Tukul Arwana kembali. Setelah sempat dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tanggal 4 November 2008 lalu, Empat Matakembali dengan nama baru, Bukan Empat Mata. Trans7 tidak perlu pusing memikirkan nama Empat Mata yang telah menjadimerek dagang yang sangat kuat di pasar. Yang penting Tukul Arwana tetap ada.

Tukul For YouAcara terakhir dihentikan menyusul ditampilkannya adegan memakan kodok oleh salah seorang bintang tamu acara. Selain itu Sumanto yang juga dihadirkan pada acara tersebut juga dinilai tidak relevan dan tidak lucu untuk sebuah acara reality show yang bernuansa komedi. Empat Mata dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran / Standar Program Siaran (P3 SPS) yang telah ditetapkan oleh KPI. Tiga peringatan telah dilayangkan kepada pihak Trans Corporation, namun tetap diabaikan. KPI pun bertindak tegas dan memberikan ‘kartu merah’ kepada Trans7 berupa penghentian tayangan dengan masa percobaan satu bulan.

Poros
Namun belum sampai satu bulan, Trans7 sudah menghadirkan Bukan Empat Mata, yang tayang perdana pada tanggal 1 Desember 2008. Acara ini tidak berbeda dengan pendahulunya. Semua hal dalam format lama tetap ditampilkan pada format baru ini. Tokoh utamanya tetap Tukul didampingi Vega dan Pepi. Tukul tetap dalam keluguan dan kepolosannya menghadapi kecanggihan teknologi yang dijewatahkan pada laptop yang berfungsi sebagai ‘buku teks’ Tukul dalam membawakan acara. Dan jargon legendaris “kembali ke laptop!” itu tetap ada!

Veven S.P. Wardhana, seorang pengamat budaya populer, mengatakan bahwa Empat Mata sering ‘tergelincir’ ketika mengundang bintang tamu yang sama sekali tidak menjadi bintang. Jika ingin mengetahui bintang tamu secara lebih mendalam, paling-paling mereka diminta menyanyi, atau memainkan alat musik, atau berakting. Kupasan atas sebuah masalah atau pada sosok bintang tamu tetaplah berupa basa-basi, semu, dan sering merupakan sarana untuk memicu ‘improvisasi’ kelucuan dari Tukul. Para bintang tamu adalah ‘bubuk mesiu’ untuk meledakkan sense of humor Tukul sehingga mereka mesti siap dikorbankan. Tidak ada istilah “tamu adalah raja”; bagi Tukul, dialah poros utama dan plot cerita. Sandra Dewi yang cantik hanya menjadi perhatian selama 15 menit pertama.

Setelah itu ia terpaksa gigit jari nyaris sampai acara berakhir. Selebihnya kita hanya melihat Tukul yang ‘merajalela.’ Tukul dalam hal ini bermain drama, pantomim dan sinetron sekaligus. Dalam ‘ber-drama’ ia bergerak dan berkata-kata sesuai sesuai skenario dan dialog dari sang pengarah cerita dan tim kreatif. Saking ‘patuhnya’ Tukul pada laptopnya tersebut, sampai-sampai ia akan memohon-mohon jika, misalnya, Pepi menyembunyikannya. Tukul juga pandai sekali ‘berpantomim’. Penonton sudah bisa dibuatnya terpingkal-pingkal dengan satu gerakan bibir dan kibasan tangan, plus diiringi teriakan-teriakan penonton. Ia juga sedang ‘bermain’ sinetron dalam artian, gurauan, ide, dan tindakannya kadang tidak lagi logis dan masuk akal sehat, seperti halnya sinetron. Lawakannya kadang keterlaluan, tidak peduli dengan SARA.

Nyaris tidak ada yang berubah pada Bukan Empat Mata. Tukul tetap cium pipi kanan dan cium pipi kiri dengan Sandra Dewi. Matanya siap bergerilya menatap kecantikan Sandra. Tangannya siap menggerayangi lengan dan paha Sandra. Tukul benar-benar ‘tidak peduli’ dengan peraturan KPI. Humor yang melecehkan fisik seseorang tetap menjadi bahan utama lawakan.

Mungkin ada tambahan segmen yaitu pembacaan berita-berita aktual yang disajikan dengan kocak untuk kemudian dikomentari oleh Tukul. Namun yang jelas, Tim Kreatif acara tersebut terlihat sama sekali tidak kreatif dalam membangun sebuah acara baru. Kata ‘Bukan’ yang ditambahkan pada acara Empat Mata seperti mengisyaratkan ‘perlawanan’ terhadap pencekalan yang dilakukan oleh KPI. Karena jika acara ini bukan lagi seperti Empat Mata yang telah dicekal, isinya harus berubah dengan memperhatikan P3 SPS. Walaupun diganti dengan nama apa pun, isinya akan tetap sama selama di dalamnya ada Tukul.

Yah, peduli amat, mau Empat Mata, mau Bukan Empat Mata, yang penting ada Tukul Arwana. Keledai saja tidak mau terperosok ke lubang yang sama dua kali, namunBukan Empat Mata sudah jatuh dan terjerembab berkali-kali ke dalam lubang yang ia gali sendiri.

About these ads