Uncategorized


Sebentar lagi bulan puasa berakhir. Pada hari terakhir bekerja sebelum libur lebaran, kantor udah keburu sepi. Boks-boks dengan sisi atas kaca itu sudah “ditinggal” penghuninya. Tidak terdengar lagi bunyi tik-tak keyboard, deru printer, percakapan di telepon, alih-alih celoteh para visitor dari luar yang biasanya nangkring di sofa.

the glass boxes have been empty

the glass boxes have been empty

Padahal hari terakhir itu dibuatkan semacam daftar hadir khusus bagi para karyawan/karyawati yang datang. Presensi khusus biasanya disertai bonus. Dan rumornya, uang lembur juga akan cair pada sore hari. Tidak lain tujuannya untuk memotivasi pegawai. Tapi sepertinya tidak banyak yang tertarik. Toh nanti setelah balik ke kantor pasti dapat juga. Dan saya mafhum kalau daftar presensi penuh, tapi orangnya nggak ada hehe.

Semuanya kena demam mudik. Baik yang pulang ke ujung pulau Sumatra atau yang “sekedar” menggelinding ke kota Bandung, semuanya sudah berkemas. Konsentrasi sudah susah diajak kompromi dengan deadline pekerjaan atau jadwal-jadwal rapat. Semua appointment dan rencana kerja di tunda: “nanti saja, ya, setelah lebaran!”

Saya salut dengan teman-teman yang rela menempuh jalur darat dan laut sebagai jalur mudik. Selain memerlukan kondisi fisik yang prima, naik bus melewati jalan lintas sumatra berdurasi tiga puluh jam! Belum lagi risiko-risiko bahaya yang harus dihadapi sepanjang perjalanan. Tapi tak apalah, demi bersua orang tua, para saudara dan teman-teman lama.

Selamat lebaran kawan-kawan, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita kembali suci. Taqoballalahu mina wa minkum!

Tak terhitung banyaknya novel yang telah dijadikan film, baik itu karya klasik atau kontemporer. Dari Gone With the Wind sampai Twilight, para penulis skrip tampaknya berlomba-lomba memfilmkan novel. Drama juga favorit untuk diangkat ke layar lebar; seluruh drama Shakespeare sudah diadaptasi ke film dan bahkan beberapa di antaranya memiliki beberapa versi pada tahun yang berbeda. Pihak Academy pun memberikan dua kategori penilaian yaitu Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay.

The curious case of Brad Pitt.

The curious case of Brad Pitt.

Cerpen ke Film
Lalu bagaimana dengan adaptasi cerita pendek? Jika dibandingkan dengan novel dan drama, cerpen barangkali kalah favorit untuk diangkat ke layar lebar. Selain ceritanya yang jauh lebih singkat, cerpen juga minim tema, dialog, deskripsi, dan tentu saja, karakterisasi. Akibatnya, interpretasi yang ‘lebih’ dibutuhkan ketika mengadaptasi sebuah cerpen menjadi film yang sukses.

Kita tetap bisa menyaksikan film-film blockbuster seperti Minority Report (2004) arahan Steven Spielberg yang diangkat dari cerpen Phillip Dick; Brokeback Mountain (2006) yang diangkat dari cerpen Annie Proulx; Lust, Caution (2007) yang diadaptasi dari cerpen Eileen Chang. Dua film terakhir berhasil disutradarai dengan baik oleh Ang Lee. Lalu ada juga Million Dollar Baby (2004) yang disutradarai oleh Clint Eastwood dari karya F.X. O’Toole, dan berhasil memenangi banyak penghargaan. Tapi bagaimana caranya film-film yang berdurasi rata-rata dua jam tersebut sukses hanya dengan mengadaptasi sebuah cerpen, yang sebenarnya dapat dibaca dalam sekali duduk?

Film adaptasi cerpen adalah salah satu rahasia besar Hollywood. Film yang diangkat dari cerpen hanya membutuhkan pondasi utama yaitu seluruh cerita itu sendiri. Ia tidak akan disibukkan dengan kegiatan memangkas-mangkas jalan cerita, namun membangunnya dari cerita yang sudah ada.

Tetapi ada juga penulis skenario dan sutradara yang langsung memelintir plot, karakterisasi, dan tone cerpen tersebut sehingga menghasilkan cerita yang sama sekali berbeda. Ada yang berhasil, ada juga yang gagal. Misalnya, film yang sekarang sedang ramai dibicarakan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Film yang diangkat dari cerpen karya F. Scott Fitzgerald ini ditulis oleh Eric Roth dan disutradarai oleh David Fincher dan berhasil menyabet 13 Nominasi Oscar tahun ini, termasuk kategori Best Pictures, Best Director dan Best Leading Actor (Brad Pitt).

Tidak Menggigit
The Curious Case of Benjamin Button (CCBB) versi film sangat berbeda dengan versi cerpen Fitzgerald. Roth, yang juga menulis skrip film fenomenal Forrest Gump (1994), hanya mengadaptasi nama Benjamin Button dan ide cerita tentang hidup yang terbalik—Benjamin lahir dengan fisik seseorang berumur 87 tahun dan seiring bertambah usianya, kondisi fisiknya malah semakin muda (reverse aging). Selebihnya, merupakan imajinasi Roth sendiri.

Namun, kolaborasinya dengan Fincher menurut saya hanya menghasilkan cerita datar selama nyaris tiga jam. Tidak ada eksplorasi karakter; ia juga tidak menyebutkan bagaimana Benjamin bisa lahir seperti itu, atau setidaknya menampilkan konflik masa kecil Benjamin dengan teman-teman sepermainannya, sehingga terasa sensasi keanehannya itu sekaligus memperkuat karakternya ketika tumbuh dewasa. Selain itu, latar cerita juga tidak dieksplorasi dengan dalam. Dan yang kurang masuk akal, perubahan fisik Benjamin tidak pernah diekspos media dan orang-orang terdekatnya.

Baiklah, ide tentang badai katrina dan gaya penceritaan flash back ala Titanic-nya cukup inovatif, tapi tidak ada keterangan apa-apa mengenai kejadian-kejadian ketika Benjamin hidup selain ditulis di dalam diari. Bagaimana kondisi tahun 50an dan 60an ketika Benjamin mengalami transisi hidup yang cukup penting tidak dijelaskan. Mereka hanya menonton Twist and Shout-nya The Beatles, dan saya berkata dalam hati, “Oh, itu tahun 1967..”

Mungkin ada sedikit kisah sentimentil ketika Benjamin menjalin hubungan dengan Daisy. Namun, Fincher sedikit gagal menampilkan konflik kedua karakter itu. Kimia di antara keduanya juga kurang meyakinkan (saya). Ketika anaknya lahir, Benjamin memutuskan untuk pergi karena tubuhnya yang semakin muda sehingga tidak mungkin menjadi ayah. Keputusan Benjamin inilah yang membuat CCBB jadi terasa datar sekali. Padahal jika ia tetap tinggal dan menjadi ayah, akan banyak sekali konflik yang bisa digarap (sebagai perbandingan, di dalam versi cerpen, Benjamin sampai tua diurus oleh anaknya). Akibatnya, kita hanya disuguhi kehebatan tata rias wajah dengan efek CGI dan close-up muka Brad Pitt sepanjang film. Benjamin sangat membosankan dan nyaris tidak “memberikan” apa apa kepada penonton; ia hanya berjalan mengarungi waktu dan seolah melambaikan tangan kepada kita sambil berkata, “Hey, I’m 60 now, but look much younger!

Situs RottenTomatoes mungkin sempat memberikan positive respons sebanyak 72%, tapi rata-rata pujiannya bukan karena kemampuan akting yang luar biasa. Menurut saya, tampilan visual effect bukanlah segalanya. CCBB gagal menampilkan kepada penonton, bagaimana reverse aging tersebut memberikan pengaruh yang dalam kepada si tokoh utama. Saya juga bukan anti-Brad Pitt. Banyak perannya yang menurut saya worth-Oscar di masa lalu, tapi tidak dilirik oleh Academy. Namun ironisnya, ketika ia tidak memberikan kemampuan akting yang mumpuni dalam CCBB, ia mendapat nominasi sebagai The Best Actor in Leading Role. Tidak nampak keistimewaan seorang Brad Pitt di sana. Kalau begini, tokoh Benjamin sepertinya bisa dimainkan aktor mana pun.

Mengadaptasi cerpen ke dalam film bukanlah pekerjaan gampang. Memang proses pengambilan tema, karakter, atau plot-nya sama seperti di dalam novel, tetapi tetap dibutuhkan kreatifitas dan orisinalitas dari sang penulis skenario dan sutradara untuk membangunnya ke dalam film berdurasi empat kali lipat lebih lama dari membaca versi cerpennya.

Tukul Arwana kembali. Setelah sempat dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tanggal 4 November 2008 lalu, Empat Matakembali dengan nama baru, Bukan Empat Mata. Trans7 tidak perlu pusing memikirkan nama Empat Mata yang telah menjadimerek dagang yang sangat kuat di pasar. Yang penting Tukul Arwana tetap ada.

Tukul For YouAcara terakhir dihentikan menyusul ditampilkannya adegan memakan kodok oleh salah seorang bintang tamu acara. Selain itu Sumanto yang juga dihadirkan pada acara tersebut juga dinilai tidak relevan dan tidak lucu untuk sebuah acara reality show yang bernuansa komedi. Empat Mata dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran / Standar Program Siaran (P3 SPS) yang telah ditetapkan oleh KPI. Tiga peringatan telah dilayangkan kepada pihak Trans Corporation, namun tetap diabaikan. KPI pun bertindak tegas dan memberikan ‘kartu merah’ kepada Trans7 berupa penghentian tayangan dengan masa percobaan satu bulan.

Poros
Namun belum sampai satu bulan, Trans7 sudah menghadirkan Bukan Empat Mata, yang tayang perdana pada tanggal 1 Desember 2008. Acara ini tidak berbeda dengan pendahulunya. Semua hal dalam format lama tetap ditampilkan pada format baru ini. Tokoh utamanya tetap Tukul didampingi Vega dan Pepi. Tukul tetap dalam keluguan dan kepolosannya menghadapi kecanggihan teknologi yang dijewatahkan pada laptop yang berfungsi sebagai ‘buku teks’ Tukul dalam membawakan acara. Dan jargon legendaris “kembali ke laptop!” itu tetap ada!

Veven S.P. Wardhana, seorang pengamat budaya populer, mengatakan bahwa Empat Mata sering ‘tergelincir’ ketika mengundang bintang tamu yang sama sekali tidak menjadi bintang. Jika ingin mengetahui bintang tamu secara lebih mendalam, paling-paling mereka diminta menyanyi, atau memainkan alat musik, atau berakting. Kupasan atas sebuah masalah atau pada sosok bintang tamu tetaplah berupa basa-basi, semu, dan sering merupakan sarana untuk memicu ‘improvisasi’ kelucuan dari Tukul. Para bintang tamu adalah ‘bubuk mesiu’ untuk meledakkan sense of humor Tukul sehingga mereka mesti siap dikorbankan. Tidak ada istilah “tamu adalah raja”; bagi Tukul, dialah poros utama dan plot cerita. Sandra Dewi yang cantik hanya menjadi perhatian selama 15 menit pertama.

Setelah itu ia terpaksa gigit jari nyaris sampai acara berakhir. Selebihnya kita hanya melihat Tukul yang ‘merajalela.’ Tukul dalam hal ini bermain drama, pantomim dan sinetron sekaligus. Dalam ‘ber-drama’ ia bergerak dan berkata-kata sesuai sesuai skenario dan dialog dari sang pengarah cerita dan tim kreatif. Saking ‘patuhnya’ Tukul pada laptopnya tersebut, sampai-sampai ia akan memohon-mohon jika, misalnya, Pepi menyembunyikannya. Tukul juga pandai sekali ‘berpantomim’. Penonton sudah bisa dibuatnya terpingkal-pingkal dengan satu gerakan bibir dan kibasan tangan, plus diiringi teriakan-teriakan penonton. Ia juga sedang ‘bermain’ sinetron dalam artian, gurauan, ide, dan tindakannya kadang tidak lagi logis dan masuk akal sehat, seperti halnya sinetron. Lawakannya kadang keterlaluan, tidak peduli dengan SARA.

Nyaris tidak ada yang berubah pada Bukan Empat Mata. Tukul tetap cium pipi kanan dan cium pipi kiri dengan Sandra Dewi. Matanya siap bergerilya menatap kecantikan Sandra. Tangannya siap menggerayangi lengan dan paha Sandra. Tukul benar-benar ‘tidak peduli’ dengan peraturan KPI. Humor yang melecehkan fisik seseorang tetap menjadi bahan utama lawakan.

Mungkin ada tambahan segmen yaitu pembacaan berita-berita aktual yang disajikan dengan kocak untuk kemudian dikomentari oleh Tukul. Namun yang jelas, Tim Kreatif acara tersebut terlihat sama sekali tidak kreatif dalam membangun sebuah acara baru. Kata ‘Bukan’ yang ditambahkan pada acara Empat Mata seperti mengisyaratkan ‘perlawanan’ terhadap pencekalan yang dilakukan oleh KPI. Karena jika acara ini bukan lagi seperti Empat Mata yang telah dicekal, isinya harus berubah dengan memperhatikan P3 SPS. Walaupun diganti dengan nama apa pun, isinya akan tetap sama selama di dalamnya ada Tukul.

Yah, peduli amat, mau Empat Mata, mau Bukan Empat Mata, yang penting ada Tukul Arwana. Keledai saja tidak mau terperosok ke lubang yang sama dua kali, namunBukan Empat Mata sudah jatuh dan terjerembab berkali-kali ke dalam lubang yang ia gali sendiri.