Trauma gempa tektonik sepertinya akan bertambah lama dalam benak masyarakat kota Padang dan daerah-daerah di pesisir barat Sumatera. Dalam dua hari terakhir, telah terjadi lebih dari 120 gempa, baik kecil, sedang, serta kategori besar mencapai 7,9 skala Richter.

gempa

Saya dalam perjalanan dari Payakumbuh ke Solok ketika gempa pertama terjadi pukul 18.10 WIB. Terpaksa turun dari kendaraan dengan panik, semua mobil berhenti mendadak, dan orang-orang yang sedang melakukan ritual balimau di danau Singkarak lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Melalui radio dan headline news televisi diketahui bahwa pusat gempa adalah pantai Bengkulu kedalaman 10 km dan berpotensi tsunami! Kata terakhir sudah sangat menjadi momok bagi masyarakat kita; hantu yang menakutkan, yang bisa membuat wajah bergidik cemas, mata berair, dan lutut gemetaran. Walaupun tahu bahwa tsunami baru akan muncul setelah gempa yang merusak secara ekstrem (sekitar 9 SR), dalam tenggat waktu 30 menit, tetap saja berita, isu, dan ancaman tsunami terlalu merusak pikiran: kata tersebut telah merusak mental masyarakat. Namun, setelah dua jam, akhirnya pihak BMG mencabut kembali peringatan tsunami.

Tiba di Padang pukul 21.30 WIB, saya dijejali dengan berita menyeramkan dari Padang, baik sms, telepon, atau informasi tidak jelas seperti “kata orang sih begitu.” Sebuah mall besar katanya kebakaran hebat karena korslet, banyak rumah yang rata dengan tanah, katanya. Beberapa kerabat  dan teman tidak bisa dihubungi, mungkin karena jaringan sibuk atau tower operator pada roboh? Saya jadi mbeling! Radio, melalui penyiarnya, cuma menyajikan program livetalk biasa yang sifatnya menenangkan warga. Sedangkan informasi detil tentang dampak gempa belum bisa saya ketahui. Beberapa radio swasta malah memutar lagu dangdut! Ya sudah, setelah tarawih, saya tidur.

Ternyata pada pukul 07.00 WIB esok harinya (13/9), gempa susulan yang sangat kuat terjadi lagi. Saya sampai terbangun dari tidur dan langsung keluar rumah. Para tetangga melakukan hal yang sama. Ada yang membawa bantal (mungkin juga terbangun dari tidur), ada yang hanya memakai handuk (mungkin sedang mandi), sementara orang-orang lansia terduduk di jalan sambil menangis. Beberapa berdoa, dengan wajah pucat pasi; anak-anak dipelukan orang tuanya, menangis campur bingung karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Gempa kira-kira berlangsung empat menit. Saya sampai tidak bisa berdiri tegak karena getarannya yang kuat. Suasana tiba-tiba mencekam. Beberapa tetangga langsung mengeluarkan kendaraan, membawa barang-barang berharga, dan pergi begitu saja. Entah ke mana. Yang tidak punya kendaraan terpaksa numpang. Kami juga langsung mengeluarkan kendaraan. Siaga bukan berarti berdiam diri di rumah, setidaknya berusaha menyelamatkan diri. Perkara ajal hanya Khalik yang tahu. Komplek Singgalang langsung sepi dalam 15 menit: Warga pun mengungsi. Suasana di jalanan sudah diprediksi bakal kacau balau.

Simulasi tsunami dan cara evakuasi yang dulu pernah dipraktekkan tidak pernah terealisasikan. Mobil, motor, bahkan sepeda dan becak simpang siur. Saya mengambil jalan ke Simpang Kalumpang dengan asumsi bahwa jalan ke bypass via Simpang Tabing akan macet total. Ternyata sama saja, sama macetnya. Setengah jam berlalu sampai di jalan bypass. Radio tetap menyiarkan pembicaraan pak Walikota yang menenangkan warga. Salut pada Pak Fauzi Bahar: beliau tidak berusaha ‘kabur,’ tapi malah ikut mengambil corong di RRI yang letaknya cuma 700 meter dari bibir pantai. Tsunami tetap saja ancaman, namun setelah setengah jam, sepertinya tidak ada tanda-tanda air laut naik drastis.

Hal yang menyedihkan tentu saja kejadian di sepanjang jalan bypass. Dalam rentang 10 menit, saya sudah menyaksikan tiga sepeda motor terpelanting, dan mobil yang tergencet karena berebut jalur. Suasana panik tak terhindarkan; motor-motor melaju kencang dengan muatan bahkan sampai lima orang, tanpa pelindung kepala, dan tidak jelas ke mana tujuannya. Semuanya ingin menyelamatkan diri.

Dua jam berselang, tidak juga terlihat tanda-tanda tsunami. Air laut sepertinya adem-adem saja. Cuaca cerah, langit terang. Kami pulang. Namun, satu hal yang cukup menyita perhatian adalah SPBU. Kami telah melewati beberapa SPBU pertamina tanpa satupun petugas yang melayani. Tangki- tangki bensin dan solar dibiarkan kosong tanpa petugas. Bagi yang keukeuh ingin mengisi bahan bakar, dengan setia menunggu di sana. “Beko kalau tsunami, awak harus lari. Ancak isi minyak banyak-banyak, bia ndak bedo beko,” kata salah seorang bapak yang antri mengisi bensin.

Toh, para petugas SPBU juga manusia. Mereka juga punya rasa takut dan pergi menyelamatkan diri masing-masing. Ketika salah satu SPBU di Tabing buka, terang saja petugasnya menjadi pahlawan dadakan. Rebutan kembali terjadi. Pos yang sedianya diperuntukkan bagi sepeda motor telah penuh dan pengendara lainnya masuk ke pos mobil. Runyam dan penuh sesak.

Perumahan Singgalang masih mencekam. Beberapa pemuka warga ketahuan ‘melarikan diri.’ Bukannya membantu menenangkan warganya dari kepanikan, malah sibuk dengan diri sendiri. Semua orang takut mati. Beberapa tetangga sudah tidak menghuni rumah mereka lagi. Mungkin pulang kampung, mengungsi ke Indarung atau Limau Manis, saya tidak tahu. Yang jelas, gempa susulan masih terasa. Saya terduduk tanpa bisa bicara apa-apa.

Siangnya, saya putuskan untuk melihat-lihat keadaan kota, dari jalan utama Khatib Sulaiman, sampai Jalan Pemuda, hingga ke Pasar Raya. Kota sunyi senyap. Hanya beberapa kendaraan yang terlihat lewat di jalan.  Angkot nyaris tidak ada. Baru kali ini saya melihat Pasar Raya Padang yang biasanya sibuk, sesak, dan macet menjadi tenang, lapang, dan sunyi. Ternyata benar berita yang kemaren bahwa banyak gedung yang ambruk. PT Suka Fajar milik keluarga Kasim dan juga showroom ruko di daerah Sawahan dan Pemuda juga mengalami kerusakan berat.

Jalan Permindo senyap. Toko-toko tidak ada yang buka satu pun. Plas Andalas ternyata memang rusak berat seperti yang diberitakan kemaren malam. Gerbang utama pusat perbelanjaan yang didominasi Ramayana itu rubuh. Dinding lantai tiga bagian depan jebol. Saya ngeri membayangkan apa yang terjadi kemaren sore, ketika manusia lalulalang di depan gerbang tersebut. “Tabaka patang, Nak, korslet mungkin. Tigo urang mati kabanyo,” tutur salah orang bapak yang kebetulan bersama saya mengambil gambar di depan jalan. Aduh!

Saya yakin setelah kejadian gempa ini, Plasa Andalas tidak akan dikunjungi lagi. Bukan apa-apa, selain bagian depannya runtuh, bagian belakang plasa tersebut juga ambruk dan terdapat retak terbuka memanjang horizontal di sepanjang dinding utamanya. Jika tidak dipugar baik-baik mungkin, Plasa Andalas sepertinya hanya tinggal menunggu ajalnya. Saya jadi melamun sendiri. Masih trauma. Mungkin 4JJI sedang menguji hamba-hambanya pada hari pertama puasa ini. Eh, tiba-tiba gempa! Hmm, ternyata, cuma kepala saya yang agak pusing..