembang dengan bantuan sinar mentari. Hanya dengan kehadiran mentari (laki-laki), sang melati (perempuan) akan memperoleh hasratnya untuk dicintai dan mendapatkan arti. Pada lagu-lagu berikutnya, perempuan direpresentasikan pada oposisi biner patriarki siang/malam, di mana ia harus menanti, dengan pasif, akan kedatangan laki-laki yang akan mencintainya. Bintang dan malam gelap, lalu, memperkokoh dikotomi tersebut.

Perempuan pasif sepertinya adalah impian bagi personel Radja, yang dalam hal ini mewakili kaum laki-laki. Perempuan yang pasif, penurut, dan nrimo akan mudah dikendalikan sehingga budaya patriarki akan tetap lestari. Terhadap stereotip ini, feminis Mary Daly (1978) secara radikal mengatakan bahwa perempuan telah ‘dibekukan’ untuk menjadi pelengkap laki-laki dan hanya bergerak bila diperintahkan, seperti ‘robot’ yang dikendalikan radio kontrol. Lagu Cinderella kurang lebih juga menggambarkan sifat pasif perempuan. Radja, dengan semangat patriarki, menyanyikan dongeng tersebut dengan perspektif lama. Lagu tersebut hanya berfokus pada Cinderella sebagai objek, pelengkap penderita:

Ada sebuah kisah tentang dara jelita
Hidup selalu penuh dera dan siksa

Si Cinderella, dalam kesedihannya, tidak melakukan apa-apa untuk mengubah nasibnya; ia hanya pasrah menunggu keajaiban datang. Dan ketika keajaiban tersebut akhirnya mampir, dia mendapatkan laki-laki yang dicintainya– Semua mata terpana dan pangeran jatuh cinta padanya–walaupun hanya sesaat. Jika perempuan ingin bahagia, ia harus dicintai; supaya dicintai, ia harus menunggu (dengan pasif) sampai pecintanya datang. Perempuan adalah sang Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, atau mereka yang duduk diam dan pasrah akan nasibnya.

Dalam lagu atau dongeng, kata de Beauvoir, seorang pangeran diceritakan berpetualang menempuh bahaya dalam menyelamatkan sang putri calon kekasihnya. Dia membunuh sang naga, menaklukkan para raksasa, melewati gunung; sedangkan sang putri terkurung di dalam kastil, gua, atau menara, menunggu sebagai tahanan, terikat pada rantai, atau mati suri karena memakan apel beracun; ia hanya bisa menunggu.

Lirik-lirik dalam lagu-lagu populer menceritakan sekaligus memperolok perempuan dengan mimpi-mimpi semu dan janji palsu. Lagu Radja, alih-alih mengubah tatanan sosial, malah melestarikan ideologi patriarki dalam masyarakat. Dengan istilah yang lebih radikal, Tania Modleski (1986) mengatakan bahwa kaum perempuan telah ‘ditiadakan’ oleh budaya populer. Mereka ‘hilang’ dalam tatanan kata-kata dan lirik-lirik yang ditulis melalui pengalaman dan fantasi maskulin. Masyarakat kita secara mewabah dijangkiti penyakit seksis karena berakar pada berbagai relasi maskulinitas.

‘Sabuk pengaman’ patriarki
Lagu Radja diterima baik oleh seluruh lapisan masyarakat, walaupun mereka mendukung ideologi patriarki dalam penciptaan lirik-liriknya. Band ini, seperti kebanyakan band di Indonesia lebih memilih tema tersebut karena itulah yang ingin didengar oleh masyarakat kita, karena dalam industri musik populer, telinga pendengar-lah yang menjadi ‘Raja’ sesungguhnya.

Budaya massa tidak lagi menyajikan mutu; jika seseorang bosan dengan lagu yang satu, ia dapat dengan mudah beralih pada seribu pilihan baru. Radja sepertinya tidak perlu capek-capek bekerja menciptakan lagu-lagu rumit yang multi interpretatif (yang mungkin disukai oleh salah seorang personilnya). Faktanya adalah bahwa lagu-lagu yang disukai adalah yang bersifat seksis dan menyajikan dikotomi usang terhadap laki-laki dan perempuan.

Karena budaya massa berada di tangan para pemilik dan produser laki-laki, mereka akan menjalankannya demi keuntungan masyarakat patriarki. Musik populer, yang diwakili oleh Radja, telah berfungsi sebagai ‘sabuk pengaman’ bagi ideologi patriarki yang dibonceng mesra oleh kapitalisme. Sedangkan khalayak perempuan hanya menjadi konsumen pasif yang dibius dengan kesadaran palsu dan euforia semu.

Radja, dalam hal ini, hanya ‘mendayung satu kali untuk melewati dua pulau.’ Pada satu sisi, mereka memenuhi permintaan pasar, dan pada sisi lain, mereka melestarikan budaya patriarki. Dua hal tersebut terkait satu sama lain, karena jika tidak, album keempat Radja, Aku Ada Karena Kau Ada, tidak akan terjual sampai dua juta kopi pada tahun 2007!

Masyarakat konsumtif patriarkal-lah yang menentukan eksistensi musik populer, bukan musik populer yang memengaruhi masyarakat. Lagu-lagu bias jender pun sudah menjadi akrab di telinga dan menjadi konsumsi sehari-hari. Dalam musik pop, Radja, dan band-band laki-laki lainnya, mungkin dalam bentuk yang berbeda, akan tetap datang dan pergi silih berganti. Ketika ideologi patriarki begitu berterima dengan baik oleh masyarakat kita, kapan kiranya cita-cita gerakan feminisme bisa terwujud?

Tulisan ini bukanlah bentuk sinis terhadap kaum feminis, namun jika ditelaah dari kaca mata budaya populer, gerakan feminisme masih harus berjuang keras, karena bias jender dan seksisme masih merajalela. Semoga dengan pemahaman dan pandangan kritis terhadap musik populer dan segala bentuk representasi laki-laki dan perempuan di dalamnya, bisa membentuk pola pikir yang bebas bias jender. Karena disadari atau tidak, budaya massa, dalam komoditi musik pop, berpotensi kuat untuk memperkokoh kapitalisme dan patriarki.

*Artikel ini telah dipresentasikan dalam workshop on “Gender and Sexuality in Popular Culture: Voices from Southeast Asia” di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), 4-5 September 2007.