Stoick facing one of the wildest dragons

Bayangkan adegan ini: arena tertutup dengan atap jeruji besi, beberapa rak senjata berisi tameng dan kapak, serta penonton yang bersorak riuh. Sekilas, salah satu adegan paling seru dalam film animasi How to Train Your Dragon (2010) ini mirip dengan kontes gladiator. Tetapi acara tersebut adalah ajang bagi anak-anak bangsa Viking untuk diakui sebagai keturunan Nordic sejati: berlatih membunuh naga!

Naga mungkin merupakan makhluk fantasi paling cool dalam bayangan anak-anak. Ular raksasa bersayap, dengan cakar tajam, dan bisa menyemburkan api; hewan apa lagi yang lebih hebat dari itu? Dengan visualisasi dan warna-warna yang cermerlang, Chris Sanders dan Dean DeBlois menuangkannya ke dalam layar 3D tentang seorang anak yang dianggap remeh, namun memiliki visi yang merevolusi budaya bangsa Viking selama ratusan tahun. Saya sudah lama mencintai film-film garapan Pixar. Namun setelah menyaksikan Hiccup terbang a la Avatar bersama naganya, rasa itu harus dibagi dua kepada DreamWorks.

How to Train your Dragon diangkat dari novel anak-anak berjudul sama karangan Cressida Cowell (2003).  Dikisahkan pada zaman dahulu kala, bangsa Viking yang tinggal di kepulauan Berk harus menghadapi “serangan” rutin para naga yang berusaha mencuri cadangan makanan. Stoick the Vast sang kepala suku (suara diisi dengan gaya 300 oleh Gerard Butler), menjadi terobsesi dan mengajak pasukannya untuk mencari sarang berbagai macam spesies naga tersebut dan menghancurkannya.

Sialnya, successor Stoick yang tidak lain adalah putranya sendiri, Hiccup (dengan vokal yang mengesankan oleh Jay Baruchel), justru tidak bisa diharapkan menjadi petarung dalam membunuh naga. Jangankan mengayunkan pedang, bersembunyi saja dia tidak becus. Fisiknya lemah, dan malah lebih berbakat menjadi pandai besi, suatu hal yang selalu dijadikan bahan ledekan oleh teman-teman sebayanya. Walaupun ia putra semata wayang kepala suku, cap pecundang sudah melekat padanya.

Namun, situasi berubah ketika Hiccup menyelamatkan seekor Night Fury yang cedera. Naga hitam yang ia beri nama Toothless tersebut adalah spesies paling buas dan bahkan tidak tercantum keterangannya di dalam Buku Panduan Naga. Melalui persahabatannya dengan Toothless, Hiccup pun berhasil menemukan trik-trik untuk menjinakkan naga-naga yang paling liar sekalipun. Meski harus berseberangan dengan sang ayah, Hiccup dengan filosofi Emersonian-nya tetap ingin mengubah paradigma masyarakat Viking bahwa manusia harus ‘bersahabat’ dengan alam, bukan malah menghancurkannya. How to Train Your Dragon menjadi istimewa dengan skrip yang cukup berbobot, cerdas, sedikit sinisme, dan kearifan-kearifan dasar yang bagus untuk ditonton oleh anak-anak.

Efek tiga dimensi membuat aksi-aksi akrobatik para naga di udara yang seakan meloncat ke luar layar dan lanskap kepulauan Berk yang indah menjadi pengalaman yang seru, tidak terkecuali bagi penonton dewasa. Sebagai film kartun, How to Train Your Dragon menjanjikan cerita heroisme yang epik, haru-biru, dengan konsekuensi logis yang harus diterima oleh sang tokoh utama di akhir cerita. Film ini terlihat sangat ambisius. Dan, apakah Pixar akan tinggal diam? Saya tidak akan heran jika nanti ada animasi tandingan tentang makhluk fantasi lainnya. Phoenix, barangkali?

Sosok detektif yang elegan, dingin dan serius adalah ciri-ciri Sherlock Holmes yang telah berada di relung bawah sadar semua orang. Namun, setelah 75 aktor memerankan Holmes dalam lebih dari 200 film, bisnis layar lebar butuh sesuatu yang segar dan baru. Oke, lalu bagaimana dengan detektif petarung yang bertelanjang dada? Sutradara muda Inggris, Guy Ritchie memoles tokoh detektif terbesar sepanjang masa itu dengan gaya yang cuek, urakan, bahkan jorok; jauh berbeda dari Holmes versi Basil Rathbone yang klimis. Holmes versi Ritchie adalah detektif rock n’ roll, ceplas-ceplos, namun tetap cerdas dengan kemampuan deduksi dan membaca jejak tiada tara. Sungguh, saya sanget respek dengan kreatifitas macam ini.

Gambaran seperti ini rupanya justru paling mendekati sosok Holmes rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Detektif pecandu kokain tersebut dalam kesehariannya sangat menggemari beladiri. Dalam novel The Sign of the Four, sang pengarang juga sempat menyebutkan bahwa Holmes adalah seorang petarung, yang andal baik dengan tangan kosong, senjata tajam maupun pistol. Namun Sir Arthur tidak sempat mendalaminya. Nah, hal inilah yang dieksplorasi habis-habisan dalam Sherlock Homes (2009). Singkatnya, Holmes “baru” ini adalah detektif yang menggunakan otak dan otot. Ritchie memadukan keduanya dengan kemampuan Holmes untuk mengkalkulasi akibat dari setiap gerakannya dengan teknik slow motion, sehingga memberikan kesempatan pada penonton untuk mengagumi daya analisis sekaligus kekuatan tinju Holmes! Jika Sir Arthur masih hidup, beliau akan menjabat tangan Ritchie..

Syahdan, Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) dan rekannya Dr. John Watson (Jude Law) dibayar untuk memburu kriminal berbahaya bernama Lord Blackwood (Mark Strong) yang meneror masyarakat London dengan ilmu hitam. Bekerjasama dengan kepolisian Scotland Yard, mereka berhasil menangkap Blackwood untuk digantung. Namun, Blackwood berhasil “bangkit” dari kubur dan membunuhi korbannya satu-persatu. Kali ini Holmes harus menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghentikan Blackwood.

Aksi duel dan kejar-kejaran plus ledakan mewarnai kisah penyelidikan Holmes yang tidak lazim ini di kota London era Victoria akhir abad ke-19 yang kumuh, dark, dan penuh dengan pembangunan infrastuktur— menandai revolusi industri di negara tersebut. Mereka menjelajahi saluran air bawah tanah, penggilingan daging, sampai ke puncak Tower Bridge yang sedang dibangun. Holmes dan Watson pun masih keluar masuk flat nomor 221B Baker Street yang legendaris itu, ditemani seekor bulldog lucu yang sering menjadi korban eksperimen sang detektif. Diiringi dengan score dan musik yang dinamis, film ini membuat Anda susah berkedip. Dan sebagaimana lazimnya cerita-cerita detektif, Holmes membeberkan hipotesisnya dengan brilian di hadapan sang musuh pada adegan pamungkas. Saya salut dengan keempat penulis skenario Sherlock Holmes, tapi sayangnya semua hal di atas tidak akan banyak diingat orang.

Terlalu Dominan
Atraksi utama dari film calon franchise laris ini adalah Robert Downey Jr. Dengan aksen Inggris lumayan (berkat pengalaman memerankan komedian Charlie Chaplin), aktor cerdas ini mampu menyuguhkan karakter berbeda dari Sherlock Holmes konservatif. Holmes versi Downey Jr. adalah kombinasi kejeniusan McGyver dan kesintingan Jack Sparrow. Ia memerankan karakter post-modern yang jauh “melompati” zamannya. Ritchie tentu paham bahwa karakterisasi semacam ini hanya akan menyenangkan kelompok penonton tertentu saja.

Sosok Homes tentu tidak bisa lepas dari Watson, yang diperankan cukup baik oleh Jude Law (pers Inggris menjulukinya “hot Watson” karena memberikan dimensi baru bagi imej dokter tersebut). Persahabatan Holmes-Watson ditampilkan dengan atmosfer benci tapi rindu, mirip pasangan suami istri menopause yang selalu bertikai karena hal-hal sepele setiap hari. Watson selalu “cerewet” dan mengkritik setiap tindak-tanduk Holmes, sebaliknya Holmes pun berusaha mencegah Mary Morstan (Kelly Reilly) menjadi kekasih Watson agar ia tidak ditinggal sendirian. Dialog-dialog cerdas dan nakal berhamburan dari mulut mereka. Kita mungkin menangkap kesan homoerotika di dalamnya, namun kadarnya tidak berlebihan, sehingga tidak akan terlihat sebagai Brokeback Mountain jilid dua.

Namun, dua tokoh tersebut terlalu dominan sepanjang 130 menit cerita. Dengan plot yang super cepat, karakter antagonis seperti Blackwood, Coward (Hans Matheson), Irene Adler (Rachel McAdams), Insp. Lestrade (Eddie Marsan) dan lainnya terlihat seperti setumpuk koran bekas yang siap dibuang saja. Blackwood susah disamakan dengan Joker dalam film The Dark Knight, misalnya, yang begitu sulit dilupakan penonton. Seperti yang diduga, Irene Adler hanya tampil sebagai pelengkap penderita, sehingga gagal total meyakinkan saya kalau perempuan ini memang tandingan setara Holmes. Bagi Ritchie, dekonstruksi penokohan Holmes adalah segala-galanya.

Ya, ini adalah film tentang dua pria yang terpanjang di poster Sherlock Holmes tersebut, tidak lebih (dan semoga mereka mendapatkan piala untuk itu). Bisa dipahami, bahwa Ritchie memang dibayar oleh Warner Bros. untuk mempersiapkan sebuah franchise, sehingga sosok Holmes “baru” tersebut harus melekat dahulu di hati penonton (muda). Mengutip Leslie S. Klinger, editor buku The New Annotated of Sherlock Holmes, “It’s like new wine in old bottles.” Pekerjaannya tidak mudah karena ia sedang menjungkirbalikkan imej detektif ternama yang sudah terpatri di benak setiap orang.

Untuk itu, Sherlock Holmes membuka pintu untuk film kedua, karena masih ada lawan berat yang sedang menunggu sang detektif: Profesor Moriarty (konon akan diperankan oleh Brad Pitt). Kita tunggu sekuel “panas” itu, Mr. Ritchie!

James Cameron. Dialah penyebab semua chaos ini. Lima belas tahun yang lalu, sutradara film Titanic itu mengeluh karena imajinasi “liarnya” belum bisa dituangkan ke dalam layar lebar disebabkan keterbatasan teknologi sinematografi. Namun seiring berkembangnya digitalisasi, 3D, CGI apa pun menjadi mungkin. Film terbarunya, Avatar (2009), adalah sebuah terobosan, sesuatu yang tidak mungkin ditonton tanpa teriakan “wow!” atau “edan!”. Saya pikir, mungkin inilah yang dirasakan oleh orang-orang pada tahun 1933 pada saat menonton film King Kong untuk pertama kalinya.

Kali ini, penonton dibawa ke planet Pandora pada gugusan galaksi baru yang akhirnya ditemukan oleh manusia pada tahun 2154. Jake Sully (Sam Worthington), seorang mantan marinir yang lumpuh, ditugasi untuk menjajaki kemungkinan bernegosiasi dengan kaum Na’vi, makhluk pribumi, agar mereka segera meninggalkan pohon besar yang selama ini menjadi “sarang” mereka. Pohon keramat itu ternyata menyimpan sumber mineral langka unobtanium, yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis energi di planet Bumi.

Namun, karena udara di planet Pandora tidak cocok bagi manusia, para ilmuwan mengembangkan program Avatar, yaitu membuat replika makhluk Na’vi. Dengan rekayasa DNA dihasilkan kloning makhluk setinggi tiga meter, berekor, dan berwarna biru pucat itu. Dengan menggunakan kekuatan pikiran, makhluk kloning itu dipakai untuk berinteraksi dengan kaum Na’vi asli. Jake pun mulai mengeksplorasi kehidupan yang eksotis di planet tersebut.

Tetapi, perlahan-lahan Jake mulai menaruh respek terhadap cara hidup kaum Na’vi. Ia juga jatuh hati kepada Neytiri (Zoe Saldana), anak sang kepala suku. Seperti yang diduga, Jake akhirnya menjadi bagian dari mereka untuk menentang invasi makhluk bumi, eh, manusia di Pandora. Tanpa mengurangi sedikitpun level kecanggihan visualisasinya, penonton mulai terseret ke dalam emosi karakter-karakter yang diciptakan Cameron.

Avatar menawarkan pengalaman baru dalam menonton film. Tidak ada adaptasi atau daur ulang di dalam film ini. Semuanya murni inovasi dan imajinasi. Film ini merombak teori bahwa filmblockbuster hanya berasal dari adopsi novel best-seller (Harry Potter, Twilight), komik (Batman, Spiderman), mainan (Transformers) dan lain sebagainya. Mungkin kita telah berulangkali menonton film dengan plot yang serupa, tapi dengan kehebatan teknik visualisasi dan kreativitas Cameron, semuanya tampak berbeda dalam Avatar.

Semangat anti-imperialisme mewarnai film ini, dengan menampilkan konflik klasik antara para penggiat lingkungan dengan pemerintah yang cenderung korup. Avatar merefleksi kerakusan sebagai sifat dasar manusia, yang suka merusak alam tanpa memedulikan kelangsungan ekosistem yang ada di dalamnya. Dari segi cerita, Avatar mungkin belum sedalam dan sekolosal Trilogi The Lord of the Rings, namun ia tetap layak dinobatkan sebagai film tahun ini.

Film ini akan semakin istimewa jika disaksikan di bioskop dengan kacamata khusus. Rasanya belum ada film yang “benar-benar diciptakan” untuk ditonton secara 3D sebaik Avatar. Durasi yang nyaris tiga jam tidak akan terasa, karena setiap menit dari film ini adalah petualangan dan penemuan baru. Cameron benar-benar edan!

Diadaptasi dari novel yang begitu populer dan diarahkan oleh sutradara hebat, film Sang Pemimpi sebenarnya memiliki amunisi lengkap untuk menyerbu pasar. Ekspektasi penonton pasti tinggi sekali, karena prekuelnya, Laskar Pelangi sukses besar: ditonton oleh hampir lima juta orang dan meraih berbagai penghargaan, salah satunya sebagai film terbaik dalam Asia-Pacific Film Festival baru-baru ini.

'Lolongan Arai akhirnya berhasil meluluhkan hati Zakiah Nurmala

Tetapi dari segi narasi, terlepas apakah penilaian ini subjektif atau bukan, saya menganggap Sang Pemimpi lebih baik dari ketiga novel lainnya dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Dengan tokoh-tokoh yang tidak terlalu ’ramai‘ seperti pasar, ceritanya juga mengalami ‘kemajuan’ drastis karena lebih dalam dan filosofis,  nyaris tanpa sub-plot yang tidak penting dan deskripsi yang berpanjang-panjang . Namun, mengadaptasinya menjadi naskah film tentu lain persoalan. Seperti yang diketahui, Andrea Hirata selalu membuat cerita yang terpecah-pecah yang disebutnya sebagai ‘mozaik’ dan kadang tidak paralel. Dengan durasi yang lebih dari dua jam, Riri Riza terlihat hati-hati sekali agar tidak menghilangkan detil cerita sekaligus membuat sebuah alur cerita yang ‘lurus’ agar film menjadi fokus. Satu-persatu mozaik itu dirangkai, dihidupkan oleh gambar-gambar dengan kontrol aperture yang indah dan beberapa di antaranya terlihat ’sangat‘ Belitong.

Tahun 1985. Ikal (Vikri Septiawan) yang telah beranjak remaja pergi meninggalkan teman-teman Laskar Pelangi-nya sewaktu di sekolah dasar. Ia menetap di desa Manggar bersama Arai (Rendy Ahmad) sepupunya yang hidup sebatang kara setelah ditinggal mati ibu bapaknya. Selain itu, ada Jimbron, si gagap yang juga ditinggal mati orang tuanya. Diceritakan suka duka hidup mereka yang jauh dari keluarga; menyewa sebuah gubuk untuk bertiga dan mau bekerja apa saja untuk membiayai sekolah dan menabung demi mimpi kuliah di Eropa.

Seperti halnya film-film dengan tema remaja lainnya, Sang Pemimpi juga menawarkan masalah-masalah anak muda dengan pakem yang kurang lebih sama: pencarian jati diri dan seksualitas, persahabatan, dan ketertarikan dengan lawan jenis. Namun tentu saja film ini tidak menceritakan percintaan remaja urban yang banal dan semau gue. Kesungguhan cinta Arai kepada Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda) seperti Zainuddin kepada Hayati, tokoh-tokoh ciptaan Hamka dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Cinta tulus yang hadir ketika sang lelaki berdendang di depan rumah sang kekasih hanya untuk melihat wajahnya di jendela. Romantisme mereka mencapai puncaknya ketika saling melambaikan tangan saat perpisahan: “Tunggulah abang pulaaaang…” Klasik!

Namun, mereka bukanlah karakter-karakter individualistik, yang memiliki kontrol mutlak terhadap masa depan mereka. Ikal dan Arai memang terobsesi dengan Universitas Sorbonne Paris, tetapi pilihan hidup apa yang dimiliki oleh anak-anak kuli timah? Sebenarnya mereka sangat sadar bahwa sekolah menengah atas itu hanyalah ‘tipu muslihat’ selama tiga tahun sebelum nasib menyeret mereka untuk bergabung dengan bapak-bapak mereka menyekop xenotym di pertambangan. Mereka hanya bisa bermimpi dan memupuk optimisme dalam-dalam. “Kalau tidak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati,” begitu pesan Arai kepada Ikal.

Ada saat-saat ketika mereka terperosok dalam sikap ‘realistis’ yang pelan-pelan menggerogoti mimpi-mimpi itu. Ikal mulai malas masuk sekolah, tabungannya terpaksa dikuras untuk membantu perekonomian keluarga dan sering cekcok dengan kedua sahabatnya. “Kau saja yang pergi ke Paris!” teriaknya pada Arai, yang tidak henti memberinya semangat. Ikal melampiaskannya dengan bekerja pada seorang pemilik kapal yang justru menggangap sekolah bukanlah jalan mencapai keberhasilan.

Beruntung mereka dikelilingi oleh tokoh-tokoh pendukung yang baik. Sang ayah (Mathias Muchus) seperti biasa, dengan karakternya yang sangat kuat, mampu membuatmu menangis sekaligus tertawa hanya dengan dua tiga patah kata dan permainan mimik muka. Ia mengingatkan kita akan figur yang dapat menjadi panutan. Melihat ayahnya yang mengayuh sepeda sejak subuh dari rumah, Ikal tidak punya pilihan selain memperbaiki nilai rapornya yang sempat anjlok. Selain itu ada Bang Zaitun (Jay Subiyakto) sang musisi eksentrik, Pak Balia (Nugie) sang guru motivator, dan Pak Mustar (Landung Simatupang) sang Kepala Sekolah killer namun berhati lembut, sebagai katalisator yang membuat Arai dan Ikal tetap bisa menjaga mimpi-mimpi mereka.

Tidak Banyak Dialog
Film dibuka dengan adegan yang tidak biasa. Mengenakan baju safari empat saku kesayangannya, ayah Ikal mengayuh sepeda menyusuri jalan menuju SMA Negeri Manggar untuk mengambil rapor anak-anaknya. Hening dan bersahaja. Ketika bertemu Ikal dan Arai pun, ia hanya mengangguk dan mengucapkan salam, setelah itu pergi. Setia kepada novelnya, hubungan ayah dan anak ‘tanpa kata-kata’ ini cukup sukses dipertahankan Riri Riza sepanjang cerita.

Namun keheningan tersebut, dalam perspektif yang berbeda, sekaligus menjadi kekurangan film ini, yaitu minimnya dialog antar tokoh. Lukman Sardi yang memerankan Ikal dewasa cenderung bermonolog karena berperan sebagai narator cerita. Nugie dan Landu Simatupang sebenarnya memerankan sosok guru dengan pas, tetapi mereka juga seperti ‘berbicara sendiri’ menghadapi murid-murid yang pasif dan tidak banyak omong. Konflik-konflik yang terjadi antara Ikal, Arai dan Jimbron pun terasa kurang gregetnya, karena tidak ada dialog-dialog yang dapat menunjukkan kemampuan akting yang mumpuni. Zakiah Nurmala bahkan tidak bicara sepatah kata pun. Di sisi ini, Sang Pemimpi tidak dapat memenuhi ekspektasi kelompok penonton yang mengharapkan para pemain saling lempar argumen panjang dengan dialog-dialog cerdas.

Saya rasa, mungkin inilah risiko yang harus diambil oleh sutradara dalam mengadaptasi novel yang ‘menuntut’ begitu banyak adegan filmis  yang, jika dihilangkan, dapat merusak tatanan mood yang telah dibangun para penonton yang sejak awal membaca novel Sang Pemimpi. Karena dalam film kita berbicara tentang durasi,  konsekuensinya tentu saja tidak banyak dialog yang bisa ditampilkan. Instalasi berikutnya, Edensor, diharapkan dapat menebus kekurangan ini.

Walaupun begitu, secara keseluruhan Sang Pemimpi menjadi film penutup tahun yang bagus. Film ini menurut saya berhasil mengesampingkan film-film ‘tidak jelas’ yang sepanjang 2009 merecoki gerai-gerai bioskop. Saya menyebutnya sebagai distraksi kreatif terhadap perhatian masyarakat kita yang mulai lupa bahwa film Indonesia juga bisa bicara.

***

Kalau sebelum ini Dewi ‘Dee’ Lestari mencoba menggabungkan cerita dengan musik, sains, ekonomi, bahkan filsafat, novel anyar Perahu Kertas seperti mematahkan semuanya. Novel ini ringan, chick, jauh dari kesan berat ala Supernova dan tampil apa adanya dengan tema cinta remaja. Kalau tidak siap dengan perubahan tersebut, mungkin bisa gigit jari!

perahu kertas

Dee sendiri mengaku bahwa hal yang menginspirasinya menulis kisah Kugy dan Keenan adalah ikon-ikon budaya populer pada masa remajanya, seperti komik Jepang Popcorn, film drama Reality Bites (1994) yang dibintangi Wynona Rider dan grup musik Amerika Indigo Girls. Perahu Kertas awalnya berupa cerita bersambung (cerbung) yang ditulis Dee di awal tahun 1996. Beberapa tahun kemudian, ceritanya dirilis di Internet dalam versi digital. Oleh karena itu, agaknya lebih tepat jika menyebut Perahu Kertas adalah cerita Dee yang telah “diperbaharui”.

Karakter-karakternya hidup dan terasa nyata (plausible). Belum lagi tempat-tempat “betulan” di Bandung, Jakarta dan Bali yang dijadikan latar cerita oleh Dee. Belum apa-apa, saya sudah membayangkan Nikita Willy dapat memerankan Kugy jika Perahu Kertas kelak diangkat ke layar lebar hahaha. Membaca Perahu Kertas membuat saya mengenang kembali masa-masa membaca serial Lupus-nya Hilman, yang lucu khas anak gaul akhir abad ke-20. Cerita-ceritanya biasanya berkisar tentang pencarian jati diri, jatuh cinta dan segala macam konflik dengan teman-teman dekat dan keluarga.

Kugy dan Keenan adalah sepasang remaja yang memiliki sifat berlawanan satu sama lain. Kugy adalah cewek ceria, pengkhayal, urakan, tapi mempunyai bakat menulis yang besar. Sedangkan Keenan adalah cowok cerdas, pendiam, namun memiliki bakat melukis yang hebat. Lalu mereka berbaur dalam satu lingkaran cerita. Seperti kebanyakan plot-plot standar cerita romantis ABG, mereka bertemu secara tidak sengaja, lalu mengalamai fase “malu-malu tapi mau”, menghadapi konflik-konflik keras dengan realitas dan bertransformasi menjadi seseorang yang berlawanan dengan sifat-sifat dasarnya—terlepas dari apakah mereka benar-benar mengenal arti cinta—sebelum kembali ke awal lagi.

Beberapa adegan pastinya terasa begitu klise dan tipikal, karena setiap literatur populer tidak mungkin menghindarinya. Misalnya adegan ketika Noni cemburu melihat kedekatan Kugy sahabatnya dengan Eko, pacarnya. Padahal pembaca tahu persis bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara Kugy dan Eko. Lalu konflik, yang menurut pembaca tidak penting dan “menggemaskan” harus terjadi di antara mereka, dengan kemasan ala sinetron. Menurut saya, Bali adalah latar paling klise dalam kisah cinta remaja Indonesia. Entah kenapa, di mana-mana selalu ada kisah cinta di pulau dewata.

Tapi kelebihan Dee daripada penulis-penulis kisah remaja lainnya mungkin terletak pada cara menuturkan cerita. Tidak ada kata yang mubazir dalam penceritaan Dee. Ia bisa menyihir narasinya dan memikat pembaca dengan cepat. Semua “kebetulan-kebetulan” disusun dengan alur yang rapi dengan suspense yang, mau tau mau, bikin tegang dan penasaran. Latar tempat dan waktu ditulis begitu detail sehingga pembaca merasa memiliki pengalaman yang sama dengan para tokoh di dalam cerita. Setelah makan es krim di Kemang, Keenan mau kemana ya?

Saya juga suka dengan desain bukunya: komikal dan sesuai dengan genre novelnya. Mungkin ingin terlihat lebih akrab di mata pembaca, Dee juga memuat komentar-komentar para fans-nya di Facebook pada halaman depan buku. Sudah lama rasanya saya tidak lagi bisa menghabiskan sebuah novel dalam satu hari. Di antara karya-karya Dee yang begitu filosofis dan cenderung berat, Perahu Kertas terasa seperti segelas air es yang segera meredakan dahaga. ‘Gelas’-nya tidak mungkin bisa diletakkan sebelum menghabiskan tetes terakhirnya. Momen peluncurannya juga pas dengan saat liburan sehingga bisa dibawa sebagai teman dalam perjalanan.

Sebentar lagi bulan puasa berakhir. Pada hari terakhir bekerja sebelum libur lebaran, kantor udah keburu sepi. Boks-boks dengan sisi atas kaca itu sudah “ditinggal” penghuninya. Tidak terdengar lagi bunyi tik-tak keyboard, deru printer, percakapan di telepon, alih-alih celoteh para visitor dari luar yang biasanya nangkring di sofa.

the glass boxes have been empty

the glass boxes have been empty

Padahal hari terakhir itu dibuatkan semacam daftar hadir khusus bagi para karyawan/karyawati yang datang. Presensi khusus biasanya disertai bonus. Dan rumornya, uang lembur juga akan cair pada sore hari. Tidak lain tujuannya untuk memotivasi pegawai. Tapi sepertinya tidak banyak yang tertarik. Toh nanti setelah balik ke kantor pasti dapat juga. Dan saya mafhum kalau daftar presensi penuh, tapi orangnya nggak ada hehe.

Semuanya kena demam mudik. Baik yang pulang ke ujung pulau Sumatra atau yang “sekedar” menggelinding ke kota Bandung, semuanya sudah berkemas. Konsentrasi sudah susah diajak kompromi dengan deadline pekerjaan atau jadwal-jadwal rapat. Semua appointment dan rencana kerja di tunda: “nanti saja, ya, setelah lebaran!”

Saya salut dengan teman-teman yang rela menempuh jalur darat dan laut sebagai jalur mudik. Selain memerlukan kondisi fisik yang prima, naik bus melewati jalan lintas sumatra berdurasi tiga puluh jam! Belum lagi risiko-risiko bahaya yang harus dihadapi sepanjang perjalanan. Tapi tak apalah, demi bersua orang tua, para saudara dan teman-teman lama.

Selamat lebaran kawan-kawan, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita kembali suci. Taqoballalahu mina wa minkum!

Kabar bahwa Dinas Sosial DKI Jakarta menangkap 12 warga Jakarta yang memberikan sedekah kepada pengemis membuat banyak orang terkaget-kaget. Itikad baik bersedekah kok diganjar dengan denda dan kurungan penjara. Ternyata para warga yang tidak beruntung itu ‘tersandung’ Pasal 40 Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 7 Tahun 2008 tentang Ketertiban Umum, yang enforcement-nya mulai efektif dilaksanakan:

Setiap orang atau badan dilarang:

  1. menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  2. menyuruh orang lain untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
  3. membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil.

Hukumannya pun tidak main-main. Para warga ‘berhati mulia’ tersebut terancam pidana denda Rp100.000 sampai Rp20.000.000 atau kurungan 10 hari sampai 60 hari. Tindakan Dinas Sosial DKI Jakarta tersebut tampaknya bertolak dari sebuah premis sederhana: kalau tidak ada yang memberi sedekah, pasti tidak ada yang mengemis. Tapi persoalannya tidak bisa selesai hanya dengan bertumpu pada kalimat-kalimat hukum yang kaku.

    meraputih

    Menjadi pengemis atau gelandangan bukanlah cita-cita masa kecil. Tidak ada orang di dunia ini yang ingin merendahkan dirinya menjadi peminta-minta. Kita juga sepakat bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mengemis semata-mata adalah konsekuensi pahit dari keterpinggiran seseorang atau kelompok yang gagal secara ekonomi. Dalam tatanan masyarakat yang meletakkan kehormatan pada kekayaan materiil, pengemis dan gelandangan dicap sebagai kaum yang kotor dan kacau karena pencapaian ekonomi mereka rendah. Mereka secara sukarela menyingkir (disingkirkan?) dari lingkaran masyarakat kelas atas dan kelas menengah yang makmur dan sejahtera. Mungkin inilah apa disebut oleh Rhoda E. Howard (1995) sebagai “penyingkiran sosial.” Kondisi ini lantas menciptakan dua kelompok yang secara literal bertentangan tetapi ‘saling membutuhkan’ dalam konteks pengukuhan kelas sosial: ada peminta dan ada pemberi.

    Memasuki bulan Ramadan, jamak terjadi para pengemis dan gelandangan tumpah ruah ke Jakarta dari berbagai daerah. Jakarta sebagai pusat perputaran uang di negeri ini dianggap paling layak sebagai tempat berburu ‘rejeki’ dari warga-warga yang dermawan. Mumpung bulan puasa. Mereka memenuhi perempatan jalan dan lampu lalu lintas. Ada juga yang menyesaki angkutan umum seperti bus dan kereta api kelas ekonomi dengan berbagai cara: ada yang membagikan selebaran yang dilampiri amplop kosong, ada yang membawa bayi yang belum genap satu tahun sebagai umpan belas kasihan. Karena sudah kehabisan akal, bahkan ada yang menggunakan trik psikologis dengan setengah mengancam: “Daripada kami membunuh atau merampok, sudilah kiranya bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara memberi kami uang untuk ongkos pulang kampung!”

    Para warga yang dermawan secara naluriah ‘menjaga’ perbedaan kelas sosial tersebut dengan memberi sedekah, terlepas dari tujuan untuk meringankan beban hidup para pengemis dan gelandangan. Jika terjadi berlarut-larut, hal ini semakin memperkuat stigma kotor dan rendah terhadap para pengemis. Lebih dari itu, hal ini secara tak langsung mengajarkan mereka untuk tetap memelihara mental meminta-minta. Belum lagi fakta yang harus dihadapi bahwa sebagian besar dari kaum inferior tersebut sebenarnya adalah korban dari sindikat atau organisasi terselubung yang memasok mereka dari berbagai daerah. Mereka memanfaatkan kemiskinan untuk mencari keuntungan. Pemutusan mata rantai dengan memburu para pemasok tersebut harus dijadikan target operasi pertama oleh aparat penegak hukum, sehingga kemunculan pengemis dan gelandangan secara masif ke Jakarta dapat dicegah. Semangat Perda tersebut seharusnya digiring ke arah ini.

    Amanat Konstitusi
    Namun, tetap tidak bijaksana jika Perda ini diberlakukan tanpa dibarengi solusi apapun. Setiap orang yang mengganggu ketertiban sudah selayaknya dikenai sanksi, tanpa memandang apakah ia seorang gelandangan atau seorang direktur. Jangan sampai nafsu menangkapi orang membutakan aparat terhadap akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu kemiskinan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah mengharamkan ‘profesi’ sebagai pengemis, seharusnya jangan hanya bisa mengeluarkan fatwa, tetapi juga mampu memberikan alternatif-alternatif sebagai jalan keluar.

    Padahal dalam Pasal 34 UUD 1945 disebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Menjadi warga negara berarti berhak atas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tingkat kehidupan yang layak. Diasumsikan bahwa hal-hal tersebut wajib disediakan oleh negara, terutama bagi kelompok masyarakat (orang miskin) yang tidak bisa menyediakannya untuk diri mereka sendiri. Amanat konstitusi wajib ditegakkan, karena merupakan peraturan tertinggi di Indonesia.

    Perda tentang Ketertiban Umum ini seharusnya juga memberikan upaya-upaya preventif dan rehabilitatif agar para pengemis dan gelandangan tidak dijadikan komoditi oleh para sindikat yang tidak bertanggungjawab. Jangan sampai peraturan dibuat hanya untuk dijadikan alat merepresi, tetapi juga memberikan penanganan agar para pengemis dan gelandangan kembali menjadi bagian masyarakat yang memiliki harga diri dan mencapai taraf hidup yang layak sesuai dengan harkat martabat manusia.

    Dimulai dengan sebuah pertanyaan: Apakah film Harry Potter and The Half Blood Prince (HP 6) ini masih layak ditunggu sejak Warner Bros menundanya tujuh bulan lalu? Yang pasti novelnya sudah lama saya simpan di lemari karena HP 6 sudah terbit empat tahun yang lalu. Saya sudah nyaris tiga kali membaca buku setebal 607 halaman tersebut,  namun – seperti fans lainnya – sempat kecewa karena versi filmnya ternyata ditunda. Para penggemar Harry Potter juga sudah merasakan ‘serangan’ Stephenie Meyer lewat empat saga Twilight-nya yang tiba-tiba laku keras, bahkan versi film pertama literatur vampir tersebut sudah difilmkan – dan sukses besar.

    ron weasley berevolusi di harry potter 6

    ron weasley berevolusi di harry potter 6

    Tapi franchise Harry Potter, mengutip majalah Cinemags sepertinya sudah terkena mantra ‘anti-kritik.’ Apa pun yang mungkin dikatakan oleh para kritikus film, serial Harry Potter tetap saja laku. Terbukti, orang berbondong-bondong menonton film keenam ini sejak gedung bioskop dibuka sampai tengah malam. Dalam lima hari pertama sejak peluncuran pertamanya 15 Juli 2009, HP 6 sudah meraih US $391 juta! Sayangnya, HP 6 terkesan dibuat hanya untuk ‘menopang’ seri ketujuh yang merupakan kisah pamungkas, sehingga nilainya menjadi kurang sebagai sebuah film yang utuh.

    Pubertas
    Seakan sengaja dikontraskan dengan keadaan dunia sihir yang sedang dalam bahaya, seri keenam ini menampilkan sesuatu yang berbeda: para siswa tahun keenam Hogwarts memasuki masa pubertas; sesuatu yang tak bisa ditangkal oleh mantra sihir apapun. Berkat kreativitas penulis naskah Steve Kloves, pakem tradisional ditinggalkan. Film tidak lagi dimulai di rumah keluarga Dursley, namun di sebuah coffee shop subway, di mana Harry Potter terlihat sedang menggoda si pelayan (atau sebaliknya).

    Sahabat-sahabat Harry, Ron Weasley dan Hermione Granger juga tidak luput dari fenomena tersebut. Ron akhirnya berhasil mengakhiri ‘ketidakpopulerannya’ dan melepaskan diri dari bayang-bayang Harry ketika Lavender Brown ‘bergayut’ di tangannya. Selain itu, ia juga dipercaya untuk menjadi kiper tim Quidditch asrama Gryffindor. Si ‘kutu buku’ Hermione sekarang menjadi impulsif dan emosional karena cemburu melihat kedekatan Ron dengan Lavender. Kisah cinta monyet anak-anak Hogwarts tersebut menjadi semakin rumit ketika melibatkan Cormac McLaggen, Romilda Vane, Ginny Weasley dan Dean Thomas.

    Namun tanpa mereka sadari, Hogwarts perlahan-lahan menjadi tempat yang ‘gelap’ dan menakutkan. Antek-antek Voldemort, para Pelahap Maut (Death Eaters) terus berusaha menembus mantra pertahanan sekolah sihir tersebut. Hal ini disadari oleh Dumbledore, sehingga ia melatih Harry secara khusus, walaupun ia belum siap. Sebagai langkah awal, kepala sekolah sihir itu memperkenalkan Harry kepada salah seorang temannya bernama Horace Slughorn, yang memiliki ingatan yang berguna untuk menyingkap masa lalu Voldemort, sehingga kelemahannya dapat diketahui. Di samping itu, Harry juga ‘dibekali’ dengan buku teks ramuan aneh dengan nama pemilik ‘The Half-Blood Prince’, yang berisi catatan-catatan rahasia sehingga ia menjadi murid paling pintar di kelas Potions.

    Kisah Harry Potter, sebagai sebuah bildungsroman, memasuki tahap di mana proses pengembangan karakter utama berlangsung lama dan melelahkan, ketika kebutuhannya sering bertolak belakang dengan keinginannya. Ia ‘direkayasa’ oleh lingkungannya, sehingga tidak jarang gagal untuk berdiri sendiri. Sampai tahun keenam, Harry masih asal-asalan menggunakan mantra sihir, apalagi mengukur kekuatan lawan yang akan dihadapinya. Dalam teori Joseph Campbell, The Hero’s Journey (1985), sosok arketip utama, Hero (tidak bisa diterjemahkan sebagai Pahlawan), memang dibantu oleh seorang mentor atau guru. Ia memberikan ilmu, nasihat, latihan, bahkan senjata kepada Hero untuk menjalankan misinya. Namun, pada titik kulminasi waktu tertentu Hero harus berjuang sendirian tanpa kawalan sang mentor yang disebut The Wise Old Man tersebut. Dumbledore memang harus ‘dieksekusi’ pada HP 6 untuk memenuhi pola Hero’s Journey sebagai jalan menuju The Ordeal, tempat di mana ia harus menghadapi risiko sekaligus menyaksikan kematian sebelum meraih kemenangan. Hal ini juga menjadi semacam ‘a swift kick in the pants bagi Harry dalam mengatasi ketergantungannya kepada orang lain sehingga petualangan dapat dilanjutkan. Kedekatan, interaksi, dan emosi antara Harry dengan mentornya itu ditampilkan dengan sempurna dalam film ini.

    Draco Malfoy, yang merupakan tokoh antitesis Harry selama ini terpilih menjadi eksekutor pertama Dumbledore. Sementara semuanya sibuk mengendalikan hormon mereka, Draco mulai memisahkan diri dari geng Slytherin. Ia mulai frustrasi dengan beban yang diberikan Voldemort kepadanya untuk melakukan sebuah misi yang sangat berat tersebut. Namun fakta bahwa Snape, pada saat-saat terakhir, mengambilalih peran Draco semata-mata merupakan kemahiran pengarang dalam mempermainkan perasaan penonton. Film diputus di sini sehingga menciptakan misteri besar untuk cerita selanjutnya.

    David Yates sengaja menghapus pertempuran antara para  Pelahap Maut dengan penghuni Hogwarts dan upacara pemakaman Dumbledore dalam HP 6. Akibatnya film ini terasa kurang utuh sebagai sebuah cerita yang memiliki penyelesaian (ending) setelah klimaks. Tetapi kita semua tahu bahwa tujuannya hanya satu: agar film berikutnya menjadi lebih misterius dan ditunggu-tunggu. Bagaimana sebenarnya posisi Snape yang mengaku sebagai The Half-Blood Prince itu? Bisakah Harry bertahan tanpa Dumbledore? Atau apakah Hogwarts akan ditutup? Dalam sistem penceritaan, meminjam istilah Roland Barthes, HP 6 meninggalkan semacam kode hermeneutic bagi penonton dalam mengantisipasi Harry Potter and The Deathly Hallows episode I dan II.

    HP 6 bukan untuk ‘Newcomer’
    Sebagai sebuah drama, HP 6 adalah cerita yang stagnan dan mungkin agak membosankan. Ia penuh dengan adegan dan tempat yang spesifik, serta karakter minor yang tidak begitu jelas perannya. Banyak dialog yang terasa begitu textbook, kaku dan tidak alami, sehingga membuat kita bertanya-tanya: Apa saja yang dilakukan anak-anak ini selama hampir satu dekade? Selain itu, terdapat kesan ‘berpanjang-panjang’ dalam menampilkan kisah cinta anak-anak Hogwarts, sehingga bahaya besar yang sedang mengancam menjadi ‘terpinggirkan’ dan klimaks terus tertunda.

    Kali ini tidak ada lagi penjelasan-penjelasan detil mengenai suatu kejadian, karakter atau objek-objek yang ditampilkan. Penonton ‘harus’ sudah tahu plot cerita, latar, implikasi-implikasi dialog, dan lain sebagainya. Ternyata saya salah ketika menganggap bahwa HP 6 dapat menjaring penggemar baru tanpa perlu membaca buku. Salah seorang teman saya – non-fans – keluar dari gedung bioskop tanpa mengerti sedikitpun tentang film yang baru saja ditontonnya. Maaf teman, film ini ‘hanya’ diperuntukkan bagi para penggemar Harry Potter.

    Lumos!

    Karena terlalu sering menonton drama, saya hampir lupa bagaimana cara menikmati film Sci-Fi yang penuh adegan brutal dengan efek visual sepanjang cerita. Saya seringkali berganti-ganti posisi duduk, salah tingkah, bingung dan was-was kalau-kalau film ini ternyata buruk dan “Ya Tuhan, apakah saya akan membuang-buang waktu selama dua setengah jam di sini?” Untung saya nonton sendirian.

    megan fox and the machines

    Tapi bioskop itu selalu penuh sampai deretan bangku paling bawah dan tiketnya bahkan sudah habis empat jam sebelum tayang. Tandanya animo masyarakat begitu tinggi dan saya akhirnya mengantri demi menonton Transformers: Revenge of The Fallen (2009). Saya sudah memasang ekspektasi yang rendah walaupun ada nama Steven Spielberg dan Michael Bay di dalamnya, serta Megan Fox yang mungkin diekspos secara maksimal untuk keperluan visual semata.

    Ada yang tidak tahu Transformers? Generasi 1980an mungkin sudah akrab dengan serial kartun berjudul The Transformers yang dulu pernah ditayangkan di televisi lokal. Mereka adalah kaum robot yang berasal dari planet Cybertron, yang kemudian terpecah menjadi dua kubu: Autobots yang dipimpin oleh Optimus Prime (protagonis) dan Decepticons yang dipimpin oleh Megatron (antagonis). Para robot tersebut bisa bertransformasi menjadi berbagai bentuk kendaraan, perkakas, dan binatang. Mereka hidup berdampingan dengan manusia dengan ukuran yang elastis, bisa mengecil dan membesar. Semuanya mendapatkan energi dari sebuah ‘kunci’ yang disebut dengan Matrix of Leadership (ah, bagi yang tidak tahu apa-apa tentang Transformers, tidak usah pusing, karena masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan).

    Kembali pada prequel-nya Transformers, Megatron yang sekarat ternyata tidak mati. Ia kembali mengumpulkan energi dan menghimpun pasukan dari luar angkasa atas perintah The Fallen. Pada saat yang tepat, ia meluncur ke Bumi dan berhasil menamatkan riwayat sang Optimus Prime yang selama ini melindungi planet dari serangan Decepticons. Sedangkan Sam Witwicky (Shia LeBeouf) dan Mikaela Banes (Megan Fox) berada di tengah-tengah pertarungan kedua kubu tersebut dengan misi menghidupkan kembali Optimus Prime untuk pertarungan final melawan Megatron dan pasukannya.

    Yang terjadi kemudian adalah suara dentingan besi, ledakan besar, tabrakan keras dan deru peluru non-stop yang mendominasi, bagaikan orgasme tanpa henti. Semuanya diciptakan dengan efek visual CGI yang ‘mengerikan’ dengan kamera beresolusi tinggi. Robot-robot dalam Transformers membuat Power Rangers, Ultraman, Cyborg, Robocop, atau Terminators seperti karikatur kasar coretan anak SD.

    Walaupun penuh adegan kekerasan dan beberapa adegan hot, Transformers pada dasarnya adalah film anak-anak dengan rating PG-13. Namun, jangan mengharapkan dialog-dialog hebat atau akting memukau dalam film seperti ini. Itu sudah pasti. Situs RottenTomatoes hanya memberikan rating 21% dan menyebut Transformers: Revenge of the Fallen sebagai film yang “noisy, underplotted, and overlong special effects extravaganza that lacks a human touch.” Subplot-nya tidak pernah dikembangkan dan sangat mudah ditebak; mungkin dibuat untuk mengisi kekosongan beberapa menit ketika para robot sedang bersiap-siap untuk bertempur. Film ini seakan mengkhianati intelegensi.

    Tetapi Michael Bay tentu saja tidak mau berjudi dengan menampilkan adegan-adegan sentimentil ‘tidak penting’ dalam film ini. Di tengah kemelut robot-robot penuh nafsu tersebut, adegan manusiawi apapun yang ditampilkan akan sia-sia saja. Toh, penonton tetap tertawa-tawa walaupun leluconnya garing dan slapstick khas komedi toilet. Lalu terharu menyaksikan ending yang klise-nya minta ampun. Pesan-pesan moralnya yang kadang dipaksakan dalam cerita tetap membuat orang-orang mengangguk-angguk takzim tanda setuju. Dan di bioskop itu saya melihat sekelompok anak-anak bertepuk tangan ketika Optimus Prime kembali hidup!

    Sebagian orang mungkin perlu menyiapkan aspirin dan obat tetes mata untuk menonton film ini, lalu keluar dari gedung bioskop sambil memaki-maki. Tapi menurut saya, Transformers: Revenge of The Fallen dan film lain ber-genre sama memang murni ditonton untuk ditertawakan dan bukan untuk ditanggapi secara serius. Seperti halnya junk food, franchise Transformers memang populer, tapi bulan depan ia pasti akan terlupakan. Untuk sesaat, film ini mujarab untuk melepas lelah dan mengusir stres karena paling tidak selama dua setengah jam Anda tidak perlu memikirkan pekerjaan yang sedang menumpuk, debat politik Capres, virus Flu Babi, Manohara, atau kisah kawin cerai para artis yang setiap hari menjejali televisi.

    Cheers!

    Temaram dengan tone warna yang hangat dan keemasan, manis seperti madu yang membuat saya ingin ‘mencicipi’ layarnya, Vicky Cristina Barcelona* (2008) adalah sebuah drama komedi tentang dua orang turis Amerika yang sedang menghabiskan musim panas di kota Barcelona. Vicky (Rebecca Hall) ingin memperdalam kajian tesisnya tentang kebudayaan dan identitas masyarakat Catalan, salah satu etnik yang paling berpengaruh di Spanyol. Sedangkan Cristina (Scarlett Johansson) yang senang berpetualang, ingin mencari sesuatu yang baru, termasuk jati dirinya. Mereka mengunjungi museum setempat, arsitektur gereja Gaudi yang terkenal, menikmati masakan di restoran-restoran khas Catalan, dan malamnya duduk terbius oleh alunan gitar Asturias. Film ini memenuhi semua kebutuhan estetika yang ada: indah, hangat dan menggairahkan.

    Vicky Cristina Barcelona copia

    Tapi cerita sebenarnya baru dimulai ketika mereka bertemu dengan salah satu harta terbesar Spanyol: Javier Bardem. Ia memerankan Juan Antonio, seorang pelukis sekaligus sosialita lokal yang sedang jadi bahan pembicaraan masyarakat setempat karena baru saja bercerai dengan istrinya terkait masalah kekerasan dalam rumah tangga. Sebentar saja, Cristina sudah jatuh hati pada Juan Antonio hanya karena ia mengomentari mata dan bibirnya yang indah. Vicky awalnya menolak karena dua hal: Pertama, ia telah bertunangan dan akan segera menikah. Kedua, ia adalah seorang yang terpelajar, sedang mengejar magister, dan tidak mau dibodohi oleh seorang pria mesum yang tiba-tiba datang dan bilang, I’ll show you around the city. We’ll eat well, we’ll drink good wine, we’ll make love”.

    Syahdan, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke Oviedo menggunakan pesawat pribadi Juan Antonio. Walaupun menggerutu, Vicky akhirnya ikut berangkat dengan alasan “to protect Cristina from making a fatal mistake.” Di luar skenario, kencan Juan Antonio dan Cristina buyar karena Cristina keracunan makanan sehingga terpaksa dirawat. Justru Vicky yang akhirnya ‘terjebak’ dalam hubungan cinta dengan pelukis tersebut. Pola cinta segitiga tersebut terus berlanjut, sampai akhirnya Maria Elena, mantan istri Juan muncul di layar dan mengobrak-abrik plot membosankan yang telah dibangun dengan rapi dari awal.

    Selebrasi Cruz & Bardem
    Menarik untuk membahas keempat tokoh tersebut. Rebecca Hall memerankan Vicky, sebagai satu-satunya round-character dalam film ini. Tipenya lugas, berbicara dengan pilihan kata yang ‘terpelajar’ pada awal film berubah menjadi plin-plan dan penuh pretensi di tengah cerita, terutama ketika ia harus berbohong kepada Doug tunangannya atau ketika ia merepresi rasa cemburunya kepada Cristina karena memiliki Juan Antonio. Vicky berevolusi ketika ia akhirnya kembali memilih kehidupan ‘mapan’ dan realistis setelah mengalami ketidakstabilan identitas di Barcelona dengan segala pesonanya. Namun hal itu tetap dibawakan dalam aksen Amerika yang datar dan arogan oleh aktris yang juga bermain dalam film Frost/Nixon ini.

    Sedangkan Scarlett Johansson, ah, di mana pun ia tampil tetap saja lovable. Perannya dalam Vicky Cristina Barcelona sama sekali tidak bisa dibilang jelek karena karakteristik Cristina sepertinya memang dirancang seperti itu. Sulit untuk tidak membandingkannya sewaktu bermain dalam film Match Point (arahan Woody Allen juga) dengan karakter yang nyaris sama: muda, penuh hasrat namun tanpa tujuan. Ketika ia tinggal bersama Juan Antonio dan Maria Elena dalam satu rumah, ménage à trois, Cristina-lah yang paling sedikit membuat inisiatif dan manuver interaksi. Saya juga jadi mahfum kalau kecantikan Cristina langsung pudar begitu ia ‘diinterogasi’ oleh Maria Elena. Misalnya, ia hanya bisa mengatakan “ni hao ma” dalam bahasa Mandarin, padahal ia mengaku telah mempelajari bahasa itu. Mungkin ia hanya kurang improvisasi untuk mengimbangi para pemeran lain, karena sebagai satu-satunya yang berambut pirang, Cristina hanya akan memperkuat stereotip kejam bahwa “blonde is dumb.”

    Tentu saja, sepertiga terakhir dari film ini akhirnya benar-benar dikuasai oleh pasangan Bardem dan Penelope Cruz*. Akting keduanya begitu memukau, ‘kimia-nya’ luar biasa. Apalagi ketika mereka bertengkar dalam bahasa Spanyol yang cepat dan seksi itu; silabel ‘oo’ pada setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka membuat Vicky atau Cristina terpaksa melongo. Saya tidak bisa mengelak lagi bahwa tokoh Maria Elena yang diperankan Cruz ‘menelan’ Vicky dan Cristina hidup-hidup (dan tentu saja Cruz dapat Oscar untuk itu). Dengan durasi singkat yang diberikan padanya dalam film ini untuk peran seorang perempuan liar dan neurotik, ia sanggup menghadirkan karakterisasi yang kuat dan memorable.

    Sedangkan Juan Antonio yang diperankan Bardem berada di tengah-tengah mereka, mencoba untuk merangkul semuanya dengan kalimat-kalimat khas buaya darat. Baginya perempuan itu sama saja dengan kanvas untuk ia lukis. Ia bisa bebas berekspresi dan bereksplorasi di situ; mencoret-coret kanvas untuk membuat lukisan abstrak yang rumit, serumit hubungannya dengan Vicky, Cristina dan Marie Elena. Walaupun berbeda 180 derajat dengan perannya sebagai bandit dalam film No Country for Old Men, Bardem sangat berhasil. Lagipula, menurut situs Internet Movie Database, ia adalah satu-satunya pilihan Woody Allen untuk mengisi peran Juan Antonio.

    Menurut saya selebrasi pasangan selebritis tersebut tidak akan mencederai judul Vicky Cristina Barcelona, karena subjek dari cerita tersebut memang Vicky dan Cristina, serta Barcelona sebagai ‘karakter’ ketiga. Unik, karena Barcelona dalam hal ini mewakili dua tokoh, yaitu Juan Antonio dan Maria Elena yang melebur dalam cita rasa Catalan.

    Narator dan Ironi
    Kompleksitas karakterisasi yang unik tersebut ternyata tidak diimbangi dengan skrip yang berbobot. Film ini minim humor-humor verbal yang cerdas (witty) atau bahkan sarkastis khas film-film komedi Hollywood. Dialog-dialognya tidak terlalu banyak, terasa agak datar dan hambar, terutama pada paruh pertama. Saya selamat dari rasa bosan berkat durasinya yang cuma 96 menit. Mungkin film ini ingin menonjolkan keindahan latar kota Barcelona, tetapi ada ‘sesuatu’ yang hilang di sana.

    Sebagai gantinya Woody Allen, yang belakangan hobi membuat film di Eropa ini, memberi posisi seorang narator omniscient (yang mengetahui segalanya) kepada aktor Christopher Evan Welch. Ia ‘ditugasi’ untuk membeberkan kejadian–kejadian yang dialami oleh para tokoh kepada penonton, sehingga narasi yang disampaikannya seolah-olah seperti skenario pada setiap adegan. Narasinya mengingatkan saya pada chorus yang selalu hadir dalam setiap skrip drama Yunani Kuno. Saya tidak ingin menuduh bahwa kehadiran narator digunakan untuk menutupi skrip yang buruk, tapi penonton drama komedi tidak harus dipandu dengan cara seperti itu.

    Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah mengungkapkan hal tersebut sebagai “the foolish business of storytelling by ceaselessly bringing to the reader’s attention, explicitly or by allusion, the existence of an author” (What is Literature?, 1950). Lebih jauh, narator di Vicky Cristina Barcelona bisa dibaca sebagai ‘intervensi’ Woody Allen. Ia mengatakan apa yang akan terjadi dan dan menyimpulkan kejadian beberapa hari ke dalam satu paragraf. Jeda antara suara narator dan dialog para karakter membuat saya ‘hilang.’ Akibatnya film ini lebih banyak ‘menceritakan’ ketimbang ‘menampilkan’. Dan jujur saja, bagi saya suara sang narator yang semi-formal itu menjadi sangat mengganggu dan menyebalkan! Kalau memang kehadiran narator harus dipaksakan dalam film tersebut, mungkin akan lebih menarik jika ia merupakan salah satu dari para karakter, misalnya Judy, yang rumahnya digunakan oleh Vicky dan Cristina untuk menginap selama di Barcelona, sehingga ia cukup tahu mengenai kedua perempuan tersebut.

    Tetapi ada beberapa hal yang tetap belum terjawab, yang menyisakan ironi pada Vicky Cristina Barcelona. Misalnya, mengapa Vicky ingin menikahi pria kaya tapi membosankan yang selalu ‘mengganggunya’ setiap saat lewat telepon itu. Atau, untuk apa juga ia mengambil tesis tentang budaya Catalan, padahal tidak bisa berbahasa Spanyol. Atau absurditas yang ditunjukkan Cristina ketika ia mencoba membuat film berdurasi 12 menit yang berjudul “Why love is so hard to define?” padahal selama summer di Barcelona ia tak kunjung menemukan jati dirinya sendiri, alih-alih menemukan arti cinta.

    Atau tentang Juan Antonio, sang sosialita merangkap pelukis. Rumahnya yang penuh lukisan, bajunya yang selalu kotor oleh cat air, dan pergaulannya dengan teman-teman sesama artis, semuanya begitu kental dengan dunia artistik. Namun ia sama sekali tidak bicara tentang seni. Kita juga diberi tahu bahwa bapaknya adalah seorang pujangga, tapi tidak secuil pun puisi keluar dari mulutnya. Seni hanya ditempel sebagai pemanis cerita; motif dan simbol-simbol artistik digunakan hanya untuk menggambarkan Barcelona secara sempit. Ia seolah-olah mengatakan pada kita bahwa jika tinggal di Barcelona harus ada lukisan abstrak, puisi dan alunan gitar!

    Diringi dengan backsound ‘Barcelona’-nya Giulia y los Tellarini serta gambar-gambar menakjubkan dari latar salah satu kota paling eksotis di dunia oleh Javier Aguirresarobe, Vicky Cristina dan Barcelona sebenarnya adalah film yang indah dan enak ditonton. Namun sebagai bagian dari judul, ‘Barcelona’ tidak begitu diintegrasikan ke dalam cerita dan pengembangan para karakternya. Kutipan Maria Elena bahwa “only unfulfilled love can be romantic” terasa ironis mengingat ‘ketidakterpenuhan’ film ini. Seperti tidak terjadi apa-apa, “a passing thing”, seperti kata Vicky pada adegan terakhir, cerita selesai sebagaimana ia dimulai.

    *Vicky Cristina Barcelona mendapatkan Golden Globe Award 2009 untuk kategori Best Motion Picture – Musical or Comedy.

    *Penelope Cruz mendapatkan Academy Award 2009 untuk kategori Best Actress in Supporting Role.

    Next Page »

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.