Diadaptasi dari novel yang begitu populer dan diarahkan oleh sutradara hebat, film Sang Pemimpi sebenarnya memiliki amunisi lengkap untuk menyerbu pasar. Ekspektasi penonton pasti tinggi sekali, karena prekuelnya, Laskar Pelangi sukses besar: ditonton oleh hampir lima juta orang dan meraih berbagai penghargaan, salah satunya sebagai film terbaik dalam Asia-Pacific Film Festival baru-baru ini.

'Lolongan Arai akhirnya berhasil meluluhkan hati Zakiah Nurmala

Tetapi dari segi narasi, terlepas apakah penilaian ini subjektif atau bukan, saya menganggap Sang Pemimpi lebih baik dari ketiga novel lainnya dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Dengan tokoh-tokoh yang tidak terlalu ’ramai‘ seperti pasar, ceritanya juga mengalami ‘kemajuan’ drastis karena lebih dalam dan filosofis,  nyaris tanpa sub-plot yang tidak penting dan deskripsi yang berpanjang-panjang . Namun, mengadaptasinya menjadi naskah film tentu lain persoalan. Seperti yang diketahui, Andrea Hirata selalu membuat cerita yang terpecah-pecah yang disebutnya sebagai ‘mozaik’ dan kadang tidak paralel. Dengan durasi yang lebih dari dua jam, Riri Riza terlihat hati-hati sekali agar tidak menghilangkan detil cerita sekaligus membuat sebuah alur cerita yang ‘lurus’ agar film menjadi fokus. Satu-persatu mozaik itu dirangkai, dihidupkan oleh gambar-gambar dengan kontrol aperture yang indah dan beberapa di antaranya terlihat ’sangat‘ Belitong.

Tahun 1985. Ikal (Vikri Septiawan) yang telah beranjak remaja pergi meninggalkan teman-teman Laskar Pelangi-nya sewaktu di sekolah dasar. Ia menetap di desa Manggar bersama Arai (Rendy Ahmad) sepupunya yang hidup sebatang kara setelah ditinggal mati ibu bapaknya. Selain itu, ada Jimbron, si gagap yang juga ditinggal mati orang tuanya. Diceritakan suka duka hidup mereka yang jauh dari keluarga; menyewa sebuah gubuk untuk bertiga dan mau bekerja apa saja untuk membiayai sekolah dan menabung demi mimpi kuliah di Eropa.

Seperti halnya film-film dengan tema remaja lainnya, Sang Pemimpi juga menawarkan masalah-masalah anak muda dengan pakem yang kurang lebih sama: pencarian jati diri dan seksualitas, persahabatan, dan ketertarikan dengan lawan jenis. Namun tentu saja film ini tidak menceritakan percintaan remaja urban yang banal dan semau gue. Kesungguhan cinta Arai kepada Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda) seperti Zainuddin kepada Hayati, tokoh-tokoh ciptaan Hamka dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Cinta tulus yang hadir ketika sang lelaki berdendang di depan rumah sang kekasih hanya untuk melihat wajahnya di jendela. Romantisme mereka mencapai puncaknya ketika saling melambaikan tangan saat perpisahan: “Tunggulah abang pulaaaang…” Klasik!

Namun, mereka bukanlah karakter-karakter individualistik, yang memiliki kontrol mutlak terhadap masa depan mereka. Ikal dan Arai memang terobsesi dengan Universitas Sorbonne Paris, tetapi pilihan hidup apa yang dimiliki oleh anak-anak kuli timah? Sebenarnya mereka sangat sadar bahwa sekolah menengah atas itu hanyalah ‘tipu muslihat’ selama tiga tahun sebelum nasib menyeret mereka untuk bergabung dengan bapak-bapak mereka menyekop xenotym di pertambangan. Mereka hanya bisa bermimpi dan memupuk optimisme dalam-dalam. “Kalau tidak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati,” begitu pesan Arai kepada Ikal.

Ada saat-saat ketika mereka terperosok dalam sikap ‘realistis’ yang pelan-pelan menggerogoti mimpi-mimpi itu. Ikal mulai malas masuk sekolah, tabungannya terpaksa dikuras untuk membantu perekonomian keluarga dan sering cekcok dengan kedua sahabatnya. “Kau saja yang pergi ke Paris!” teriaknya pada Arai, yang tidak henti memberinya semangat. Ikal melampiaskannya dengan bekerja pada seorang pemilik kapal yang justru menggangap sekolah bukanlah jalan mencapai keberhasilan.

Beruntung mereka dikelilingi oleh tokoh-tokoh pendukung yang baik. Sang ayah (Mathias Muchus) seperti biasa, dengan karakternya yang sangat kuat, mampu membuatmu menangis sekaligus tertawa hanya dengan dua tiga patah kata dan permainan mimik muka. Ia mengingatkan kita akan figur yang dapat menjadi panutan. Melihat ayahnya yang mengayuh sepeda sejak subuh dari rumah, Ikal tidak punya pilihan selain memperbaiki nilai rapornya yang sempat anjlok. Selain itu ada Bang Zaitun (Jay Subiyakto) sang musisi eksentrik, Pak Balia (Nugie) sang guru motivator, dan Pak Mustar (Landung Simatupang) sang Kepala Sekolah killer namun berhati lembut, sebagai katalisator yang membuat Arai dan Ikal tetap bisa menjaga mimpi-mimpi mereka.

Tidak Banyak Dialog
Film dibuka dengan adegan yang tidak biasa. Mengenakan baju safari empat saku kesayangannya, ayah Ikal mengayuh sepeda menyusuri jalan menuju SMA Negeri Manggar untuk mengambil rapor anak-anaknya. Hening dan bersahaja. Ketika bertemu Ikal dan Arai pun, ia hanya mengangguk dan mengucapkan salam, setelah itu pergi. Setia kepada novelnya, hubungan ayah dan anak ‘tanpa kata-kata’ ini cukup sukses dipertahankan Riri Riza sepanjang cerita.

Namun keheningan tersebut, dalam perspektif yang berbeda, sekaligus menjadi kekurangan film ini, yaitu minimnya dialog antar tokoh. Lukman Sardi yang memerankan Ikal dewasa cenderung bermonolog karena berperan sebagai narator cerita. Nugie dan Landu Simatupang sebenarnya memerankan sosok guru dengan pas, tetapi mereka juga seperti ‘berbicara sendiri’ menghadapi murid-murid yang pasif dan tidak banyak omong. Konflik-konflik yang terjadi antara Ikal, Arai dan Jimbron pun terasa kurang gregetnya, karena tidak ada dialog-dialog yang dapat menunjukkan kemampuan akting yang mumpuni. Zakiah Nurmala bahkan tidak bicara sepatah kata pun. Di sisi ini, Sang Pemimpi tidak dapat memenuhi ekspektasi kelompok penonton yang mengharapkan para pemain saling lempar argumen panjang dengan dialog-dialog cerdas.

Saya rasa, mungkin inilah risiko yang harus diambil oleh sutradara dalam mengadaptasi novel yang ‘menuntut’ begitu banyak adegan filmis  yang, jika dihilangkan, dapat merusak tatanan mood yang telah dibangun para penonton yang sejak awal membaca novel Sang Pemimpi. Karena dalam film kita berbicara tentang durasi,  konsekuensinya tentu saja tidak banyak dialog yang bisa ditampilkan. Instalasi berikutnya, Edensor, diharapkan dapat menebus kekurangan ini.

Walaupun begitu, secara keseluruhan Sang Pemimpi menjadi film penutup tahun yang bagus. Film ini menurut saya berhasil mengesampingkan film-film ‘tidak jelas’ yang sepanjang 2009 merecoki gerai-gerai bioskop. Saya menyebutnya sebagai distraksi kreatif terhadap perhatian masyarakat kita yang mulai lupa bahwa film Indonesia juga bisa bicara.

***

Kalau sebelum ini Dewi ‘Dee’ Lestari mencoba menggabungkan cerita dengan musik, sains, ekonomi, bahkan filsafat, novel anyar Perahu Kertas seperti mematahkan semuanya. Novel ini ringan, chick, jauh dari kesan berat ala Supernova dan tampil apa adanya dengan tema cinta remaja. Kalau tidak siap dengan perubahan tersebut, mungkin bisa gigit jari!

perahu kertas

Dee sendiri mengaku bahwa hal yang menginspirasinya menulis kisah Kugy dan Keenan adalah ikon-ikon budaya populer pada masa remajanya, seperti komik Jepang Popcorn, film drama Reality Bites (1994) yang dibintangi Wynona Rider dan grup musik Amerika Indigo Girls. Perahu Kertas awalnya berupa cerita bersambung (cerbung) yang ditulis Dee di awal tahun 1996. Beberapa tahun kemudian, ceritanya dirilis di Internet dalam versi digital. Oleh karena itu, agaknya lebih tepat jika menyebut Perahu Kertas adalah cerita Dee yang telah “diperbaharui”.

Karakter-karakternya hidup dan terasa nyata (plausible). Belum lagi tempat-tempat “betulan” di Bandung, Jakarta dan Bali yang dijadikan latar cerita oleh Dee. Belum apa-apa, saya sudah membayangkan Nikita Willy dapat memerankan Kugy jika Perahu Kertas kelak diangkat ke layar lebar hahaha. Membaca Perahu Kertas membuat saya mengenang kembali masa-masa membaca serial Lupus-nya Hilman, yang lucu khas anak gaul akhir abad ke-20. Cerita-ceritanya biasanya berkisar tentang pencarian jati diri, jatuh cinta dan segala macam konflik dengan teman-teman dekat dan keluarga.

Kugy dan Keenan adalah sepasang remaja yang memiliki sifat berlawanan satu sama lain. Kugy adalah cewek ceria, pengkhayal, urakan, tapi mempunyai bakat menulis yang besar. Sedangkan Keenan adalah cowok cerdas, pendiam, namun memiliki bakat melukis yang hebat. Lalu mereka berbaur dalam satu lingkaran cerita. Seperti kebanyakan plot-plot standar cerita romantis ABG, mereka bertemu secara tidak sengaja, lalu mengalamai fase “malu-malu tapi mau”, menghadapi konflik-konflik keras dengan realitas dan bertransformasi menjadi seseorang yang berlawanan dengan sifat-sifat dasarnya—terlepas dari apakah mereka benar-benar mengenal arti cinta—sebelum kembali ke awal lagi.

Beberapa adegan pastinya terasa begitu klise dan tipikal, karena setiap literatur populer tidak mungkin menghindarinya. Misalnya adegan ketika Noni cemburu melihat kedekatan Kugy sahabatnya dengan Eko, pacarnya. Padahal pembaca tahu persis bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara Kugy dan Eko. Lalu konflik, yang menurut pembaca tidak penting dan “menggemaskan” harus terjadi di antara mereka, dengan kemasan ala sinetron. Menurut saya, Bali adalah latar paling klise dalam kisah cinta remaja Indonesia. Entah kenapa, di mana-mana selalu ada kisah cinta di pulau dewata.

Tapi kelebihan Dee daripada penulis-penulis kisah remaja lainnya mungkin terletak pada cara menuturkan cerita. Tidak ada kata yang mubazir dalam penceritaan Dee. Ia bisa menyihir narasinya dan memikat pembaca dengan cepat. Semua “kebetulan-kebetulan” disusun dengan alur yang rapi dengan suspense yang, mau tau mau, bikin tegang dan penasaran. Latar tempat dan waktu ditulis begitu detail sehingga pembaca merasa memiliki pengalaman yang sama dengan para tokoh di dalam cerita. Setelah makan es krim di Kemang, Keenan mau kemana ya?

Saya juga suka dengan desain bukunya: komikal dan sesuai dengan genre novelnya. Mungkin ingin terlihat lebih akrab di mata pembaca, Dee juga memuat komentar-komentar para fans-nya di Facebook pada halaman depan buku. Sudah lama rasanya saya tidak lagi bisa menghabiskan sebuah novel dalam satu hari. Di antara karya-karya Dee yang begitu filosofis dan cenderung berat, Perahu Kertas terasa seperti segelas air es yang segera meredakan dahaga. ‘Gelas’-nya tidak mungkin bisa diletakkan sebelum menghabiskan tetes terakhirnya. Momen peluncurannya juga pas dengan saat liburan sehingga bisa dibawa sebagai teman dalam perjalanan.

Sebentar lagi bulan puasa berakhir. Pada hari terakhir bekerja sebelum libur lebaran, kantor udah keburu sepi. Boks-boks dengan sisi atas kaca itu sudah “ditinggal” penghuninya. Tidak terdengar lagi bunyi tik-tak keyboard, deru printer, percakapan di telepon, alih-alih celoteh para visitor dari luar yang biasanya nangkring di sofa.

the glass boxes have been empty

the glass boxes have been empty

Padahal hari terakhir itu dibuatkan semacam daftar hadir khusus bagi para karyawan/karyawati yang datang. Presensi khusus biasanya disertai bonus. Dan rumornya, uang lembur juga akan cair pada sore hari. Tidak lain tujuannya untuk memotivasi pegawai. Tapi sepertinya tidak banyak yang tertarik. Toh nanti setelah balik ke kantor pasti dapat juga. Dan saya mafhum kalau daftar presensi penuh, tapi orangnya nggak ada hehe.

Semuanya kena demam mudik. Baik yang pulang ke ujung pulau Sumatra atau yang “sekedar” menggelinding ke kota Bandung, semuanya sudah berkemas. Konsentrasi sudah susah diajak kompromi dengan deadline pekerjaan atau jadwal-jadwal rapat. Semua appointment dan rencana kerja di tunda: “nanti saja, ya, setelah lebaran!”

Saya salut dengan teman-teman yang rela menempuh jalur darat dan laut sebagai jalur mudik. Selain memerlukan kondisi fisik yang prima, naik bus melewati jalan lintas sumatra berdurasi tiga puluh jam! Belum lagi risiko-risiko bahaya yang harus dihadapi sepanjang perjalanan. Tapi tak apalah, demi bersua orang tua, para saudara dan teman-teman lama.

Selamat lebaran kawan-kawan, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita kembali suci. Taqoballalahu mina wa minkum!

Kabar bahwa Dinas Sosial DKI Jakarta menangkap 12 warga Jakarta yang memberikan sedekah kepada pengemis membuat banyak orang terkaget-kaget. Itikad baik bersedekah kok diganjar dengan denda dan kurungan penjara. Ternyata para warga yang tidak beruntung itu ‘tersandung’ Pasal 40 Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 7 Tahun 2008 tentang Ketertiban Umum, yang enforcement-nya mulai efektif dilaksanakan:

Setiap orang atau badan dilarang:

  1. menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  2. menyuruh orang lain untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  3. membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil.

Hukumannya pun tidak main-main. Para warga ‘berhati mulia’ tersebut terancam pidana denda Rp100.000 sampai Rp20.000.000 atau kurungan 10 hari sampai 60 hari. Tindakan Dinas Sosial DKI Jakarta tersebut tampaknya bertolak dari sebuah premis sederhana: kalau tidak ada yang memberi sedekah, pasti tidak ada yang mengemis. Tapi persoalannya tidak bisa selesai hanya dengan bertumpu pada kalimat-kalimat hukum yang kaku.

    meraputih

    Menjadi pengemis atau gelandangan bukanlah cita-cita masa kecil. Tidak ada orang di dunia ini yang ingin merendahkan dirinya menjadi peminta-minta. Kita juga sepakat bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mengemis semata-mata adalah konsekuensi pahit dari keterpinggiran seseorang atau kelompok yang gagal secara ekonomi. Dalam tatanan masyarakat yang meletakkan kehormatan pada kekayaan materiil, pengemis dan gelandangan dicap sebagai kaum yang kotor dan kacau karena pencapaian ekonomi mereka rendah. Mereka secara sukarela menyingkir (disingkirkan?) dari lingkaran masyarakat kelas atas dan kelas menengah yang makmur dan sejahtera. Mungkin inilah apa disebut oleh Rhoda E. Howard (1995) sebagai “penyingkiran sosial.” Kondisi ini lantas menciptakan dua kelompok yang secara literal bertentangan tetapi ‘saling membutuhkan’ dalam konteks pengukuhan kelas sosial: ada peminta dan ada pemberi.

    Memasuki bulan Ramadan, jamak terjadi para pengemis dan gelandangan tumpah ruah ke Jakarta dari berbagai daerah. Jakarta sebagai pusat perputaran uang di negeri ini dianggap paling layak sebagai tempat berburu ‘rejeki’ dari warga-warga yang dermawan. Mumpung bulan puasa. Mereka memenuhi perempatan jalan dan lampu lalu lintas. Ada juga yang menyesaki angkutan umum seperti bus dan kereta api kelas ekonomi dengan berbagai cara: ada yang membagikan selebaran yang dilampiri amplop kosong, ada yang membawa bayi yang belum genap satu tahun sebagai umpan belas kasihan. Karena sudah kehabisan akal, bahkan ada yang menggunakan trik psikologis dengan setengah mengancam: “Daripada kami membunuh atau merampok, sudilah kiranya bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara memberi kami uang untuk ongkos pulang kampung!”

    Para warga yang dermawan secara naluriah ‘menjaga’ perbedaan kelas sosial tersebut dengan memberi sedekah, terlepas dari tujuan untuk meringankan beban hidup para pengemis dan gelandangan. Jika terjadi berlarut-larut, hal ini semakin memperkuat stigma kotor dan rendah terhadap para pengemis. Lebih dari itu, hal ini secara tak langsung mengajarkan mereka untuk tetap memelihara mental meminta-minta. Belum lagi fakta yang harus dihadapi bahwa sebagian besar dari kaum inferior tersebut sebenarnya adalah korban dari sindikat atau organisasi terselubung yang memasok mereka dari berbagai daerah. Mereka memanfaatkan kemiskinan untuk mencari keuntungan. Pemutusan mata rantai dengan memburu para pemasok tersebut harus dijadikan target operasi pertama oleh aparat penegak hukum, sehingga kemunculan pengemis dan gelandangan secara masif ke Jakarta dapat dicegah. Semangat Perda tersebut seharusnya digiring ke arah ini.

    Amanat Konstitusi
    Namun, tetap tidak bijaksana jika Perda ini diberlakukan tanpa dibarengi solusi apapun. Setiap orang yang mengganggu ketertiban sudah selayaknya dikenai sanksi, tanpa memandang apakah ia seorang gelandangan atau seorang direktur. Jangan sampai nafsu menangkapi orang membutakan aparat terhadap akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu kemiskinan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah mengharamkan ‘profesi’ sebagai pengemis, seharusnya jangan hanya bisa mengeluarkan fatwa, tetapi juga mampu memberikan alternatif-alternatif sebagai jalan keluar.

    Padahal dalam Pasal 34 UUD 1945 disebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Menjadi warga negara berarti berhak atas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tingkat kehidupan yang layak. Diasumsikan bahwa hal-hal tersebut wajib disediakan oleh negara, terutama bagi kelompok masyarakat (orang miskin) yang tidak bisa menyediakannya untuk diri mereka sendiri. Amanat konstitusi wajib ditegakkan, karena merupakan peraturan tertinggi di Indonesia.

    Perda tentang Ketertiban Umum ini seharusnya juga memberikan upaya-upaya preventif dan rehabilitatif agar para pengemis dan gelandangan tidak dijadikan komoditi oleh para sindikat yang tidak bertanggungjawab. Jangan sampai peraturan dibuat hanya untuk dijadikan alat merepresi, tetapi juga memberikan penanganan agar para pengemis dan gelandangan kembali menjadi bagian masyarakat yang memiliki harga diri dan mencapai taraf hidup yang layak sesuai dengan harkat martabat manusia.

    Dimulai dengan sebuah pertanyaan: Apakah film Harry Potter and The Half Blood Prince (HP 6) ini masih layak ditunggu sejak Warner Bros menundanya tujuh bulan lalu? Yang pasti novelnya sudah lama saya simpan di lemari karena HP 6 sudah terbit empat tahun yang lalu. Saya sudah nyaris tiga kali membaca buku setebal 607 halaman tersebut,  namun – seperti fans lainnya – sempat kecewa karena versi filmnya ternyata ditunda. Para penggemar Harry Potter juga sudah merasakan ‘serangan’ Stephenie Meyer lewat empat saga Twilight-nya yang tiba-tiba laku keras, bahkan versi film pertama literatur vampir tersebut sudah difilmkan – dan sukses besar.

    ron weasley berevolusi di harry potter 6

    ron weasley berevolusi di harry potter 6

    Tapi franchise Harry Potter, mengutip majalah Cinemags sepertinya sudah terkena mantra ‘anti-kritik.’ Apa pun yang mungkin dikatakan oleh para kritikus film, serial Harry Potter tetap saja laku. Terbukti, orang berbondong-bondong menonton film keenam ini sejak gedung bioskop dibuka sampai tengah malam. Dalam lima hari pertama sejak peluncuran pertamanya 15 Juli 2009, HP 6 sudah meraih US $391 juta! Sayangnya, HP 6 terkesan dibuat hanya untuk ‘menopang’ seri ketujuh yang merupakan kisah pamungkas, sehingga nilainya menjadi kurang sebagai sebuah film yang utuh.

    Pubertas
    Seakan sengaja dikontraskan dengan keadaan dunia sihir yang sedang dalam bahaya, seri keenam ini menampilkan sesuatu yang berbeda: para siswa tahun keenam Hogwarts memasuki masa pubertas; sesuatu yang tak bisa ditangkal oleh mantra sihir apapun. Berkat kreativitas penulis naskah Steve Kloves, pakem tradisional ditinggalkan. Film tidak lagi dimulai di rumah keluarga Dursley, namun di sebuah coffee shop subway, di mana Harry Potter terlihat sedang menggoda si pelayan (atau sebaliknya).

    Sahabat-sahabat Harry, Ron Weasley dan Hermione Granger juga tidak luput dari fenomena tersebut. Ron akhirnya berhasil mengakhiri ‘ketidakpopulerannya’ dan melepaskan diri dari bayang-bayang Harry ketika Lavender Brown ‘bergayut’ di tangannya. Selain itu, ia juga dipercaya untuk menjadi kiper tim Quidditch asrama Gryffindor. Si ‘kutu buku’ Hermione sekarang menjadi impulsif dan emosional karena cemburu melihat kedekatan Ron dengan Lavender. Kisah cinta monyet anak-anak Hogwarts tersebut menjadi semakin rumit ketika melibatkan Cormac McLaggen, Romilda Vane, Ginny Weasley dan Dean Thomas.

    Namun tanpa mereka sadari, Hogwarts perlahan-lahan menjadi tempat yang ‘gelap’ dan menakutkan. Antek-antek Voldemort, para Pelahap Maut (Death Eaters) terus berusaha menembus mantra pertahanan sekolah sihir tersebut. Hal ini disadari oleh Dumbledore, sehingga ia melatih Harry secara khusus, walaupun ia belum siap. Sebagai langkah awal, kepala sekolah sihir itu memperkenalkan Harry kepada salah seorang temannya bernama Horace Slughorn, yang memiliki ingatan yang berguna untuk menyingkap masa lalu Voldemort, sehingga kelemahannya dapat diketahui. Di samping itu, Harry juga ‘dibekali’ dengan buku teks ramuan aneh dengan nama pemilik ‘The Half-Blood Prince’, yang berisi catatan-catatan rahasia sehingga ia menjadi murid paling pintar di kelas Potions.

    Kisah Harry Potter, sebagai sebuah bildungsroman, memasuki tahap di mana proses pengembangan karakter utama berlangsung lama dan melelahkan, ketika kebutuhannya sering bertolak belakang dengan keinginannya. Ia ‘direkayasa’ oleh lingkungannya, sehingga tidak jarang gagal untuk berdiri sendiri. Sampai tahun keenam, Harry masih asal-asalan menggunakan mantra sihir, apalagi mengukur kekuatan lawan yang akan dihadapinya. Dalam teori Joseph Campbell, The Hero’s Journey (1985), sosok arketip utama, Hero (tidak bisa diterjemahkan sebagai Pahlawan), memang dibantu oleh seorang mentor atau guru. Ia memberikan ilmu, nasihat, latihan, bahkan senjata kepada Hero untuk menjalankan misinya. Namun, pada titik kulminasi waktu tertentu Hero harus berjuang sendirian tanpa kawalan sang mentor yang disebut The Wise Old Man tersebut. Dumbledore memang harus ‘dieksekusi’ pada HP 6 untuk memenuhi pola Hero’s Journey sebagai jalan menuju The Ordeal, tempat di mana ia harus menghadapi risiko sekaligus menyaksikan kematian sebelum meraih kemenangan. Hal ini juga menjadi semacam ‘a swift kick in the pants bagi Harry dalam mengatasi ketergantungannya kepada orang lain sehingga petualangan dapat dilanjutkan. Kedekatan, interaksi, dan emosi antara Harry dengan mentornya itu ditampilkan dengan sempurna dalam film ini.

    Draco Malfoy, yang merupakan tokoh antitesis Harry selama ini terpilih menjadi eksekutor pertama Dumbledore. Sementara semuanya sibuk mengendalikan hormon mereka, Draco mulai memisahkan diri dari geng Slytherin. Ia mulai frustrasi dengan beban yang diberikan Voldemort kepadanya untuk melakukan sebuah misi yang sangat berat tersebut. Namun fakta bahwa Snape, pada saat-saat terakhir, mengambilalih peran Draco semata-mata merupakan kemahiran pengarang dalam mempermainkan perasaan penonton. Film diputus di sini sehingga menciptakan misteri besar untuk cerita selanjutnya.

    David Yates sengaja menghapus pertempuran antara para  Pelahap Maut dengan penghuni Hogwarts dan upacara pemakaman Dumbledore dalam HP 6. Akibatnya film ini terasa kurang utuh sebagai sebuah cerita yang memiliki penyelesaian (ending) setelah klimaks. Tetapi kita semua tahu bahwa tujuannya hanya satu: agar film berikutnya menjadi lebih misterius dan ditunggu-tunggu. Bagaimana sebenarnya posisi Snape yang mengaku sebagai The Half-Blood Prince itu? Bisakah Harry bertahan tanpa Dumbledore? Atau apakah Hogwarts akan ditutup? Dalam sistem penceritaan, meminjam istilah Roland Barthes, HP 6 meninggalkan semacam kode hermeneutic bagi penonton dalam mengantisipasi Harry Potter and The Deathly Hallows episode I dan II.

    HP 6 bukan untuk ‘Newcomer’
    Sebagai sebuah drama, HP 6 adalah cerita yang stagnan dan mungkin agak membosankan. Ia penuh dengan adegan dan tempat yang spesifik, serta karakter minor yang tidak begitu jelas perannya. Banyak dialog yang terasa begitu textbook, kaku dan tidak alami, sehingga membuat kita bertanya-tanya: Apa saja yang dilakukan anak-anak ini selama hampir satu dekade? Selain itu, terdapat kesan ‘berpanjang-panjang’ dalam menampilkan kisah cinta anak-anak Hogwarts, sehingga bahaya besar yang sedang mengancam menjadi ‘terpinggirkan’ dan klimaks terus tertunda.

    Kali ini tidak ada lagi penjelasan-penjelasan detil mengenai suatu kejadian, karakter atau objek-objek yang ditampilkan. Penonton ‘harus’ sudah tahu plot cerita, latar, implikasi-implikasi dialog, dan lain sebagainya. Ternyata saya salah ketika menganggap bahwa HP 6 dapat menjaring penggemar baru tanpa perlu membaca buku. Salah seorang teman saya – non-fans – keluar dari gedung bioskop tanpa mengerti sedikitpun tentang film yang baru saja ditontonnya. Maaf teman, film ini ‘hanya’ diperuntukkan bagi para penggemar Harry Potter.

    Lumos!

    Karena terlalu sering menonton drama, saya hampir lupa bagaimana cara menikmati film Sci-Fi yang penuh adegan brutal dengan efek visual sepanjang cerita. Saya seringkali berganti-ganti posisi duduk, salah tingkah, bingung dan was-was kalau-kalau film ini ternyata buruk dan “Ya Tuhan, apakah saya akan membuang-buang waktu selama dua setengah jam di sini?” Untung saya nonton sendirian.

    megan fox and the machines

    Tapi bioskop itu selalu penuh sampai deretan bangku paling bawah dan tiketnya bahkan sudah habis empat jam sebelum tayang. Tandanya animo masyarakat begitu tinggi dan saya akhirnya mengantri demi menonton Transformers: Revenge of The Fallen (2009). Saya sudah memasang ekspektasi yang rendah walaupun ada nama Steven Spielberg dan Michael Bay di dalamnya, serta Megan Fox yang mungkin diekspos secara maksimal untuk keperluan visual semata.

    Ada yang tidak tahu Transformers? Generasi 1980an mungkin sudah akrab dengan serial kartun berjudul The Transformers yang dulu pernah ditayangkan di televisi lokal. Mereka adalah kaum robot yang berasal dari planet Cybertron, yang kemudian terpecah menjadi dua kubu: Autobots yang dipimpin oleh Optimus Prime (protagonis) dan Decepticons yang dipimpin oleh Megatron (antagonis). Para robot tersebut bisa bertransformasi menjadi berbagai bentuk kendaraan, perkakas, dan binatang. Mereka hidup berdampingan dengan manusia dengan ukuran yang elastis, bisa mengecil dan membesar. Semuanya mendapatkan energi dari sebuah ‘kunci’ yang disebut dengan Matrix of Leadership (ah, bagi yang tidak tahu apa-apa tentang Transformers, tidak usah pusing, karena masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan).

    Kembali pada prequel-nya Transformers, Megatron yang sekarat ternyata tidak mati. Ia kembali mengumpulkan energi dan menghimpun pasukan dari luar angkasa atas perintah The Fallen. Pada saat yang tepat, ia meluncur ke Bumi dan berhasil menamatkan riwayat sang Optimus Prime yang selama ini melindungi planet dari serangan Decepticons. Sedangkan Sam Witwicky (Shia LeBeouf) dan Mikaela Banes (Megan Fox) berada di tengah-tengah pertarungan kedua kubu tersebut dengan misi menghidupkan kembali Optimus Prime untuk pertarungan final melawan Megatron dan pasukannya.

    Yang terjadi kemudian adalah suara dentingan besi, ledakan besar, tabrakan keras dan deru peluru non-stop yang mendominasi, bagaikan orgasme tanpa henti. Semuanya diciptakan dengan efek visual CGI yang ‘mengerikan’ dengan kamera beresolusi tinggi. Robot-robot dalam Transformers membuat Power Rangers, Ultraman, Cyborg, Robocop, atau Terminators seperti karikatur kasar coretan anak SD.

    Walaupun penuh adegan kekerasan dan beberapa adegan hot, Transformers pada dasarnya adalah film anak-anak dengan rating PG-13. Namun, jangan mengharapkan dialog-dialog hebat atau akting memukau dalam film seperti ini. Itu sudah pasti. Situs RottenTomatoes hanya memberikan rating 21% dan menyebut Transformers: Revenge of the Fallen sebagai film yang “noisy, underplotted, and overlong special effects extravaganza that lacks a human touch.” Subplot-nya tidak pernah dikembangkan dan sangat mudah ditebak; mungkin dibuat untuk mengisi kekosongan beberapa menit ketika para robot sedang bersiap-siap untuk bertempur. Film ini seakan mengkhianati intelegensi.

    Tetapi Michael Bay tentu saja tidak mau berjudi dengan menampilkan adegan-adegan sentimentil ‘tidak penting’ dalam film ini. Di tengah kemelut robot-robot penuh nafsu tersebut, adegan manusiawi apapun yang ditampilkan akan sia-sia saja. Toh, penonton tetap tertawa-tawa walaupun leluconnya garing dan slapstick khas komedi toilet. Lalu terharu menyaksikan ending yang klise-nya minta ampun. Pesan-pesan moralnya yang kadang dipaksakan dalam cerita tetap membuat orang-orang mengangguk-angguk takzim tanda setuju. Dan di bioskop itu saya melihat sekelompok anak-anak bertepuk tangan ketika Optimus Prime kembali hidup!

    Sebagian orang mungkin perlu menyiapkan aspirin dan obat tetes mata untuk menonton film ini, lalu keluar dari gedung bioskop sambil memaki-maki. Tapi menurut saya, Transformers: Revenge of The Fallen dan film lain ber-genre sama memang murni ditonton untuk ditertawakan dan bukan untuk ditanggapi secara serius. Seperti halnya junk food, franchise Transformers memang populer, tapi bulan depan ia pasti akan terlupakan. Untuk sesaat, film ini mujarab untuk melepas lelah dan mengusir stres karena paling tidak selama dua setengah jam Anda tidak perlu memikirkan pekerjaan yang sedang menumpuk, debat politik Capres, virus Flu Babi, Manohara, atau kisah kawin cerai para artis yang setiap hari menjejali televisi.

    Cheers!

    Temaram dengan tone warna yang hangat dan keemasan, manis seperti madu yang membuat saya ingin ‘mencicipi’ layarnya, Vicky Cristina Barcelona* (2008) adalah sebuah drama komedi tentang dua orang turis Amerika yang sedang menghabiskan musim panas di kota Barcelona. Vicky (Rebecca Hall) ingin memperdalam kajian tesisnya tentang kebudayaan dan identitas masyarakat Catalan, salah satu etnik yang paling berpengaruh di Spanyol. Sedangkan Cristina (Scarlett Johansson) yang senang berpetualang, ingin mencari sesuatu yang baru, termasuk jati dirinya. Mereka mengunjungi museum setempat, arsitektur gereja Gaudi yang terkenal, menikmati masakan di restoran-restoran khas Catalan, dan malamnya duduk terbius oleh alunan gitar Asturias. Film ini memenuhi semua kebutuhan estetika yang ada: indah, hangat dan menggairahkan.

    Vicky Cristina Barcelona copia

    Tapi cerita sebenarnya baru dimulai ketika mereka bertemu dengan salah satu harta terbesar Spanyol: Javier Bardem. Ia memerankan Juan Antonio, seorang pelukis sekaligus sosialita lokal yang sedang jadi bahan pembicaraan masyarakat setempat karena baru saja bercerai dengan istrinya terkait masalah kekerasan dalam rumah tangga. Sebentar saja, Cristina sudah jatuh hati pada Juan Antonio hanya karena ia mengomentari mata dan bibirnya yang indah. Vicky awalnya menolak karena dua hal: Pertama, ia telah bertunangan dan akan segera menikah. Kedua, ia adalah seorang yang terpelajar, sedang mengejar magister, dan tidak mau dibodohi oleh seorang pria mesum yang tiba-tiba datang dan bilang, I’ll show you around the city. We’ll eat well, we’ll drink good wine, we’ll make love”.

    Syahdan, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke Oviedo menggunakan pesawat pribadi Juan Antonio. Walaupun menggerutu, Vicky akhirnya ikut berangkat dengan alasan “to protect Cristina from making a fatal mistake.” Di luar skenario, kencan Juan Antonio dan Cristina buyar karena Cristina keracunan makanan sehingga terpaksa dirawat. Justru Vicky yang akhirnya ‘terjebak’ dalam hubungan cinta dengan pelukis tersebut. Pola cinta segitiga tersebut terus berlanjut, sampai akhirnya Maria Elena, mantan istri Juan muncul di layar dan mengobrak-abrik plot membosankan yang telah dibangun dengan rapi dari awal.

    Selebrasi Cruz & Bardem
    Menarik untuk membahas keempat tokoh tersebut. Rebecca Hall memerankan Vicky, sebagai satu-satunya round-character dalam film ini. Tipenya lugas, berbicara dengan pilihan kata yang ‘terpelajar’ pada awal film berubah menjadi plin-plan dan penuh pretensi di tengah cerita, terutama ketika ia harus berbohong kepada Doug tunangannya atau ketika ia merepresi rasa cemburunya kepada Cristina karena memiliki Juan Antonio. Vicky berevolusi ketika ia akhirnya kembali memilih kehidupan ‘mapan’ dan realistis setelah mengalami ketidakstabilan identitas di Barcelona dengan segala pesonanya. Namun hal itu tetap dibawakan dalam aksen Amerika yang datar dan arogan oleh aktris yang juga bermain dalam film Frost/Nixon ini.

    Sedangkan Scarlett Johansson, ah, di mana pun ia tampil tetap saja lovable. Perannya dalam Vicky Cristina Barcelona sama sekali tidak bisa dibilang jelek karena karakteristik Cristina sepertinya memang dirancang seperti itu. Sulit untuk tidak membandingkannya sewaktu bermain dalam film Match Point (arahan Woody Allen juga) dengan karakter yang nyaris sama: muda, penuh hasrat namun tanpa tujuan. Ketika ia tinggal bersama Juan Antonio dan Maria Elena dalam satu rumah, ménage à trois, Cristina-lah yang paling sedikit membuat inisiatif dan manuver interaksi. Saya juga jadi mahfum kalau kecantikan Cristina langsung pudar begitu ia ‘diinterogasi’ oleh Maria Elena. Misalnya, ia hanya bisa mengatakan “ni hao ma” dalam bahasa Mandarin, padahal ia mengaku telah mempelajari bahasa itu. Mungkin ia hanya kurang improvisasi untuk mengimbangi para pemeran lain, karena sebagai satu-satunya yang berambut pirang, Cristina hanya akan memperkuat stereotip kejam bahwa “blonde is dumb.”

    Tentu saja, sepertiga terakhir dari film ini akhirnya benar-benar dikuasai oleh pasangan Bardem dan Penelope Cruz*. Akting keduanya begitu memukau, ‘kimia-nya’ luar biasa. Apalagi ketika mereka bertengkar dalam bahasa Spanyol yang cepat dan seksi itu; silabel ‘oo’ pada setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka membuat Vicky atau Cristina terpaksa melongo. Saya tidak bisa mengelak lagi bahwa tokoh Maria Elena yang diperankan Cruz ‘menelan’ Vicky dan Cristina hidup-hidup (dan tentu saja Cruz dapat Oscar untuk itu). Dengan durasi singkat yang diberikan padanya dalam film ini untuk peran seorang perempuan liar dan neurotik, ia sanggup menghadirkan karakterisasi yang kuat dan memorable.

    Sedangkan Juan Antonio yang diperankan Bardem berada di tengah-tengah mereka, mencoba untuk merangkul semuanya dengan kalimat-kalimat khas buaya darat. Baginya perempuan itu sama saja dengan kanvas untuk ia lukis. Ia bisa bebas berekspresi dan bereksplorasi di situ; mencoret-coret kanvas untuk membuat lukisan abstrak yang rumit, serumit hubungannya dengan Vicky, Cristina dan Marie Elena. Walaupun berbeda 180 derajat dengan perannya sebagai bandit dalam film No Country for Old Men, Bardem sangat berhasil. Lagipula, menurut situs Internet Movie Database, ia adalah satu-satunya pilihan Woody Allen untuk mengisi peran Juan Antonio.

    Menurut saya selebrasi pasangan selebritis tersebut tidak akan mencederai judul Vicky Cristina Barcelona, karena subjek dari cerita tersebut memang Vicky dan Cristina, serta Barcelona sebagai ‘karakter’ ketiga. Unik, karena Barcelona dalam hal ini mewakili dua tokoh, yaitu Juan Antonio dan Maria Elena yang melebur dalam cita rasa Catalan.

    Narator dan Ironi
    Kompleksitas karakterisasi yang unik tersebut ternyata tidak diimbangi dengan skrip yang berbobot. Film ini minim humor-humor verbal yang cerdas (witty) atau bahkan sarkastis khas film-film komedi Hollywood. Dialog-dialognya tidak terlalu banyak, terasa agak datar dan hambar, terutama pada paruh pertama. Saya selamat dari rasa bosan berkat durasinya yang cuma 96 menit. Mungkin film ini ingin menonjolkan keindahan latar kota Barcelona, tetapi ada ‘sesuatu’ yang hilang di sana.

    Sebagai gantinya Woody Allen, yang belakangan hobi membuat film di Eropa ini, memberi posisi seorang narator omniscient (yang mengetahui segalanya) kepada aktor Christopher Evan Welch. Ia ‘ditugasi’ untuk membeberkan kejadian–kejadian yang dialami oleh para tokoh kepada penonton, sehingga narasi yang disampaikannya seolah-olah seperti skenario pada setiap adegan. Narasinya mengingatkan saya pada chorus yang selalu hadir dalam setiap skrip drama Yunani Kuno. Saya tidak ingin menuduh bahwa kehadiran narator digunakan untuk menutupi skrip yang buruk, tapi penonton drama komedi tidak harus dipandu dengan cara seperti itu.

    Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah mengungkapkan hal tersebut sebagai “the foolish business of storytelling by ceaselessly bringing to the reader’s attention, explicitly or by allusion, the existence of an author” (What is Literature?, 1950). Lebih jauh, narator di Vicky Cristina Barcelona bisa dibaca sebagai ‘intervensi’ Woody Allen. Ia mengatakan apa yang akan terjadi dan dan menyimpulkan kejadian beberapa hari ke dalam satu paragraf. Jeda antara suara narator dan dialog para karakter membuat saya ‘hilang.’ Akibatnya film ini lebih banyak ‘menceritakan’ ketimbang ‘menampilkan’. Dan jujur saja, bagi saya suara sang narator yang semi-formal itu menjadi sangat mengganggu dan menyebalkan! Kalau memang kehadiran narator harus dipaksakan dalam film tersebut, mungkin akan lebih menarik jika ia merupakan salah satu dari para karakter, misalnya Judy, yang rumahnya digunakan oleh Vicky dan Cristina untuk menginap selama di Barcelona, sehingga ia cukup tahu mengenai kedua perempuan tersebut.

    Tetapi ada beberapa hal yang tetap belum terjawab, yang menyisakan ironi pada Vicky Cristina Barcelona. Misalnya, mengapa Vicky ingin menikahi pria kaya tapi membosankan yang selalu ‘mengganggunya’ setiap saat lewat telepon itu. Atau, untuk apa juga ia mengambil tesis tentang budaya Catalan, padahal tidak bisa berbahasa Spanyol. Atau absurditas yang ditunjukkan Cristina ketika ia mencoba membuat film berdurasi 12 menit yang berjudul “Why love is so hard to define?” padahal selama summer di Barcelona ia tak kunjung menemukan jati dirinya sendiri, alih-alih menemukan arti cinta.

    Atau tentang Juan Antonio, sang sosialita merangkap pelukis. Rumahnya yang penuh lukisan, bajunya yang selalu kotor oleh cat air, dan pergaulannya dengan teman-teman sesama artis, semuanya begitu kental dengan dunia artistik. Namun ia sama sekali tidak bicara tentang seni. Kita juga diberi tahu bahwa bapaknya adalah seorang pujangga, tapi tidak secuil pun puisi keluar dari mulutnya. Seni hanya ditempel sebagai pemanis cerita; motif dan simbol-simbol artistik digunakan hanya untuk menggambarkan Barcelona secara sempit. Ia seolah-olah mengatakan pada kita bahwa jika tinggal di Barcelona harus ada lukisan abstrak, puisi dan alunan gitar!

    Diringi dengan backsound ‘Barcelona’-nya Giulia y los Tellarini serta gambar-gambar menakjubkan dari latar salah satu kota paling eksotis di dunia oleh Javier Aguirresarobe, Vicky Cristina dan Barcelona sebenarnya adalah film yang indah dan enak ditonton. Namun sebagai bagian dari judul, ‘Barcelona’ tidak begitu diintegrasikan ke dalam cerita dan pengembangan para karakternya. Kutipan Maria Elena bahwa “only unfulfilled love can be romantic” terasa ironis mengingat ‘ketidakterpenuhan’ film ini. Seperti tidak terjadi apa-apa, “a passing thing”, seperti kata Vicky pada adegan terakhir, cerita selesai sebagaimana ia dimulai.

    *Vicky Cristina Barcelona mendapatkan Golden Globe Award 2009 untuk kategori Best Motion Picture – Musical or Comedy.

    *Penelope Cruz mendapatkan Academy Award 2009 untuk kategori Best Actress in Supporting Role.

    Jika saya jadi Amitabh Bachchan, saya juga pasti tercengang-cengang dan loncat dari kursi ketika menonton Slumdog Millionaire (2008). Saya, eh, Amitabh punya alasan yang kuat untuk itu. Selama ini dalam film-film Bollywood ia begitu heroik dan selalu berperan sebagai jagoan, orang kaya yang tinggal di rumah mewah, dan menampilkan kehebatan-kehebatan negerinya, serta terkenal seantero dunia.

    Jamal sedang menunggu kedatangan Amitabh Bachchan idolanya

    Jamal sedang menunggu kedatangan Amitabh Bachchan idolanya

    Namun, tiba-tiba pria asal Inggris itu (baca: Danny Boyle) membuat manuver tajam yang sama sekali tidak diduga banyak orang. Ia dengan vulgar menggambarkan kehidupan masyarakat paling bawah dalam masyarakat India; potret anak-anak jalanan ala Charles Dickens, yang hidup dalam lingkungan yang kumuh, penuh kekerasan dan minus pendidikan yang layak. Saya, jika jadi Amitabh, juga pasti emosi melihat anak-anak India, yang mengidolakan saya, dijadikan ‘binatang’ dan ‘diburu’, dan dicaci maki karena nasib mereka. Dalam blog-nya, Amitabh mengatakan:

    “If [Slumdog Millionaire] projects India as [a] Third World dirty underbelly developing nation and causes pain and disgust among nationalists and patriots, let it be known that a murky underbelly exists and thrives even in the most developed nations.”

    Sepanjang film kita disuguhi tur gratis kehidupan jelata orang India. Dan barangkali, yang paling membuat Amitabh geram, hal tersebut disaksikan jutaan orang di seluruh dunia. Itulah yang dibuat oleh Boyle dalam film yang membawa pulang delapan piala Oscar, yang di antaranya untuk Best Motion Picture ini.

    The Power of Coincidence
    Slumdog Millionaire diangkat dari novel best-selling India berjudul Q & A karya Vikash Swarup. Diadaptasi ke dalam skrip oleh Simon Beaufoy, film ini bercerita tentang seorang pelayan yang mendapat kesempatan untuk ikut kuis Who Wants to Be a Millionaire yang pernah begitu booming pada periode 2003–  2006.

    Semua orang suka kuis Who Wants to Be a Millionaire. Boyle sendiri mengakui bahwa salah satu dasar pembuatan film ini adalah karena ia menggemari kuis tersebut. Nasib film ini sepenuhnya terletak di bahu Jamal Malik (Dev Patel) yang sedang duduk di kursi panas berhadapan dengan Prem Kumar (Anil Kapoor), sang pembawa acara kuis. Selangkah lagi Jamal akan memecahkan rekor dengan memenangkan 20 juta Rupee. Namun sang pembawa acara dan polisi tidak percaya: bagaimana pula seorang yatim piatu, yang tidak bersekolah dan tinggal di daerah kumuh itu bisa menjawab seluruh pertanyaan dengan benar? Skeptisisme yang wajar dan masuk akal. Lalu, Boyle membawa kita ke tiap suspense, flash back, klimaks, dan detil kejadian yang memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan kuis. Plot yang unik.

    Tapi apakah semua itu bukan merupakan kebetulan belaka? Kebetulan saja setiap pertanyaan yang diajukan dalam kuis adalah representasi hidupnya. Kebetulan saja, misalnya, ketika Jamal diberitahu temannya bahwa foto dalam lembaran US$100 adalah Benjamin Franklin. Namun, “cinta akan menemukan jalannya” dan Boyle mengeksplorasi tema itu dalam setiap bingkai kilas balik kehidupan Jamal. Jika tidak percaya pada probabilitas dan peluang, silakan saja menganggap Slumdog Millionaire film yang mengada-ada.

    Tapi seperti yang kita ketahui, tujuan Jamal bukanlah uang, tetapi cinta (huhuhu mulia sekali dia). Jamal benar-benar merepresentasikan lirik lagu “Who Wants to Be a Millionaire?” (1956) yang dulu pernah dinyanyikan oleh Cole Porter: Who wants to be a millionaire? I dont, and I dont, cause all I want is you... Dalam setiap detil kejadian dalam hidupnya, Jamal berusaha mencari Latika (Freida Pinto), teman masa kecilnya yang sangat ia rindukan. Walaupun pada akhirnya ia tahu bahwa Latika telah dijadikan gundik seorang kepala preman, ia tetap mencintai Latika. Dialah jawaban semua pertanyaan yang diajukan kepada Jamal. Jamal hanya ingin ‘memenangkan’ Latika.

    Anomali Tahun 2008
    Menurut saya, Boyle sangat berani membuat film seperti Slumdog Millionaire. Padahal ia nantinya hanya akan punya dua hasil: gagal total atau sukses besar. Dan kita semua tahu bahwa pada akhirnya Boyle memperoleh yang kedua. Delapan piala Oscar bukanlah prestasi sembarangan (saya benci menjadikan Oscar sebagai parameter, tapi mau bagaimana lagi?).

    Namun, Amitabh yakin bahwa Slumdog Millionaire terkenal hanya karena dibuat, disutradarai dan ditonton dari perspektif Barat. Amitabh merasa nasionalismenya ditelanjangi (memang dalam beberapa adegan Boyle menunjukkan superioritas Barat, seperti ketika dua orang turis Amerika ‘mengajari’ orang hitam India agar memperlakukan anak-anak dengan pantas. Boyle ‘gagal’ menghindari stereotip negatif yang mungkin muncul dari adegan tersebut). Salah seorang teman saya bergurau dengan mengatakan, “Coba kalau pembawa acara kuis itu diperankan oleh bung Amitabh Bachchan, pasti reaksinya akan lain.” Terlepas dari praduga teman saya, Amitabh punya poin sendiri yang dapat ia perdebatkan.

    Namun bagi saya film ini tetaplah sebuah anomali pada tahun 2008; berbudjet rendah namun sangat menghibur, dibangun dengan tema sederhana bahwa “uang tak dapat membeli cinta” namun sangat dalam. Film ini juga diperkuat oleh tiga karakter (Jamal, Salim dan Latika) yang diperankan oleh sembilan orang dalam tiga fase. Semuanya begitu personal dan individualistik, sehingga kita tidak pernah salah mengetahui mana Jamal kecil, Salim remaja, atau Latika dewasa. Selain itu, Anil Kapoor yang memang merupakan superstar di India, juga memberikan karakter yang kuat kepada tokoh Prem, si Pembawa Acara kuis yang pongah itu. Sedangkan latar yang diambil begitu jujur dan nyata menggambarkan sisi lain kota Mumbai. Ditambah aransemen yang menggetarkan dari A.R. Rahman, Slumdog Millionaire rules!

    PS: Oh ya, jangan khawatir untuk mengajak anak-anak berumur 10 tahun untuk menonton film ini. Walaupun ada sedikit adegan kekerasan, namun tidak begitu ditonjolkan. Sepertiga film ini diperankan oleh Jamal kecil, yang penuh perjuangan untuk bertahan hidup. Hal ini bisa jadi pelajaran bagus untuk anak-anak, bahwa di luar sana banyak anak sebaya yang bernasib sama sekali berbeda dengan mereka.

    Tak terhitung banyaknya novel yang telah dijadikan film, baik itu karya klasik atau kontemporer. Dari Gone With the Wind sampai Twilight, para penulis skrip tampaknya berlomba-lomba memfilmkan novel. Drama juga favorit untuk diangkat ke layar lebar; seluruh drama Shakespeare sudah diadaptasi ke film dan bahkan beberapa di antaranya memiliki beberapa versi pada tahun yang berbeda. Pihak Academy pun memberikan dua kategori penilaian yaitu Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay.

    The curious case of Brad Pitt.

    The curious case of Brad Pitt.

    Cerpen ke Film
    Lalu bagaimana dengan adaptasi cerita pendek? Jika dibandingkan dengan novel dan drama, cerpen barangkali kalah favorit untuk diangkat ke layar lebar. Selain ceritanya yang jauh lebih singkat, cerpen juga minim tema, dialog, deskripsi, dan tentu saja, karakterisasi. Akibatnya, interpretasi yang ‘lebih’ dibutuhkan ketika mengadaptasi sebuah cerpen menjadi film yang sukses.

    Kita tetap bisa menyaksikan film-film blockbuster seperti Minority Report (2004) arahan Steven Spielberg yang diangkat dari cerpen Phillip Dick; Brokeback Mountain (2006) yang diangkat dari cerpen Annie Proulx; Lust, Caution (2007) yang diadaptasi dari cerpen Eileen Chang. Dua film terakhir berhasil disutradarai dengan baik oleh Ang Lee. Lalu ada juga Million Dollar Baby (2004) yang disutradarai oleh Clint Eastwood dari karya F.X. O’Toole, dan berhasil memenangi banyak penghargaan. Tapi bagaimana caranya film-film yang berdurasi rata-rata dua jam tersebut sukses hanya dengan mengadaptasi sebuah cerpen, yang sebenarnya dapat dibaca dalam sekali duduk?

    Film adaptasi cerpen adalah salah satu rahasia besar Hollywood. Film yang diangkat dari cerpen hanya membutuhkan pondasi utama yaitu seluruh cerita itu sendiri. Ia tidak akan disibukkan dengan kegiatan memangkas-mangkas jalan cerita, namun membangunnya dari cerita yang sudah ada.

    Tetapi ada juga penulis skenario dan sutradara yang langsung memelintir plot, karakterisasi, dan tone cerpen tersebut sehingga menghasilkan cerita yang sama sekali berbeda. Ada yang berhasil, ada juga yang gagal. Misalnya, film yang sekarang sedang ramai dibicarakan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Film yang diangkat dari cerpen karya F. Scott Fitzgerald ini ditulis oleh Eric Roth dan disutradarai oleh David Fincher dan berhasil menyabet 13 Nominasi Oscar tahun ini, termasuk kategori Best Pictures, Best Director dan Best Leading Actor (Brad Pitt).

    Tidak Menggigit
    The Curious Case of Benjamin Button (CCBB) versi film sangat berbeda dengan versi cerpen Fitzgerald. Roth, yang juga menulis skrip film fenomenal Forrest Gump (1994), hanya mengadaptasi nama Benjamin Button dan ide cerita tentang hidup yang terbalik—Benjamin lahir dengan fisik seseorang berumur 87 tahun dan seiring bertambah usianya, kondisi fisiknya malah semakin muda (reverse aging). Selebihnya, merupakan imajinasi Roth sendiri.

    Namun, kolaborasinya dengan Fincher menurut saya hanya menghasilkan cerita datar selama nyaris tiga jam. Tidak ada eksplorasi karakter; ia juga tidak menyebutkan bagaimana Benjamin bisa lahir seperti itu, atau setidaknya menampilkan konflik masa kecil Benjamin dengan teman-teman sepermainannya, sehingga terasa sensasi keanehannya itu sekaligus memperkuat karakternya ketika tumbuh dewasa. Selain itu, latar cerita juga tidak dieksplorasi dengan dalam. Dan yang kurang masuk akal, perubahan fisik Benjamin tidak pernah diekspos media dan orang-orang terdekatnya.

    Baiklah, ide tentang badai katrina dan gaya penceritaan flash back ala Titanic-nya cukup inovatif, tapi tidak ada keterangan apa-apa mengenai kejadian-kejadian ketika Benjamin hidup selain ditulis di dalam diari. Bagaimana kondisi tahun 50an dan 60an ketika Benjamin mengalami transisi hidup yang cukup penting tidak dijelaskan. Mereka hanya menonton Twist and Shout-nya The Beatles, dan saya berkata dalam hati, “Oh, itu tahun 1967..”

    Mungkin ada sedikit kisah sentimentil ketika Benjamin menjalin hubungan dengan Daisy. Namun, Fincher sedikit gagal menampilkan konflik kedua karakter itu. Kimia di antara keduanya juga kurang meyakinkan (saya). Ketika anaknya lahir, Benjamin memutuskan untuk pergi karena tubuhnya yang semakin muda sehingga tidak mungkin menjadi ayah. Keputusan Benjamin inilah yang membuat CCBB jadi terasa datar sekali. Padahal jika ia tetap tinggal dan menjadi ayah, akan banyak sekali konflik yang bisa digarap (sebagai perbandingan, di dalam versi cerpen, Benjamin sampai tua diurus oleh anaknya). Akibatnya, kita hanya disuguhi kehebatan tata rias wajah dengan efek CGI dan close-up muka Brad Pitt sepanjang film. Benjamin sangat membosankan dan nyaris tidak “memberikan” apa apa kepada penonton; ia hanya berjalan mengarungi waktu dan seolah melambaikan tangan kepada kita sambil berkata, “Hey, I’m 60 now, but look much younger!

    Situs RottenTomatoes mungkin sempat memberikan positive respons sebanyak 72%, tapi rata-rata pujiannya bukan karena kemampuan akting yang luar biasa. Menurut saya, tampilan visual effect bukanlah segalanya. CCBB gagal menampilkan kepada penonton, bagaimana reverse aging tersebut memberikan pengaruh yang dalam kepada si tokoh utama. Saya juga bukan anti-Brad Pitt. Banyak perannya yang menurut saya worth-Oscar di masa lalu, tapi tidak dilirik oleh Academy. Namun ironisnya, ketika ia tidak memberikan kemampuan akting yang mumpuni dalam CCBB, ia mendapat nominasi sebagai The Best Actor in Leading Role. Tidak nampak keistimewaan seorang Brad Pitt di sana. Kalau begini, tokoh Benjamin sepertinya bisa dimainkan aktor mana pun.

    Mengadaptasi cerpen ke dalam film bukanlah pekerjaan gampang. Memang proses pengambilan tema, karakter, atau plot-nya sama seperti di dalam novel, tetapi tetap dibutuhkan kreatifitas dan orisinalitas dari sang penulis skenario dan sutradara untuk membangunnya ke dalam film berdurasi empat kali lipat lebih lama dari membaca versi cerpennya.

    Tukul Arwana kembali. Setelah sempat dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tanggal 4 November 2008 lalu, Empat Matakembali dengan nama baru, Bukan Empat Mata. Trans7 tidak perlu pusing memikirkan nama Empat Mata yang telah menjadimerek dagang yang sangat kuat di pasar. Yang penting Tukul Arwana tetap ada.

    Tukul For YouAcara terakhir dihentikan menyusul ditampilkannya adegan memakan kodok oleh salah seorang bintang tamu acara. Selain itu Sumanto yang juga dihadirkan pada acara tersebut juga dinilai tidak relevan dan tidak lucu untuk sebuah acara reality show yang bernuansa komedi. Empat Mata dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran / Standar Program Siaran (P3 SPS) yang telah ditetapkan oleh KPI. Tiga peringatan telah dilayangkan kepada pihak Trans Corporation, namun tetap diabaikan. KPI pun bertindak tegas dan memberikan ‘kartu merah’ kepada Trans7 berupa penghentian tayangan dengan masa percobaan satu bulan.

    Poros
    Namun belum sampai satu bulan, Trans7 sudah menghadirkan Bukan Empat Mata, yang tayang perdana pada tanggal 1 Desember 2008. Acara ini tidak berbeda dengan pendahulunya. Semua hal dalam format lama tetap ditampilkan pada format baru ini. Tokoh utamanya tetap Tukul didampingi Vega dan Pepi. Tukul tetap dalam keluguan dan kepolosannya menghadapi kecanggihan teknologi yang dijewatahkan pada laptop yang berfungsi sebagai ‘buku teks’ Tukul dalam membawakan acara. Dan jargon legendaris “kembali ke laptop!” itu tetap ada!

    Veven S.P. Wardhana, seorang pengamat budaya populer, mengatakan bahwa Empat Mata sering ‘tergelincir’ ketika mengundang bintang tamu yang sama sekali tidak menjadi bintang. Jika ingin mengetahui bintang tamu secara lebih mendalam, paling-paling mereka diminta menyanyi, atau memainkan alat musik, atau berakting. Kupasan atas sebuah masalah atau pada sosok bintang tamu tetaplah berupa basa-basi, semu, dan sering merupakan sarana untuk memicu ‘improvisasi’ kelucuan dari Tukul. Para bintang tamu adalah ‘bubuk mesiu’ untuk meledakkan sense of humor Tukul sehingga mereka mesti siap dikorbankan. Tidak ada istilah “tamu adalah raja”; bagi Tukul, dialah poros utama dan plot cerita. Sandra Dewi yang cantik hanya menjadi perhatian selama 15 menit pertama.

    Setelah itu ia terpaksa gigit jari nyaris sampai acara berakhir. Selebihnya kita hanya melihat Tukul yang ‘merajalela.’ Tukul dalam hal ini bermain drama, pantomim dan sinetron sekaligus. Dalam ‘ber-drama’ ia bergerak dan berkata-kata sesuai sesuai skenario dan dialog dari sang pengarah cerita dan tim kreatif. Saking ‘patuhnya’ Tukul pada laptopnya tersebut, sampai-sampai ia akan memohon-mohon jika, misalnya, Pepi menyembunyikannya. Tukul juga pandai sekali ‘berpantomim’. Penonton sudah bisa dibuatnya terpingkal-pingkal dengan satu gerakan bibir dan kibasan tangan, plus diiringi teriakan-teriakan penonton. Ia juga sedang ‘bermain’ sinetron dalam artian, gurauan, ide, dan tindakannya kadang tidak lagi logis dan masuk akal sehat, seperti halnya sinetron. Lawakannya kadang keterlaluan, tidak peduli dengan SARA.

    Nyaris tidak ada yang berubah pada Bukan Empat Mata. Tukul tetap cium pipi kanan dan cium pipi kiri dengan Sandra Dewi. Matanya siap bergerilya menatap kecantikan Sandra. Tangannya siap menggerayangi lengan dan paha Sandra. Tukul benar-benar ‘tidak peduli’ dengan peraturan KPI. Humor yang melecehkan fisik seseorang tetap menjadi bahan utama lawakan.

    Mungkin ada tambahan segmen yaitu pembacaan berita-berita aktual yang disajikan dengan kocak untuk kemudian dikomentari oleh Tukul. Namun yang jelas, Tim Kreatif acara tersebut terlihat sama sekali tidak kreatif dalam membangun sebuah acara baru. Kata ‘Bukan’ yang ditambahkan pada acara Empat Mata seperti mengisyaratkan ‘perlawanan’ terhadap pencekalan yang dilakukan oleh KPI. Karena jika acara ini bukan lagi seperti Empat Mata yang telah dicekal, isinya harus berubah dengan memperhatikan P3 SPS. Walaupun diganti dengan nama apa pun, isinya akan tetap sama selama di dalamnya ada Tukul.

    Yah, peduli amat, mau Empat Mata, mau Bukan Empat Mata, yang penting ada Tukul Arwana. Keledai saja tidak mau terperosok ke lubang yang sama dua kali, namunBukan Empat Mata sudah jatuh dan terjerembab berkali-kali ke dalam lubang yang ia gali sendiri.

    Next Page »