Stoick facing one of the wildest dragons

Bayangkan adegan ini: arena tertutup dengan atap jeruji besi, beberapa rak senjata berisi tameng dan kapak, serta penonton yang bersorak riuh. Sekilas, salah satu adegan paling seru dalam film animasi How to Train Your Dragon (2010) ini mirip dengan kontes gladiator. Tetapi acara tersebut adalah ajang bagi anak-anak bangsa Viking untuk diakui sebagai keturunan Nordic sejati: berlatih membunuh naga!

Naga mungkin merupakan makhluk fantasi paling cool dalam bayangan anak-anak. Ular raksasa bersayap, dengan cakar tajam, dan bisa menyemburkan api; hewan apa lagi yang lebih hebat dari itu? Dengan visualisasi dan warna-warna yang cermerlang, Chris Sanders dan Dean DeBlois menuangkannya ke dalam layar 3D tentang seorang anak yang dianggap remeh, namun memiliki visi yang merevolusi budaya bangsa Viking selama ratusan tahun. Saya sudah lama mencintai film-film garapan Pixar. Namun setelah menyaksikan Hiccup terbang a la Avatar bersama naganya, rasa itu harus dibagi dua kepada DreamWorks.

How to Train your Dragon diangkat dari novel anak-anak berjudul sama karangan Cressida Cowell (2003).  Dikisahkan pada zaman dahulu kala, bangsa Viking yang tinggal di kepulauan Berk harus menghadapi “serangan” rutin para naga yang berusaha mencuri cadangan makanan. Stoick the Vast sang kepala suku (suara diisi dengan gaya 300 oleh Gerard Butler), menjadi terobsesi dan mengajak pasukannya untuk mencari sarang berbagai macam spesies naga tersebut dan menghancurkannya.

Sialnya, successor Stoick yang tidak lain adalah putranya sendiri, Hiccup (dengan vokal yang mengesankan oleh Jay Baruchel), justru tidak bisa diharapkan menjadi petarung dalam membunuh naga. Jangankan mengayunkan pedang, bersembunyi saja dia tidak becus. Fisiknya lemah, dan malah lebih berbakat menjadi pandai besi, suatu hal yang selalu dijadikan bahan ledekan oleh teman-teman sebayanya. Walaupun ia putra semata wayang kepala suku, cap pecundang sudah melekat padanya.

Namun, situasi berubah ketika Hiccup menyelamatkan seekor Night Fury yang cedera. Naga hitam yang ia beri nama Toothless tersebut adalah spesies paling buas dan bahkan tidak tercantum keterangannya di dalam Buku Panduan Naga. Melalui persahabatannya dengan Toothless, Hiccup pun berhasil menemukan trik-trik untuk menjinakkan naga-naga yang paling liar sekalipun. Meski harus berseberangan dengan sang ayah, Hiccup dengan filosofi Emersonian-nya tetap ingin mengubah paradigma masyarakat Viking bahwa manusia harus ‘bersahabat’ dengan alam, bukan malah menghancurkannya. How to Train Your Dragon menjadi istimewa dengan skrip yang cukup berbobot, cerdas, sedikit sinisme, dan kearifan-kearifan dasar yang bagus untuk ditonton oleh anak-anak.

Efek tiga dimensi membuat aksi-aksi akrobatik para naga di udara yang seakan meloncat ke luar layar dan lanskap kepulauan Berk yang indah menjadi pengalaman yang seru, tidak terkecuali bagi penonton dewasa. Sebagai film kartun, How to Train Your Dragon menjanjikan cerita heroisme yang epik, haru-biru, dengan konsekuensi logis yang harus diterima oleh sang tokoh utama di akhir cerita. Film ini terlihat sangat ambisius. Dan, apakah Pixar akan tinggal diam? Saya tidak akan heran jika nanti ada animasi tandingan tentang makhluk fantasi lainnya. Phoenix, barangkali?

Sosok detektif yang elegan, dingin dan serius adalah ciri-ciri Sherlock Holmes yang telah berada di relung bawah sadar semua orang. Namun, setelah 75 aktor memerankan Holmes dalam lebih dari 200 film, bisnis layar lebar butuh sesuatu yang segar dan baru. Oke, lalu bagaimana dengan detektif petarung yang bertelanjang dada? Sutradara muda Inggris, Guy Ritchie memoles tokoh detektif terbesar sepanjang masa itu dengan gaya yang cuek, urakan, bahkan jorok; jauh berbeda dari Holmes versi Basil Rathbone yang klimis. Holmes versi Ritchie adalah detektif rock n’ roll, ceplas-ceplos, namun tetap cerdas dengan kemampuan deduksi dan membaca jejak tiada tara. Sungguh, saya sanget respek dengan kreatifitas macam ini.

Gambaran seperti ini rupanya justru paling mendekati sosok Holmes rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Detektif pecandu kokain tersebut dalam kesehariannya sangat menggemari beladiri. Dalam novel The Sign of the Four, sang pengarang juga sempat menyebutkan bahwa Holmes adalah seorang petarung, yang andal baik dengan tangan kosong, senjata tajam maupun pistol. Namun Sir Arthur tidak sempat mendalaminya. Nah, hal inilah yang dieksplorasi habis-habisan dalam Sherlock Homes (2009). Singkatnya, Holmes “baru” ini adalah detektif yang menggunakan otak dan otot. Ritchie memadukan keduanya dengan kemampuan Holmes untuk mengkalkulasi akibat dari setiap gerakannya dengan teknik slow motion, sehingga memberikan kesempatan pada penonton untuk mengagumi daya analisis sekaligus kekuatan tinju Holmes! Jika Sir Arthur masih hidup, beliau akan menjabat tangan Ritchie..

Syahdan, Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) dan rekannya Dr. John Watson (Jude Law) dibayar untuk memburu kriminal berbahaya bernama Lord Blackwood (Mark Strong) yang meneror masyarakat London dengan ilmu hitam. Bekerjasama dengan kepolisian Scotland Yard, mereka berhasil menangkap Blackwood untuk digantung. Namun, Blackwood berhasil “bangkit” dari kubur dan membunuhi korbannya satu-persatu. Kali ini Holmes harus menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghentikan Blackwood.

Aksi duel dan kejar-kejaran plus ledakan mewarnai kisah penyelidikan Holmes yang tidak lazim ini di kota London era Victoria akhir abad ke-19 yang kumuh, dark, dan penuh dengan pembangunan infrastuktur— menandai revolusi industri di negara tersebut. Mereka menjelajahi saluran air bawah tanah, penggilingan daging, sampai ke puncak Tower Bridge yang sedang dibangun. Holmes dan Watson pun masih keluar masuk flat nomor 221B Baker Street yang legendaris itu, ditemani seekor bulldog lucu yang sering menjadi korban eksperimen sang detektif. Diiringi dengan score dan musik yang dinamis, film ini membuat Anda susah berkedip. Dan sebagaimana lazimnya cerita-cerita detektif, Holmes membeberkan hipotesisnya dengan brilian di hadapan sang musuh pada adegan pamungkas. Saya salut dengan keempat penulis skenario Sherlock Holmes, tapi sayangnya semua hal di atas tidak akan banyak diingat orang.

Terlalu Dominan
Atraksi utama dari film calon franchise laris ini adalah Robert Downey Jr. Dengan aksen Inggris lumayan (berkat pengalaman memerankan komedian Charlie Chaplin), aktor cerdas ini mampu menyuguhkan karakter berbeda dari Sherlock Holmes konservatif. Holmes versi Downey Jr. adalah kombinasi kejeniusan McGyver dan kesintingan Jack Sparrow. Ia memerankan karakter post-modern yang jauh “melompati” zamannya. Ritchie tentu paham bahwa karakterisasi semacam ini hanya akan menyenangkan kelompok penonton tertentu saja.

Sosok Homes tentu tidak bisa lepas dari Watson, yang diperankan cukup baik oleh Jude Law (pers Inggris menjulukinya “hot Watson” karena memberikan dimensi baru bagi imej dokter tersebut). Persahabatan Holmes-Watson ditampilkan dengan atmosfer benci tapi rindu, mirip pasangan suami istri menopause yang selalu bertikai karena hal-hal sepele setiap hari. Watson selalu “cerewet” dan mengkritik setiap tindak-tanduk Holmes, sebaliknya Holmes pun berusaha mencegah Mary Morstan (Kelly Reilly) menjadi kekasih Watson agar ia tidak ditinggal sendirian. Dialog-dialog cerdas dan nakal berhamburan dari mulut mereka. Kita mungkin menangkap kesan homoerotika di dalamnya, namun kadarnya tidak berlebihan, sehingga tidak akan terlihat sebagai Brokeback Mountain jilid dua.

Namun, dua tokoh tersebut terlalu dominan sepanjang 130 menit cerita. Dengan plot yang super cepat, karakter antagonis seperti Blackwood, Coward (Hans Matheson), Irene Adler (Rachel McAdams), Insp. Lestrade (Eddie Marsan) dan lainnya terlihat seperti setumpuk koran bekas yang siap dibuang saja. Blackwood susah disamakan dengan Joker dalam film The Dark Knight, misalnya, yang begitu sulit dilupakan penonton. Seperti yang diduga, Irene Adler hanya tampil sebagai pelengkap penderita, sehingga gagal total meyakinkan saya kalau perempuan ini memang tandingan setara Holmes. Bagi Ritchie, dekonstruksi penokohan Holmes adalah segala-galanya.

Ya, ini adalah film tentang dua pria yang terpanjang di poster Sherlock Holmes tersebut, tidak lebih (dan semoga mereka mendapatkan piala untuk itu). Bisa dipahami, bahwa Ritchie memang dibayar oleh Warner Bros. untuk mempersiapkan sebuah franchise, sehingga sosok Holmes “baru” tersebut harus melekat dahulu di hati penonton (muda). Mengutip Leslie S. Klinger, editor buku The New Annotated of Sherlock Holmes, “It’s like new wine in old bottles.” Pekerjaannya tidak mudah karena ia sedang menjungkirbalikkan imej detektif ternama yang sudah terpatri di benak setiap orang.

Untuk itu, Sherlock Holmes membuka pintu untuk film kedua, karena masih ada lawan berat yang sedang menunggu sang detektif: Profesor Moriarty (konon akan diperankan oleh Brad Pitt). Kita tunggu sekuel “panas” itu, Mr. Ritchie!

James Cameron. Dialah penyebab semua chaos ini. Lima belas tahun yang lalu, sutradara film Titanic itu mengeluh karena imajinasi “liarnya” belum bisa dituangkan ke dalam layar lebar disebabkan keterbatasan teknologi sinematografi. Namun seiring berkembangnya digitalisasi, 3D, CGI apa pun menjadi mungkin. Film terbarunya, Avatar (2009), adalah sebuah terobosan, sesuatu yang tidak mungkin ditonton tanpa teriakan “wow!” atau “edan!”. Saya pikir, mungkin inilah yang dirasakan oleh orang-orang pada tahun 1933 pada saat menonton film King Kong untuk pertama kalinya.

Kali ini, penonton dibawa ke planet Pandora pada gugusan galaksi baru yang akhirnya ditemukan oleh manusia pada tahun 2154. Jake Sully (Sam Worthington), seorang mantan marinir yang lumpuh, ditugasi untuk menjajaki kemungkinan bernegosiasi dengan kaum Na’vi, makhluk pribumi, agar mereka segera meninggalkan pohon besar yang selama ini menjadi “sarang” mereka. Pohon keramat itu ternyata menyimpan sumber mineral langka unobtanium, yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis energi di planet Bumi.

Namun, karena udara di planet Pandora tidak cocok bagi manusia, para ilmuwan mengembangkan program Avatar, yaitu membuat replika makhluk Na’vi. Dengan rekayasa DNA dihasilkan kloning makhluk setinggi tiga meter, berekor, dan berwarna biru pucat itu. Dengan menggunakan kekuatan pikiran, makhluk kloning itu dipakai untuk berinteraksi dengan kaum Na’vi asli. Jake pun mulai mengeksplorasi kehidupan yang eksotis di planet tersebut.

Tetapi, perlahan-lahan Jake mulai menaruh respek terhadap cara hidup kaum Na’vi. Ia juga jatuh hati kepada Neytiri (Zoe Saldana), anak sang kepala suku. Seperti yang diduga, Jake akhirnya menjadi bagian dari mereka untuk menentang invasi makhluk bumi, eh, manusia di Pandora. Tanpa mengurangi sedikitpun level kecanggihan visualisasinya, penonton mulai terseret ke dalam emosi karakter-karakter yang diciptakan Cameron.

Avatar menawarkan pengalaman baru dalam menonton film. Tidak ada adaptasi atau daur ulang di dalam film ini. Semuanya murni inovasi dan imajinasi. Film ini merombak teori bahwa filmblockbuster hanya berasal dari adopsi novel best-seller (Harry Potter, Twilight), komik (Batman, Spiderman), mainan (Transformers) dan lain sebagainya. Mungkin kita telah berulangkali menonton film dengan plot yang serupa, tapi dengan kehebatan teknik visualisasi dan kreativitas Cameron, semuanya tampak berbeda dalam Avatar.

Semangat anti-imperialisme mewarnai film ini, dengan menampilkan konflik klasik antara para penggiat lingkungan dengan pemerintah yang cenderung korup. Avatar merefleksi kerakusan sebagai sifat dasar manusia, yang suka merusak alam tanpa memedulikan kelangsungan ekosistem yang ada di dalamnya. Dari segi cerita, Avatar mungkin belum sedalam dan sekolosal Trilogi The Lord of the Rings, namun ia tetap layak dinobatkan sebagai film tahun ini.

Film ini akan semakin istimewa jika disaksikan di bioskop dengan kacamata khusus. Rasanya belum ada film yang “benar-benar diciptakan” untuk ditonton secara 3D sebaik Avatar. Durasi yang nyaris tiga jam tidak akan terasa, karena setiap menit dari film ini adalah petualangan dan penemuan baru. Cameron benar-benar edan!

Diadaptasi dari novel yang begitu populer dan diarahkan oleh sutradara hebat, film Sang Pemimpi sebenarnya memiliki amunisi lengkap untuk menyerbu pasar. Ekspektasi penonton pasti tinggi sekali, karena prekuelnya, Laskar Pelangi sukses besar: ditonton oleh hampir lima juta orang dan meraih berbagai penghargaan, salah satunya sebagai film terbaik dalam Asia-Pacific Film Festival baru-baru ini.

'Lolongan Arai akhirnya berhasil meluluhkan hati Zakiah Nurmala

Tetapi dari segi narasi, terlepas apakah penilaian ini subjektif atau bukan, saya menganggap Sang Pemimpi lebih baik dari ketiga novel lainnya dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Dengan tokoh-tokoh yang tidak terlalu ’ramai‘ seperti pasar, ceritanya juga mengalami ‘kemajuan’ drastis karena lebih dalam dan filosofis,  nyaris tanpa sub-plot yang tidak penting dan deskripsi yang berpanjang-panjang . Namun, mengadaptasinya menjadi naskah film tentu lain persoalan. Seperti yang diketahui, Andrea Hirata selalu membuat cerita yang terpecah-pecah yang disebutnya sebagai ‘mozaik’ dan kadang tidak paralel. Dengan durasi yang lebih dari dua jam, Riri Riza terlihat hati-hati sekali agar tidak menghilangkan detil cerita sekaligus membuat sebuah alur cerita yang ‘lurus’ agar film menjadi fokus. Satu-persatu mozaik itu dirangkai, dihidupkan oleh gambar-gambar dengan kontrol aperture yang indah dan beberapa di antaranya terlihat ’sangat‘ Belitong.

Tahun 1985. Ikal (Vikri Septiawan) yang telah beranjak remaja pergi meninggalkan teman-teman Laskar Pelangi-nya sewaktu di sekolah dasar. Ia menetap di desa Manggar bersama Arai (Rendy Ahmad) sepupunya yang hidup sebatang kara setelah ditinggal mati ibu bapaknya. Selain itu, ada Jimbron, si gagap yang juga ditinggal mati orang tuanya. Diceritakan suka duka hidup mereka yang jauh dari keluarga; menyewa sebuah gubuk untuk bertiga dan mau bekerja apa saja untuk membiayai sekolah dan menabung demi mimpi kuliah di Eropa.

Seperti halnya film-film dengan tema remaja lainnya, Sang Pemimpi juga menawarkan masalah-masalah anak muda dengan pakem yang kurang lebih sama: pencarian jati diri dan seksualitas, persahabatan, dan ketertarikan dengan lawan jenis. Namun tentu saja film ini tidak menceritakan percintaan remaja urban yang banal dan semau gue. Kesungguhan cinta Arai kepada Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda) seperti Zainuddin kepada Hayati, tokoh-tokoh ciptaan Hamka dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Cinta tulus yang hadir ketika sang lelaki berdendang di depan rumah sang kekasih hanya untuk melihat wajahnya di jendela. Romantisme mereka mencapai puncaknya ketika saling melambaikan tangan saat perpisahan: “Tunggulah abang pulaaaang…” Klasik!

Namun, mereka bukanlah karakter-karakter individualistik, yang memiliki kontrol mutlak terhadap masa depan mereka. Ikal dan Arai memang terobsesi dengan Universitas Sorbonne Paris, tetapi pilihan hidup apa yang dimiliki oleh anak-anak kuli timah? Sebenarnya mereka sangat sadar bahwa sekolah menengah atas itu hanyalah ‘tipu muslihat’ selama tiga tahun sebelum nasib menyeret mereka untuk bergabung dengan bapak-bapak mereka menyekop xenotym di pertambangan. Mereka hanya bisa bermimpi dan memupuk optimisme dalam-dalam. “Kalau tidak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati,” begitu pesan Arai kepada Ikal.

Ada saat-saat ketika mereka terperosok dalam sikap ‘realistis’ yang pelan-pelan menggerogoti mimpi-mimpi itu. Ikal mulai malas masuk sekolah, tabungannya terpaksa dikuras untuk membantu perekonomian keluarga dan sering cekcok dengan kedua sahabatnya. “Kau saja yang pergi ke Paris!” teriaknya pada Arai, yang tidak henti memberinya semangat. Ikal melampiaskannya dengan bekerja pada seorang pemilik kapal yang justru menggangap sekolah bukanlah jalan mencapai keberhasilan.

Beruntung mereka dikelilingi oleh tokoh-tokoh pendukung yang baik. Sang ayah (Mathias Muchus) seperti biasa, dengan karakternya yang sangat kuat, mampu membuatmu menangis sekaligus tertawa hanya dengan dua tiga patah kata dan permainan mimik muka. Ia mengingatkan kita akan figur yang dapat menjadi panutan. Melihat ayahnya yang mengayuh sepeda sejak subuh dari rumah, Ikal tidak punya pilihan selain memperbaiki nilai rapornya yang sempat anjlok. Selain itu ada Bang Zaitun (Jay Subiyakto) sang musisi eksentrik, Pak Balia (Nugie) sang guru motivator, dan Pak Mustar (Landung Simatupang) sang Kepala Sekolah killer namun berhati lembut, sebagai katalisator yang membuat Arai dan Ikal tetap bisa menjaga mimpi-mimpi mereka.

Tidak Banyak Dialog
Film dibuka dengan adegan yang tidak biasa. Mengenakan baju safari empat saku kesayangannya, ayah Ikal mengayuh sepeda menyusuri jalan menuju SMA Negeri Manggar untuk mengambil rapor anak-anaknya. Hening dan bersahaja. Ketika bertemu Ikal dan Arai pun, ia hanya mengangguk dan mengucapkan salam, setelah itu pergi. Setia kepada novelnya, hubungan ayah dan anak ‘tanpa kata-kata’ ini cukup sukses dipertahankan Riri Riza sepanjang cerita.

Namun keheningan tersebut, dalam perspektif yang berbeda, sekaligus menjadi kekurangan film ini, yaitu minimnya dialog antar tokoh. Lukman Sardi yang memerankan Ikal dewasa cenderung bermonolog karena berperan sebagai narator cerita. Nugie dan Landu Simatupang sebenarnya memerankan sosok guru dengan pas, tetapi mereka juga seperti ‘berbicara sendiri’ menghadapi murid-murid yang pasif dan tidak banyak omong. Konflik-konflik yang terjadi antara Ikal, Arai dan Jimbron pun terasa kurang gregetnya, karena tidak ada dialog-dialog yang dapat menunjukkan kemampuan akting yang mumpuni. Zakiah Nurmala bahkan tidak bicara sepatah kata pun. Di sisi ini, Sang Pemimpi tidak dapat memenuhi ekspektasi kelompok penonton yang mengharapkan para pemain saling lempar argumen panjang dengan dialog-dialog cerdas.

Saya rasa, mungkin inilah risiko yang harus diambil oleh sutradara dalam mengadaptasi novel yang ‘menuntut’ begitu banyak adegan filmis  yang, jika dihilangkan, dapat merusak tatanan mood yang telah dibangun para penonton yang sejak awal membaca novel Sang Pemimpi. Karena dalam film kita berbicara tentang durasi,  konsekuensinya tentu saja tidak banyak dialog yang bisa ditampilkan. Instalasi berikutnya, Edensor, diharapkan dapat menebus kekurangan ini.

Walaupun begitu, secara keseluruhan Sang Pemimpi menjadi film penutup tahun yang bagus. Film ini menurut saya berhasil mengesampingkan film-film ‘tidak jelas’ yang sepanjang 2009 merecoki gerai-gerai bioskop. Saya menyebutnya sebagai distraksi kreatif terhadap perhatian masyarakat kita yang mulai lupa bahwa film Indonesia juga bisa bicara.

***

Kalau sebelum ini Dewi ‘Dee’ Lestari mencoba menggabungkan cerita dengan musik, sains, ekonomi, bahkan filsafat, novel anyar Perahu Kertas seperti mematahkan semuanya. Novel ini ringan, chick, jauh dari kesan berat ala Supernova dan tampil apa adanya dengan tema cinta remaja. Kalau tidak siap dengan perubahan tersebut, mungkin bisa gigit jari!

perahu kertas

Dee sendiri mengaku bahwa hal yang menginspirasinya menulis kisah Kugy dan Keenan adalah ikon-ikon budaya populer pada masa remajanya, seperti komik Jepang Popcorn, film drama Reality Bites (1994) yang dibintangi Wynona Rider dan grup musik Amerika Indigo Girls. Perahu Kertas awalnya berupa cerita bersambung (cerbung) yang ditulis Dee di awal tahun 1996. Beberapa tahun kemudian, ceritanya dirilis di Internet dalam versi digital. Oleh karena itu, agaknya lebih tepat jika menyebut Perahu Kertas adalah cerita Dee yang telah “diperbaharui”.

Karakter-karakternya hidup dan terasa nyata (plausible). Belum lagi tempat-tempat “betulan” di Bandung, Jakarta dan Bali yang dijadikan latar cerita oleh Dee. Belum apa-apa, saya sudah membayangkan Nikita Willy dapat memerankan Kugy jika Perahu Kertas kelak diangkat ke layar lebar hahaha. Membaca Perahu Kertas membuat saya mengenang kembali masa-masa membaca serial Lupus-nya Hilman, yang lucu khas anak gaul akhir abad ke-20. Cerita-ceritanya biasanya berkisar tentang pencarian jati diri, jatuh cinta dan segala macam konflik dengan teman-teman dekat dan keluarga.

Kugy dan Keenan adalah sepasang remaja yang memiliki sifat berlawanan satu sama lain. Kugy adalah cewek ceria, pengkhayal, urakan, tapi mempunyai bakat menulis yang besar. Sedangkan Keenan adalah cowok cerdas, pendiam, namun memiliki bakat melukis yang hebat. Lalu mereka berbaur dalam satu lingkaran cerita. Seperti kebanyakan plot-plot standar cerita romantis ABG, mereka bertemu secara tidak sengaja, lalu mengalamai fase “malu-malu tapi mau”, menghadapi konflik-konflik keras dengan realitas dan bertransformasi menjadi seseorang yang berlawanan dengan sifat-sifat dasarnya—terlepas dari apakah mereka benar-benar mengenal arti cinta—sebelum kembali ke awal lagi.

Beberapa adegan pastinya terasa begitu klise dan tipikal, karena setiap literatur populer tidak mungkin menghindarinya. Misalnya adegan ketika Noni cemburu melihat kedekatan Kugy sahabatnya dengan Eko, pacarnya. Padahal pembaca tahu persis bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara Kugy dan Eko. Lalu konflik, yang menurut pembaca tidak penting dan “menggemaskan” harus terjadi di antara mereka, dengan kemasan ala sinetron. Menurut saya, Bali adalah latar paling klise dalam kisah cinta remaja Indonesia. Entah kenapa, di mana-mana selalu ada kisah cinta di pulau dewata.

Tapi kelebihan Dee daripada penulis-penulis kisah remaja lainnya mungkin terletak pada cara menuturkan cerita. Tidak ada kata yang mubazir dalam penceritaan Dee. Ia bisa menyihir narasinya dan memikat pembaca dengan cepat. Semua “kebetulan-kebetulan” disusun dengan alur yang rapi dengan suspense yang, mau tau mau, bikin tegang dan penasaran. Latar tempat dan waktu ditulis begitu detail sehingga pembaca merasa memiliki pengalaman yang sama dengan para tokoh di dalam cerita. Setelah makan es krim di Kemang, Keenan mau kemana ya?

Saya juga suka dengan desain bukunya: komikal dan sesuai dengan genre novelnya. Mungkin ingin terlihat lebih akrab di mata pembaca, Dee juga memuat komentar-komentar para fans-nya di Facebook pada halaman depan buku. Sudah lama rasanya saya tidak lagi bisa menghabiskan sebuah novel dalam satu hari. Di antara karya-karya Dee yang begitu filosofis dan cenderung berat, Perahu Kertas terasa seperti segelas air es yang segera meredakan dahaga. ‘Gelas’-nya tidak mungkin bisa diletakkan sebelum menghabiskan tetes terakhirnya. Momen peluncurannya juga pas dengan saat liburan sehingga bisa dibawa sebagai teman dalam perjalanan.

Sebentar lagi bulan puasa berakhir. Pada hari terakhir bekerja sebelum libur lebaran, kantor udah keburu sepi. Boks-boks dengan sisi atas kaca itu sudah “ditinggal” penghuninya. Tidak terdengar lagi bunyi tik-tak keyboard, deru printer, percakapan di telepon, alih-alih celoteh para visitor dari luar yang biasanya nangkring di sofa.

the glass boxes have been empty

the glass boxes have been empty

Padahal hari terakhir itu dibuatkan semacam daftar hadir khusus bagi para karyawan/karyawati yang datang. Presensi khusus biasanya disertai bonus. Dan rumornya, uang lembur juga akan cair pada sore hari. Tidak lain tujuannya untuk memotivasi pegawai. Tapi sepertinya tidak banyak yang tertarik. Toh nanti setelah balik ke kantor pasti dapat juga. Dan saya mafhum kalau daftar presensi penuh, tapi orangnya nggak ada hehe.

Semuanya kena demam mudik. Baik yang pulang ke ujung pulau Sumatra atau yang “sekedar” menggelinding ke kota Bandung, semuanya sudah berkemas. Konsentrasi sudah susah diajak kompromi dengan deadline pekerjaan atau jadwal-jadwal rapat. Semua appointment dan rencana kerja di tunda: “nanti saja, ya, setelah lebaran!”

Saya salut dengan teman-teman yang rela menempuh jalur darat dan laut sebagai jalur mudik. Selain memerlukan kondisi fisik yang prima, naik bus melewati jalan lintas sumatra berdurasi tiga puluh jam! Belum lagi risiko-risiko bahaya yang harus dihadapi sepanjang perjalanan. Tapi tak apalah, demi bersua orang tua, para saudara dan teman-teman lama.

Selamat lebaran kawan-kawan, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita kembali suci. Taqoballalahu mina wa minkum!

Kabar bahwa Dinas Sosial DKI Jakarta menangkap 12 warga Jakarta yang memberikan sedekah kepada pengemis membuat banyak orang terkaget-kaget. Itikad baik bersedekah kok diganjar dengan denda dan kurungan penjara. Ternyata para warga yang tidak beruntung itu ‘tersandung’ Pasal 40 Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 7 Tahun 2008 tentang Ketertiban Umum, yang enforcement-nya mulai efektif dilaksanakan:

Setiap orang atau badan dilarang:

  1. menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  2. menyuruh orang lain untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  3. membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil.

Hukumannya pun tidak main-main. Para warga ‘berhati mulia’ tersebut terancam pidana denda Rp100.000 sampai Rp20.000.000 atau kurungan 10 hari sampai 60 hari. Tindakan Dinas Sosial DKI Jakarta tersebut tampaknya bertolak dari sebuah premis sederhana: kalau tidak ada yang memberi sedekah, pasti tidak ada yang mengemis. Tapi persoalannya tidak bisa selesai hanya dengan bertumpu pada kalimat-kalimat hukum yang kaku.

    meraputih

    Menjadi pengemis atau gelandangan bukanlah cita-cita masa kecil. Tidak ada orang di dunia ini yang ingin merendahkan dirinya menjadi peminta-minta. Kita juga sepakat bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mengemis semata-mata adalah konsekuensi pahit dari keterpinggiran seseorang atau kelompok yang gagal secara ekonomi. Dalam tatanan masyarakat yang meletakkan kehormatan pada kekayaan materiil, pengemis dan gelandangan dicap sebagai kaum yang kotor dan kacau karena pencapaian ekonomi mereka rendah. Mereka secara sukarela menyingkir (disingkirkan?) dari lingkaran masyarakat kelas atas dan kelas menengah yang makmur dan sejahtera. Mungkin inilah apa disebut oleh Rhoda E. Howard (1995) sebagai “penyingkiran sosial.” Kondisi ini lantas menciptakan dua kelompok yang secara literal bertentangan tetapi ‘saling membutuhkan’ dalam konteks pengukuhan kelas sosial: ada peminta dan ada pemberi.

    Memasuki bulan Ramadan, jamak terjadi para pengemis dan gelandangan tumpah ruah ke Jakarta dari berbagai daerah. Jakarta sebagai pusat perputaran uang di negeri ini dianggap paling layak sebagai tempat berburu ‘rejeki’ dari warga-warga yang dermawan. Mumpung bulan puasa. Mereka memenuhi perempatan jalan dan lampu lalu lintas. Ada juga yang menyesaki angkutan umum seperti bus dan kereta api kelas ekonomi dengan berbagai cara: ada yang membagikan selebaran yang dilampiri amplop kosong, ada yang membawa bayi yang belum genap satu tahun sebagai umpan belas kasihan. Karena sudah kehabisan akal, bahkan ada yang menggunakan trik psikologis dengan setengah mengancam: “Daripada kami membunuh atau merampok, sudilah kiranya bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara memberi kami uang untuk ongkos pulang kampung!”

    Para warga yang dermawan secara naluriah ‘menjaga’ perbedaan kelas sosial tersebut dengan memberi sedekah, terlepas dari tujuan untuk meringankan beban hidup para pengemis dan gelandangan. Jika terjadi berlarut-larut, hal ini semakin memperkuat stigma kotor dan rendah terhadap para pengemis. Lebih dari itu, hal ini secara tak langsung mengajarkan mereka untuk tetap memelihara mental meminta-minta. Belum lagi fakta yang harus dihadapi bahwa sebagian besar dari kaum inferior tersebut sebenarnya adalah korban dari sindikat atau organisasi terselubung yang memasok mereka dari berbagai daerah. Mereka memanfaatkan kemiskinan untuk mencari keuntungan. Pemutusan mata rantai dengan memburu para pemasok tersebut harus dijadikan target operasi pertama oleh aparat penegak hukum, sehingga kemunculan pengemis dan gelandangan secara masif ke Jakarta dapat dicegah. Semangat Perda tersebut seharusnya digiring ke arah ini.

    Amanat Konstitusi
    Namun, tetap tidak bijaksana jika Perda ini diberlakukan tanpa dibarengi solusi apapun. Setiap orang yang mengganggu ketertiban sudah selayaknya dikenai sanksi, tanpa memandang apakah ia seorang gelandangan atau seorang direktur. Jangan sampai nafsu menangkapi orang membutakan aparat terhadap akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu kemiskinan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah mengharamkan ‘profesi’ sebagai pengemis, seharusnya jangan hanya bisa mengeluarkan fatwa, tetapi juga mampu memberikan alternatif-alternatif sebagai jalan keluar.

    Padahal dalam Pasal 34 UUD 1945 disebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Menjadi warga negara berarti berhak atas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tingkat kehidupan yang layak. Diasumsikan bahwa hal-hal tersebut wajib disediakan oleh negara, terutama bagi kelompok masyarakat (orang miskin) yang tidak bisa menyediakannya untuk diri mereka sendiri. Amanat konstitusi wajib ditegakkan, karena merupakan peraturan tertinggi di Indonesia.

    Perda tentang Ketertiban Umum ini seharusnya juga memberikan upaya-upaya preventif dan rehabilitatif agar para pengemis dan gelandangan tidak dijadikan komoditi oleh para sindikat yang tidak bertanggungjawab. Jangan sampai peraturan dibuat hanya untuk dijadikan alat merepresi, tetapi juga memberikan penanganan agar para pengemis dan gelandangan kembali menjadi bagian masyarakat yang memiliki harga diri dan mencapai taraf hidup yang layak sesuai dengan harkat martabat manusia.